rate untuk sponsored post
Advertorial,  Blogging and Social Media

[Update] Cara Menentukan Rate untuk Sponsored Post di Blog

rate untuk sponsored post

Sebelum begitu aktif di jagad blogosphere, saya tidak begitu ambil pusing dengan teman-teman yang menggunakan salah satu media sosial ini untuk meraup sejumlah rupiah. Toh bagi saya ngeblog adalah cara saya mengisi waktu luang. Saya hobi menulis blog dan bukankah hobi baru dilaksanakan kalau ada waktu luang? Namun, seiring waktu berjalan, tanpa terasa sudah enam tahun saya melang-langbuana sambil meninggalkan jejak di rumah maya ini. Blog yang dulu hanya dilirik oleh teman-teman yang blogwaking atau nyasar dari search engine, kini mulai diintip oleh berbagai brand yang hendak mempromosikan produk mereka di blog saya.

Awalnya saya menerima saja dengan tangan terbuka ketika sebuah perusahaan meminta saya untuk menulis tentang mereka di blog, bahkan saya tidak terpikir untuk meminta bayaran. Suatu hari, ketika sebuah travel agent meminta saya untuk mereview situs mereka di rumah maya saya ini, lagi-lagi dengan senang hati saya menuliskannya. Agak terkejut juga ketika mereka menanyakan rate blog saya. Wah, saya dibayar, ya? Karena tidak paham, saya menanyakan lagi kepada mereka berapa saya pantas dibayar. Meski bayaran saya hanya $10, waktu itu girangnya bukan main. Rupanya blog saya bisa menghasilkan juga ya. Padahal saya nggak ngerti tentang SEO dan cara me-monetize blog.

Baca juga : SEO For Lifestyle and Travel Blogger

Seiring berjalannya waktu, saya pun mulai bertanya-tanya tentang sponsorship article ini. Apalagi semakin banyak brand yang mengajak kerja sama. setelah bertanya-tanya pada blogger yang lebih expert, ternyata apa yang saya lakukan selama ini salah total. Seharusnya, sebagai seorang blogger, kita memiliki rate tersendiri untuk setiap blogpost yang kita buat. Jumlahnya? Tergantung dari tulisan dan reputasi blog kita. Akhirnya, saya pun mencari-cari cara bagaimana menentukan rate untuk tulisan yang disponsori ini sampai akhirnya saya menemukan tulisan keren dari Anabel, Are You Being Conned? Fair Sponsored Blog Post Rates and Best Practice Guidelines.

Sebenarnya, apa sih sponsorship article itu?

Jadi, tulisan yang disponsori (sponsorship article) adalah tulisan yang dipublikasi di blog kita dan kita mendapat bayaran. Tulisan tersebut bisa kita sendiri yang nulis atau telah ditulis oleh pihak sponsor.

Agar pembaca blog kita tahu kalau tulisan tersebut adalah iklan atau ada sponsornya, maka di akhir tulisan kita sebaiknya membuat disclosure “Tulisan ini disponsori oleh…”Tujuannya adalah agar pembaca tulisan kita itu tahu kalau tulisan tersebut adalah iklan/disponsori. Hal ini sangat penting dalam membangun kepercayaan si pembaca. Jangan sampai sudah cape-cape baca, mereka malah sebal karena tulisan tersebut adalah iklan. Federal Trade Commission (FTC) juga telah mengeluarkan sebuah regulasi untuk menambahkan #ad #sponsorship atau #paid pada setiap konten yang kita tweet, pin, atau posting.

Lalu bagaimana cara menentukan rate tulisan kita?

Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menentukan rate tulisan. Kalau saya sendiri, biasanya dalam menentukan harga, saya akan melihat lagi background perusahaan yang ingin mengajak kerja sama. Brand besar pasti memiliki dana yang cukup besar juga untuk mempromosikan produk mereka. Kalau pun dana yang mereka sediakan sedikit, biasayanya mereka akan menawar kembali dari harga yang kita berikan dan tidak jarang juga brand tersebut akan mundur dan say good bye.

Secara garis besar, jumlah pengunjung (visitor) dan Domain Authority (DA) & Page Authority (PA), page rank di google  sangat memiliki konstribusi yang tinggi dalam menentukan rate blog kita tersebut. Selain itu, keaktivan kita di media sosial seperti facebook, twitter, path, google +, dan lain-lain juga memberikan nilai tambah tersendiri.

Setelah mencari-cari berbagai referensi untuk menentukan rate blog, saya pun menemukan  beberapa formula yang dapat digunakan untuk menghitung rate blog. Meskipun ini punya luar negeri, setidaknya dapat memberikan sedikit gambaran untuk menentukan rate.

 sponsored-blog-posts-rates.gif

Guideline untuk rate/harga tulisan yang diponsori (Sumber : successfullblogging.com)

Ada juga cara menghitung rate dari blog parenting Babble yang bisa kita gunakan,

 # of page views + # of twitter followers ÷ page rank # x $ .01 ÷ 2 = your approximate sponsored post rate.

Kate McKibbin juga pernah membahas tentang cara menghitung rate di secretbloggerbusiness.com yaitu

Number of hours spent creating/writing the post x Your post creation hourly rate (aka $50) + Number of specialist hours spent aka styling and photography x Your specialist hourly rate (aka $100)

= This equals the bare minimum you should be charging.

ie: 2 x $50 + 1 x $100 = $200 (minimum Sponsored post cost)

Momblogger Kate juga mengulas berapa kira-kira rate yang bisa kita berikan jika ada tawaran sponsored post:

Minimum Sponsored post cost (as above) + (Average number of comments per post x $5) + (Average number of views per post x $1.50) + (Average number of Social Media shares per post x $5)

= Total value of your sponsored posts.

ie $200 + (20 x $5) + (500 x $1.50) + (10 x $5) = $1100 per Sponsored post

Selain itu, sebuah penelitian yang dilakukan IZAE terhadap social media sponsorship (SMS), didapatkan data pembayaran yang dilakukan oleh sebuah brand  terhadap blogger dan aktivis media sosial  yang mempromosikan produk mereka. Berikut ini adalah kisaran rate yang didadapatkan dari bagian pemasaran;

 Screen-Shot-2013-06-16-at-4.03.04-AM

Source: IZEA, 2012 SMS Survey

Nah, apakah rate tersebut bisa kita terapkan untuk klien dari dalam negeri? Tergantung. Tergantung besar tidaknya perusahaan tersebut dan tergantung siapa yang meminta. Mungkin untuk sebuah blogpost bahasa Indonesia sebanyak 300 kata, harga 100 dollar layaknya harus betul-betul dipertimbangkan. Saya rasa rate di atas terlalu besar untuk jika dibandingkan dengan rate rata-rata di negeri kita. Namun, tidak ada salahnya menawar jika memang rate yang ditawarkan oleh klien terlalu “murah” dan blog kita sudah cukup terkenal dengan pageview serta DA & PA yang mendukung.

Namun, sebelum memutuskan kerjasama dengan sebuah brand, saya setuju dengan apa yang dipaparkan oleh Anabel dalam Best Practice Tips for Sponsored Blog Posts, di antaranya adalah;

1. Start small

Kalau teman-teman belum pernah menerima tulisan dari sebuah sponsor, maka jangan berkecil hati, rajin-rajinlan ngeblog dan blogwalking agar tulisan dan pembaca tulisan kita semakin banyak. Insyaallah, suatu hari nanti akan ada sponsor yang mengajak kita kerja sama. Sebagai pemula, jangan berkecil hati kalau tulisan kita yang dihargai oleh pihak sponsor tidak seperti blogger lain yang sudah expert, start from small thing. Yakinlah, suatu saat nanti kita juga bakal seperti mereka.

2. Tentukan rate/harga sesuai dengan reputasi kita.

Semakin banyak tulisan review yang telah kita tulis, maka semakin besar pula peluang kita untuk menentukan rate yang sesuai dengan reputasi blog kita.

3. Pastikan pembayarannya.

Ada beberapa blogger yang tidak mau menulis tulisan yang disponsori tersebut sebelum dibayar di muka. Kalau saya sendiri, karena masih newbie juga, selama brand yang mengajak kerja sama itu bisa dipercaya dan lebih bagusnya lagi ada kontrak kerja sama, tidak masalah mereka membayar sebelum tulisan ditulis atau setelahnya, yang penting ada kejelasan.

4. Harus professional

Ya, meski tujuan kita ngeblog bukan untuk mencari uang, tapi ketika kita bekerja sama dengan orang lain, kita tetap harus professional misalnya dalam hal

  • Pembayaran
  • Postingan blog yang ditulis
  • Revisi tulisan
  • Kapan tulisan akan diterbitkan
  • dll.

Biasanya ketika mendapatkan orderan tulisan,  saya langsung menulis tulisan tersebut dan mempostingkan ke blog. Kalau ada judul atau isi yang kurang sesuai dengan klien, baru diedit. Tapi pernah juga waktu kerjasama dengan sebuah brand Indonesia, mereka meminta saya untuk menuliskannya di word dan mengirimkannya ke klien. Tulisan tersebut beberapa kali direvisi sampai akhirnya goal untuk diposting di blog. Tidak hanya itu, setelah tulisan selesai kita posting, alangkah baiknya kita kabari lagi perkembangan tulisan tersebut seperti pageview dan visitor hariannya ke klien.

5. Kualitas lebih penting dari harga

Saya biasanya menerima sponsorship article yang saya tulis sendiri berdasarkan tema yang mereka berikan. Rasanya beda aja kalau blog kita tapi yang nulisnya orang lain. Saya menghindari tulisan yang isinya banyak sekali link. Saya sendiri enggan membaca tulisan yang sangat banyak backlink dan SEO, pastinya pembaca tulisan saya pun demikian. Jangan sampai kita kehilangan pembaca blog hanya karena terlalu mengikuti keinginan pihak yang mengajak kerja sama.

6. Pembaca tetap yang utama

Ketika menulis artikel berupa review sebuah brand, kita harus memberitahu pembaca kita alasan kita menuliskan tulisan tersebut dan apa manfaatnya untuk mereka. Minta dukungan pembaca kita terhadap tulisan yang kita tulis tersebut. Tanpa pembaca, tulisan kita tidak ada apa-apanya.

7. Ajak untuk berkerjasama (lagi)

Setelah kita menyelesaikan kerjasama yang diberikan oleh klien kita, jangan lupa kabari mereka bahwa tulisan telah kita posting di blog, bagaimana pendapat pembaca kita, dan beritahu mereka kalau kita dengan senang hati membantu mereka di lain waktu.

8. Ikuti Google Guidelines

Jangan sampai kita di banned oleh google karena terlalu banyak backlink ke luar.

“Not all paid links violate our guidelines. Buying and selling links is a normal part of the economy of the web when done for advertising purposes, and not for manipulation of search results. Links purchased for advertising should be designated as such. This can be done in several ways, such as:

  • Adding a rel=”nofollow” attribute to the <a> tag
  • Redirecting the links to an intermediate page that is blocked from search engines with a robots.txt file”

9.  Pertimbangkan untuk bergabung dengan blog advertising  agency

Blog advertising agency ini biasanya akan membuat kerjasama dengan blog-blog besar dan blog yang dapat dipercayai untuk menjalankan campaign dari klien mereka. Dengan bergabung dengan agency ini akan memudahkan kita mendapatkan job tulisan untuk di review. Kalau di Indonesia salah satu contohnya adalah blogger perempuan network, sociobuzz, dan go viral.

10. Bangun kekuatan dan utamakan brand yang dapat dipercaya

Baru-baru ini saya menerima kerjasama dengan beberapa brand untuk direview di blog saya. sebenarnya dulu kalau ada yang nawarin juga mau, tapi sayangnya yang nawari itu brand yang iklan mereka tidak cocok untuk blog saya. contohnya saja rokok dan obat-obatan. Dua jenis iklan ini langsung saya tolak. Selain itu, saya juga sering membuka kembali situs brand yang hendak bekerjasama, jangan sampai brand tersebut hanya fiktif belaka.

Wah, selesai juga postingan saya tentang bagaimana menentukan rate untuk tulisan yang disponsori atau bahasa inggrisnya How much should charge for sponsored blog posts. Yang paling penting dalam menentukan rate adalah jangan sampai ada pihak yang dikecewakan dengan tulisan yang disponsori tersebut, tidak kita, pembaca, juga advertiser. Jangan takut menentukan rate kalau memang blog kita berhak dihargai sedemikian.  Yakinlah, waktu yang kita keluarkan, pikiran yang kita porsir, bahan tulisan yang kita tulis, dan tulisan yang kita hasilkan memang pantas dibayar oleh mereka yang menginginkan tulisan kita.  Namun, yang paling penting dari semua itu adalah tetap professional sebagai blogger.[]

rate untuk sponsored post

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

86 Comments

  • Azhar Ilyas

    sangat bermanfaat. bagi blogger pemula maupun blogger lama yang baru mengenali dunia blog marketing. jadi ingat ada koleksi buku blog marketing di pustaka pribadi yang masih jarang dibaca …

    • Liza Fathia

      Ooooo…itu ngaruh juga untuk menentukan rate, citra…gpp…posting terus ntar dikasih kok ranknya sama mbah gugel

  • monica rampo

    Mba Liza, salam kenal

    mantap mba artikelnya, lengkap gini..barusan ada yang nawarin product review ke saya, bingung, soalnya baru ini yang nawarin..eh ga nyangka ada yang nawarin juga..he he he..
    jadi ada bayangan deh setelah baca postingan mba Liza…
    terima kasih banyak ya mba..

  • Jamal

    Semenjak Google sudah tidak mementingkan Pagerank (PR) sejak 2014 karena tidak diupdate dan dikonsumsi untuk publik maka perhitungan sekarang lebih kepada PA dan DA mbak.

    Yah meskipun masih banyak menurut saya yang masih pakai PR sebagai acuannya sih.

  • Fajar

    wah kumplit bnt sis ulasannya. Blog saya dl jg sempat dapet tawaran dr agency cuman penawarannya waktu itu tdk saya respon. -___-

  • mas teguh

    saya kebetulan baru aja dapat tawaran sebagai blogger endorsment,.saya di tanya soal rate card,..saya bingung menentukan tarif agar klien bisa deal,..info ini sungguh nambah ilmu buat saya..trima kasih mbak Liza..salam blogger..btw,..saya suka artikel mbak “blog ku adalah rumah kedua ku”,..kapan2 saya juga mau bikin tulisan macam itu..bye

  • Nisa Alfarizi

    Wahh, ternyata banyak sekali point yang harus dijadikan referensi atas pemasangan iklan dalam sebuah website. Bukan hanya sekedar masang berdasarkan traffic bla bla bla.
    Kamsia Mba Liza.

  • Ruth Nina

    Terima kasih postingannya Mak, berguna banget ini untuk referensi kita yang mau monetize blog. Saya masih dalam tahap “menerima dengan tangan terbuka” kalau ada yang mau sponsored post haha. Tapi postingan ini mencerahkan.

  • Edison

    Saya dapat email seperti ini :

    “Saya ingin menanyakan berapa harga rate untuk postingan artikel di web/blog anda, dengan kondisi :
    – Artikel dari kami
    – Artikel dari anda”

    Karena bingung, akhirnya Googling dan nyemplung ke halaman ini.

    Lumayan buat pencerahan. Tengkyu

    • Liza Fathia

      Pertanyaan seperti itu memang sering ditanyakan oleh agency mas. Ya, disesuaikan saja dengan da dan pa blog. Semakin bagus tentunya ratenya semakin tinggi

  • Agung

    Terima kasih mba, tulisannya sangat mencerahkan, kebetulan saya baru mendapat e-mail dari pihak travel agent yang ingin bekerja sama, dan karena baru pengalaman pertama, saya pun malah bales e-mail dengan balik nanya harga yang kira2 pantes ke mereka, setelah itu baru nemu dan baca tulisan ini, salah yaa, harusnya baca tulisan ini dulu, baru bales e-mail, hehe,

    salam..

  • Dani Siregar

    Terima kasih banyak Mba, jadi ada gambaran sekarang. Sebelumnya bingung banget.. 😀

    Oh iya, btw, apakah perlu ada sejenis invoice gitu ndak ya Mba..?

  • azzahrarkamila

    Halo, makasih Mbak udah share ilmunya. Saya soalnya dapat tawaran juga untuk affiliate/nulis tapi rada bingung dalam nentuin rate-nya. Ada kemungkinan mau pasang iklan juga.
    Yang mau saya tanyakan, berhubung blog saya baru 2 tahun jalan, dan saya lebih mengandalkan organic traffic (selain karena saya emang belum ada rencana juga untuk mencoba meningkatkan traffic dengan paid traffic), saya agak ragu nerima tawarannya karena belum seoke itu blognya. Dulu saya memang pernah kerjasama bikin advertorial tapi pas saya masih bekerja di perusahaan digital media, sekarang sudah tidak lagi. Kalau Mbak gimana pengalamannya pertama kali di-reach untuk diminta menulis oleh sebuah brand? Terima kasih.

  • Liza Fathia

    pengalaman pertama, saya dikirim email untuk bekerja sama, rasaya senang banget ternyata blog saya bisa menhasilkan

  • Danan Wahyu Sumirat

    Aku sih awalnya bukan blogger yang terlalu memasang harga tinggi untuk blogposting karena aslinya nggak ngerti juga trafik , rate , DA dll. Sampai satu saat dikenalkan dengan emak2 blog yang bilang dengan DA segitu bisa jualan link yang kalau dikomulatif harganya lumayan fantastis untuk blogger yang nggak komersil macam aku.

    Jujur sekarang juga ngga pasang rate sampai 100 dollar, walau kata beberapa blogger . Mustinya dengan DA segitu harusnya di atas 100 dollar. Aku lebih ambil job nulis yang aku suka, asal aku suka nggak dibayar juga nggak apa-apa. Contoh bantu star up aplikasi karya anak muda.

    Terakhir tiba2 ada klien kasih rate 300 usd tanpa aku minta, lalu mikir apa rate aku segitu ya? Lalu berikutnya ada klien kasih harga segitu tapi aku tetap nggak menampik yang bayarannya kecil kalau aku suka kerjaannya…

    Intinya sih jalanan saja semua ini dengan hati , kalau rejeki ngga kemana

  • Monica Anggen

    wah, ilmu keren ini. Aku baru aktif nge-blog lagi nih dan banyak sekali ketinggalan mengenai page rate, DA/PA, bahkan kadang-kadang masih bingung waktu bikin new post, terus thumnail nggak muncul di FB (saat di share). Thanks ya Mbak karena sudah berkenan berbagi ilmu penting ini.

    Salam kenal

  • Retno

    yang bingung itu kalau menghadapi agency, minta rate, lalu dikasih harga murah malah gak balik. Tapi tiba-tiba ada yang ngasih job dengan rate tinggi dibanding lainnya. Disitu saya bingung, berapa sih Rate blog saya sebenarnya…

  • dianravi82

    Wahhhh ada rumusnya, keren. Berguna banget ini. Terima kasih, Mbak.
    Iya ya, aku dulu tiap dapat tawaran kerja sama selalu menanyakan kapan dibayarnya. Belakangan ini mulai lengah dan mulai merasakan belum dibayar-bayar. Hicks. Harus mulai tegas di awal lagi ah.

  • Tomi

    Secara garis besar dan teori, cara menentukan rate card diatas memang benar tapi belum bisa diaplikasikan 100% di Indonesia. Kalau di luar negeri soalnya blogger memang sudah suatu profesi.

