Welcome to The World, My Baby Girl

We are so excited to announce the arrival of our baby girl, Naqiya Rumaisha Marthoenis, born October 31 at 03.05 pm. She weighed 2,700 grams,  48 cm long and had a full head of beautiful dark hair. She is so incredibly sweet, she loves to sleep and be held, which is just perfect because I never want to put her down! 😉

image
Naqiya saat baru lahir digendong ayahnya

Alhamdulillah, puji syukur tak henti-hentinya kami panjatkan kepada Sang Pencipta atas anugerah terindah yang Dia berikan pada kami. Naqiya Rumaisha, bayi mungil nan menawan itu kini menjadi penyejuk mata dan menghiasi hari-hari kami. Semoga ia menjadi wanita yang shalihah dan bermanfaat untuk sesama. Amiin.

image

Keinginan untuk melahirkan normal pupus sudah ketika cairan ketuban pecah dini. Ya, tepat diusia kandunganku 38 minggu, cairan ketuban tiba-tiba merembes. Tak hanya itu, kontraksi yang dinanti juga tak kunjung hadir meski saya sudah diobservasi selama 24jam di ruang bersalin salah satu rumah sakit swasta di Banda Aceh. Air ketuban yang terus merembes dan persalinan yang tidak maju akhirnya menjadi indikasi kalau saya harus segera di operasi caesar. Terkejut? Karena berlatar belakang tenaga medis, saya sudah menduga kalau ini adalah jalan terakhir. Percuma diinduksi kalau kontraksi dan bukaan sama sekali tidak ada. Bahkan saya merasa sehat-sehat saja walau ketuban terus merembes. Dan kalau ditunggu sampai muncul kontraksi, maka janin di kandungan akan kekurangan cairan amnion bahkan kering sama sekali. Bisa dibayangkan apa jadinya.

wpid-img_20141105_195317.jpgAkhirnya pukul dua siang setelah shalat Jumat, saya pun didorong ke kamar operasi. Takut? Sudah pasti. Meski saya mencoba untuk tenang, ketakutan masih saja menghantui. Memang, kamar operasi bukanlah sesuatu yang baru bagi saya. Beragam kasus dari yang paling ringan sampai berujung pada kematian pernah saya saksikan di atas meja operasi. Namun, membayangkan diri ini menjadi sasaran jarum besar untuk anastesi spinal sang dokter bius dan menjadi incaran pisau bedah sang dokter kandungan, nadi ini berdetak lebih kencang. Belum lagi kontraksi yang mulai muncul saat saya dibaringkan di atas meja datar dengan tangan kanan dipasangkan manset yang terhubung ke monitor dan tangan kiri tertancap jarum infus.

Syukurnya, dokter bius adalah dokter perempuan yang pernah mengajari saya ketika mahasiswa, assiten bedah tidak lain adalah teman suami, dan dokter kandungan masih kerabat dengan saya. Karena dibius setengah badan, maka saya pun sadar penuh dan tahu apa yang para dokter dan perawat itu lakukan. Sambil terus bermunajat, saya bisa membayangkan apa yang sedang mereka lakukan.

Karena suami seorang Ners (walau lebih senang disebut peneliti) maka beliau diizinkan masuk ke ruang operasi. Kehadiran suami sungguh membuat saya semakin kuat. Lebih-lebih ketika mendengar suara tangisan Naqiya. Semua ketakutan sirna. Ternyata, ada dua lilitan tali pusat yang membuat bayi mungilku tidak bisa turun sehingga harus dilakukan c-section. Dari ruang resusisitasi bayi, saya bisa mendengar tangisan Naqiya yang begitu menggelegar dan suara adzan dari Bang Thoenis yang nyaring.

Satu jam, operasi operasi pun selesai. Hanya saja, tubuhku tiba-tiba mengeluarkan reaksi alergi. Kedua mataku tiba-tiba bengkak. Angiooedema. Bibirpun demikian.  Rupanya saya alergi antibiotik dan antinyeri yang disuntikkan saat operasi. Syukurnya itu terjadi setelah operasi. Setelah diberikan antialergi, semua kembali normal.

Ketika efek biusnya hilang, saya hanya merasakan sakit sedikit di luka operasi. Mungkin kehadiran Naqiya membuat rasa sakit di tubuh sirna. Sayangnya, saya tidak berhasil menyusuinya pertama kali. Puting datar dan ini adalah pertama kali saya menyusui membuat saya gelagapan. ASI juga belum keluar karena sebelumnya saya tidak pernah melakukan pemijatan. Lagi-lagi beruntungnya saya yang memiliki suami seorang perawat (walau berprofesi sebagai peneliti), berkat ilmu yang ia pelajari saat duduk di bangku SPK sampai PSIK, ia melakukan pemijatan dan mengajari saya cara menyusui dengan benar. Tak hanya itu, google dan youtube pun menjadi dewa penyelamat kami yang masih newbie 🙂

Sekarang, Naqiya sudah sepuluh hari. Alhamdulillah, ia tumbuh sehat, isapan saat menyusui pun begitu kuat. Gerakannya sangat aktif ketika terjaga. Dan ia hanya menangis atau merengek ketika haus atau popoknya basah. Selebihnya, Naqiya sangat baik budinya 🙂

image

Anyway, thank you so much for all of the well wishes! I can’t tell you all how much we appreciate it, we have really felt so overwhelmed with love from everyone! I am excited to continue sharing our journey with you as we take sweet Naqiya home.

Published by Liza Fathia

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

Join the Conversation

25 Comments

  1. Alhamdulillaah, sekali lagi selamat ya, Liza dan suami…semoga Naqiya menjadi anak shaleha seperti doa kedua orangtuanya. Aamiin. Dimana posisi sekarang?

  2. Alhamdulillah…selamat Liza dan bg Thoenis.
    Beu shalehah aneuk dan seulamat donya ahirat.

    Ponaan baru GenX lagi? 🙂
    Btw,
    Meuhie Mak, tapi deungon idong Ayah nya
    haha

  3. Selamat ya buat LIza dan Marthoenis 🙂 Semoga doa-doa yang dipanjatkan untuk ananda diijabah Allah…

  4. hallo dede naqiya, welcome to the world, apapun proses persalinannya yg penting Ibu dan Bayi sehat mak, welcome to the club

  5. Hai Naqiya…
    Selamat datang. 🙂

    Saya membaca post ini jadi tahu persalinan. Perjuangan banget, beruntung ada suami yg siaga.

Leave a comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: