“Liza, berapa nilai yang kamu berikan untuk diri kamu sendiri?”
Pertanyaan ketua program studi itu terus terngiang di kepala saya. Dan dengan bangganya saya menjawab 85. Saya menilai usaha yang saya lakukan pantas dinilai seperti itu.
“Sayangnya penilaian kami tidak seperti itu, Liza. Kamu tidak lulus dan syukurnya masih diberikan kesempatan untuk mengulang. Hari ini bersama angkatan di bawahmu.”
Entah kenapa akhir-akhir ini saya tidak berani untuk terlalu optimis dan kenyataan kalau saya bakalan tidak lulus itu sudah saya persiapkan jauh-jauh hari. Bahkan, alih-alih berpikir aku harus lulus, saya lebih mempersiapkan diri bagaimana jika tidak lulus sehingga ketika Pak KPS mengatakan saya tidak lulus, saya pasrah saja. Sedih sih dan membuat saya kepikiran hingga tulisan ini pun tercipta.
Saya sempat berpikir satu kegagalan ini akan terus menempel di kepala saya lebih lama daripada semua hal baik yang pernah saya capai.
Bukan karena ujiannya paling sulit.
Tapi karena saya tahu saya sebenarnya bisa lebih baik dari itu.
Ketika saya dinyatakan tidak lulus, yang paling menyakitkan bukan pengumumannya.
Bukan nilai akhirnya.
Bukan bahkan fakta bahwa saya harus mengulang.
Yang paling menyakitkan adalah pikiran saya sendiri setelahnya.
Semua kalimat yang muncul di kepala:
“Kenapa cuma saya?”
“Kenapa saya tidak bisa tampil maksimal?”
“Kenapa saya tidak melakukan hal-hal yang sebenarnya saya tahu harus ditanyakan?”
“Kenapa waktu itu saya tidak berpikir lebih jernih?”
Ujian kasusnya hanya 15 menit.
Cuma 15 menit.
Tapi di ruangan itu, 15 menit terasa seperti waktu yang terlalu cepat untuk berpikir, terlalu sempit untuk menggali, dan terlalu panjang untuk menyaksikan diri sendiri perlahan kehilangan arah.
Saya mengulang-ulang adegan ujian itu di kepala seperti kaset rusak.
Mencari di mana saya salah.
Mengingat setiap pertanyaan yang tidak saya gali.
Setiap detail yang terlewat.
Setiap momen ketika saya tahu saya bisa melakukan lebih baik, tapi ternyata tidak.
Rasanya memalukan.
Rasanya mengecewakan.
Rasanya seperti semua usaha yang sudah saya lakukan mendadak tidak berarti.
Lalu ketika saya diberi kesempatan untuk mengulang, jujur, awalnya itu pun tidak langsung terasa melegakan.
Karena kesempatan kedua kadang bukan cuma tentang harapan.
Kadang itu juga berarti saya harus kembali menatap kegagalan yang belum sempat saya cerna.
Harus kembali melihat bagian diri saya yang berantakan.
Harus kembali duduk dengan rasa malu, rasa takut, dan pertanyaan:
“Kalau nanti saya gagal lagi bagaimana?”
Tapi setelah beberapa waktu, saya mulai menyadari sesuatu.
Kesempatan mengulang ini bukan sekadar “ujian kedua”.
Ini adalah kesempatan untuk datang lagi dengan versi diri yang lebih jujur.
Lebih sadar titik lemahnya.
Lebih paham bahwa ilmu saja kadang tidak cukup kalau kepala sedang penuh, waktu tidak terkelola, dan rasa cemas mengambil alih ruang berpikir.
Saya masih kecewa dengan kegagalan itu.
Saya masih tidak bangga harus mengulang.
Tapi saya juga belajar bahwa gagal sekali tidak otomatis menghapus semua hal yang sudah saya perjuangkan selama ini.
Dan diberi kesempatan kedua bukan berarti saya lemah.
Mungkin justru itu kesempatan untuk membuktikan bahwa saya bisa jatuh, merasa hancur, malu, kecewa, lalu tetap kembali duduk, belajar lagi, dan mencoba lagi.
Tidak semua orang akan melihat perjuangan di antara gagal dan bangkit.
Tapi saya tahu bagian itu nyata.
Dan mungkin, justru di situlah ujian yang sebenarnya.
Leave a Reply