    Kalau saya menentukan rate itu dari siapa dan apa yg akan diiklankan. Rate wajar yang penting akan ada banyak repeat order hehe

  • ajenangelinaa

    Makasih Mbakk. Tulisannya mencerahkan. Sip nanti mau coba juga ahh menerapkan rumus bloggingnya heheheh

  • Rohmahdg

    Langsung di bintangi.
    Dulu juga sempat bingung saat pertama kali dapat email kerjasama dari brand. Pas tanya2 ke teman2 blogger berapa biasanya kisaran harganya. Berhubung saya newbie juga blognya yg baru tLD, saya sesuaikan dg traffic blog. ya gitu dah, hingga sekarang,
    ternyata ada rumusnya ya mbak 😀

  • Fandhy Achmad Romadhon

    Tulisan dari mbak liza ini seolah memberi saya sebuah pencerahan, perihal bagaimana menentukan harga sponsor utk sebuah postingan.

    Iya saya setuju, pada awalnya mungkin penawaran dari sponsor itu memberi harga yg begitu murah, dan kecilnya nominal tsb terkadang mengusik sisi idealisme saya haha tapi seperti kata peribahasa “sedikit demi sedikit lama lama jadi bukit… ” awalnya sedikit mungkin seproses dgn waktu akan naik juga..

    Dan utk sponsor di blog, entah kenapa saya belum menjadikannya sebagai tolak ukur, sebagai tujuan utama, ya mungkin karena saya masih belum terlalu niat dan fokus pada hal. Sponsorship ini

  • andhikamppp

    Bookmark!!! Penting banget ini. Meski, ya, di sini. Kadangkala harga di samaratakan sih sama pemberi iklan juga.

    Btw, tambahan tips. Jangan menerima merk yg bersaingan dalam waktu yang berdekatan. Kurang pas rasanya.

    • Liza Fathia

      tips terakhir benar banget mas Dhika, jangan menerima merk yang bersaing dalam waktu berdekatan, bisa2 di black list kta

    • Liza Fathia

      enggak bisa dijadikan acuan juga mas dikki, semua itu kembali ke kredibilitas blog kita. kalau misalnya ditanya rate card, saya biasanya berpedoman pada ini

  • lendyagasshi

    Kemarin sempat diajak kerjasama sama sebuah brand. Sebenernya saya ngrasa gak cocok sama ideologi blog saya. Beberapa teman pun berpikir hal yang sama dengan saya.
    Tapi ketka kia meminta untuk undur diri, pihak pemberi job ini jadi terkesan menyulitkan.

    Bagaimana alasan yang tepat yaa, mba?

    *ujung-ujungnya saya dan teman-eman kerjakan juga siih….tapi kan gak dari hati tulisannya.

  • Diskonix

    Nice info! Tapi perlu hati-hati, DA dan PA itu seperti pisau bermata dua. Saat kita pasang harga tinggi dengan alasan DA tinggi, mungkin kita bisa mendapatkan bayaran lebih tinggi. Namun saat DA turun drastis, contoh kasus seperti beberapa bulan ini Moz update, mau gak mau harga turun juga. Untuk perusahaan yang mengerti betul dengan SEO tidak akan menggunakan DA & PA sebagai metrics utama, karena itu data dari third party di luar google, belum tentu relevan. DA PA mungkin jadi acuan, tapi banyak metrics lain seperti Trusflow (SEMRUSH), DR (Ahrefs), dll yang juga dipertimbangkan. Diluar semua metrics tersebut yang paling penting adalah 1) seberapa sering kita menulis / update (semakin sering semakin bagus, artinya artikel sponsor cepat terindeks, advertiser senang), 2) kualitas tulisan, 3) traffic, 4) social media. Ini sudah cukup buat kita pasang harga..

  • Anak Dagang

    Informasi yang sangat menarik dan mendidik mba. Salam kenal ya.
    Nwy, harus ada strategi untuk meraup untung dari sponsorship article ini. Jangan sampai tulisan yang kita buat dihargai seadanya, sementara keuntungan yang terus diperoleh oleh sponsorship jauh lebih besar karena sifatnya permanent.

  • Hendi Setiyanto

    sangat mencerahkan…aku kesasar ke blog ini karena nyari kata kunci rate card blog, bingung aja karena ditawari kerjasama dan pihak pengiklan nanya rate card-nya berapa hehehe

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: