Kesehatan

World Mental Health Day; Dignity in Mental Health

image

Hari ini, Sabtu 10 Oktober 2015, adalah Hari Kesehatan Jiwa se-Dunia. Yep, pada tanggal 10 pada bulan 10  sebagai World Mental Health Day. Setiap tahun tema yang diangkat pun berbeda-beda, yang pada dasarnya mengajak kita semua untuk lebih peduli kepada kesehatan jiwa. Pada momentum kali ini, tema yang diusung adalah Dignity in Mental Health.

Tahukah sahabat blogger semua, 1 dari 4 orang di dunia menderita gangguan jiwa. Itu artinya, jika kita duduk bersama tiga orang teman kita yang lain, maka salah satu dari kita pasti ada yang menderita gangguan jiwa. Berbicara dengan gangguan jiwa, pikiran kita janganlah langsung terfokus kepada mereka yang berjalan tanpa baju atau alas kaki di jalan, atau pada mereka yang tertawa sendiri, atau pada mereka yang sedang mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Mereka memang menderita gangguan jiwa, tapi gangguan yang mereka derita sudah  dan harus mendapatkan serius.

Kalau ada gangguan jiwa yang berat, pasti ada yang ringan, betul? Ya, memang benar, ada gangguan jiwa yang ringan, sedang dan berat. Nah, saya yakin, kita semua pasti pernah mengalami gangguan jiwa ringan. Cemas, misalnya. Siapa sih yang enggak pernah cemas? Entah itu saat ujian atau dalam kehidupan sehari-hari. Cemas ini termasuk gangguan jiwa ringan. Demikian pula dengan psikosomatis. Itu lho, kita merasa tubuh kita ini sakit padahal enggak sakit. Sudah ke dokter A sampai Z, sudah melakukan beranekaragam pemeriksaan mulai yang kampungan (ke dukun) sampai yang canggih sekalipun, tapi tetap enggak ada hasil apa-apa. Psikosomatis juga termasuk gangguan jiwa ringan. Demikian pula dengan depresi, narsis, perubahan mood, dan lain-lain yang mungkin kerap kita rasakan adalah bentuk gangguan jiwa ringan.

Beda gangguan jiwa berat dengan gangguan jiwa ringan apa saja? Nah, pada gangguan jiwa ringan, si penderita masih bisa membedakan yang mana kenyataan dan yang mana fantasi, lalu ia juga masih bisa berkerja dan berinteraksi sosial sebagaimana mestinya. Sedangkan pada gangguan jiwa berat adalah sebaliknya, si penderita sudah tidak bisa membedakan lagi yang mana kenyataan dan fantasi, ia juga tidak bisa bekerja dan berhubungan sosial.

Kesimpulannya adalah kita semua memiliki gangguan jiwa namun derajatnya berbeda. Namun, stigma dan diskriminasi terhadap penderita gangguan jiwa berat masih saja terjadi di berbagai belahan dunia. Padahal, orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) tersebut juga memiliki hak untuk mendapatkan perlakuan yang sama dengan orang normal.

Stigma yang berkembang di masyakarakat membuat para ODGJ semakin terpuruk. Penolakan yang terjadi pada masyarakat membuat ODGJ yang sudah stabil kembali mengamuk. Ya, tidak jarang, perlakuan masyarakat yang mengucilkan penderita gangguan jiwa membuat ODGJ ini enggan berobat karena malu. Begitu juga dengan keluarga mereka, karena malu memiliki anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa berat, akhirnya si penderita dipasung di dalam kamar khusus yang lebih mirip seperti kandang. Tidak sedikit pula keluarga yang enggan menerima ODGJ yang telah dirawat di RSJ dan sudah bisa pulang.

Meskipun penderita gangguan jiwa berat tidak bisa disembuhkan, tetapi bisa diobati. Mereka bisa tetap hidup seperti orang normal asalkan rutin minum obat. Toh, banyak juga penyakit kronis lain yang memang tidak bisa disembuhkan tapi bisa dikontrol dengan obat-obatan. Hipertensi dan Diabetes Mellitus misalnya. Lantas, kenapa kita harus membeda-bedakan mereka yang mengalami gangguan jiwa?

Oleh karena itu, tema Dignity in Mental Health cukup mewakili harapan para penderita gangguan jiwa. Mereka juga punya harga diri dan kita harus menghargai mereka. Caranya? Bisa kita mulai dari rumah kita sendiri dengan mengajari anak-anak kita untuk tidak memandang remeh mereka yang terganggu jiwanya. Mengajari anak kita bahwa penderita gangguan jiwa bukankah objek untuk dijadikan bahan olok-olok atau yang harus ditakuti. Mengingatkan keluarga kita, bahwa kita semua berresiko menderita gangguan jiwa, walaupun itu gangguan jiwa ringan. Dengan demikian, akan timbul rasa kepedulian terhadap para ODGJ dan semakin mawas diri agar terhindar dari gangguan jiwa ini. Salam sehat jiwa.

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

4 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: