Sebuah penjepit rambut berwarna putih, seharga 141 ribu, nyempil diantara jepitan rambut lainnya seharga 14 ribuan, dan aku mengambilnya, tanpa sengaja
Keseeeel…

Assalamualaikum. Halo teman-teman. Apa kabar? Saya doakan kalian semua dalam keadaan sehat raga dan sehat mental juga.
Sejak tadi malam, entah kenapa naluri ingin menulisku terasa sangat menggebu. Keinginan untuk menceritakan apa yang saya alami kemarin sepertinya harus segera saya tumpahkan dalam bantuk narasi-narasi tulisan. Saya sudah mengungkapkan dalam bentuk verbal ke teman-teman perihal kejadian itu tetapi rasanya belum sempurna jika saya belum menulisnya di sini, di rumah kedua yang hampir tidak pernah saya kunjungi.
Saat ini saya sedang di Medan untuk mengikuti acara Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Regional Sumut-Aceh. Sebagai PPDS, mengikuti kegiatan ilmiah seperti ini juga menjadi salah satu kewajiban kami sebagai mahasiswa. Tidak hanya berpartisipasi pasif sebagai pendengar seminar, tapi kami juga dituntut untuk ikut serta dalam kegiatan lomba poster dan presentasi oral. Saya ikut serta dalam presentasi oral untuk ajang kali ini. Seru sih rasanya berdiri di panggung utama kegiatan sambil mempresentasikan hasil penelitian, tapi rasa cemas ketika panitia mengumumkan waktu tinggal 1 menit kadang membuat jantung berdegup kencang dan nafas berhembus cepat. Sepertinya saya harus sering-sering ikut kegiatan ini agar bisa meritmekan kembali detak jantung dan hembusan nafas.
Di sela-sela mengikuti acara seminar di Hotel JW Marriot, tentunya kami tidak melewatkan untuk menyebrangi jalan dan cuci mata serta menonton bioskop di Podomoro Deli Park yang memang lokasinya di seberang hotel. Selain itu kami juga menginap di apartemen Podomoro yang berlokasi sama dengan mallnya. Maklum, di Banda Aceh mallnya kecil dan tidak ada bioskop. Kapan lagi bisa merasakan nikmat duniawi, betul tidak?
Setelah menonton film Viralinnya Warkop DKI Reborn yang menurutku lucunya kurang mengena di hati, saya dan teman-teman singgah sebentar di toko pernak-pernik. Sekalian cari oleh-oleh untuk Naqiya dan Queeva, pikirku saat itu.
Pas banget, di toko itu menjual berbagai aksesoris anak remaja seperti gantungan kunci, karet rambut, bando, jepitan rambut, kalung, dan banyak pokoknya. Saya mengambil 3 bando yang harga per-item-nya tidak sampai 20ribu. Lalu melihat-lihat jepitan rambut dan harganya juga belasan ribu. Saya mengambil 2. Lalu saya membeli kalung dengan liontin huruf Z untuk ARTku yang bernama Zahwa. Harganya 50ribuan. Dan selesai.

Saya pun menuju kasir untuk membayar. Satu persatu belanjaan saya discan dan sedikit heran dengan jepitan rambut warna putih yang dikemas dengan plastik. Kenapa dia diperlakukan istimewa sedangkan jepitan satu lagi tidak. Namun, saya tidak begitu peduli. Dan alangkah terkejutnya diri ini ketika kasir mengatakan total belanjaan saya mencapai 300ribu.
“Hah? Ngga salah?” Saya mencoba mengkonfirmasi. “Yang mana yang mahal? Bukannya ini semua ngga sampai 200ribu?”
Lalu kasir itu mengatakan bahwa jepitan rambut berwarna putih yang sudah dibungkus dengan plastik itu yang mahal. Saya masih tidak percaya dan melihat lagi dengan seksama. Hah? 141 ribu? Bukannya 14 ribu?


Karena tidak mau ribut, saya pun membayar total belanjaan saya dengan perasaan yang sangat kesal. Sebenarnya ada satu barang yang ingin saya beli lagi yaitu tas laptop. Tapi karena harganya diatas 100ribu, saya tidak jadi ambil. Dan sekarang, saya harus membayar 141 ribu untuk satu jepitan rambut yang awalnya saya duga 14.100. Saya tidak nelihat angka nol setelahnya lagi karena jepitan itu ditempatkan diantara jepitan rambut seharga belasan ribu.
Tina temanku mengajak untuk protes karena itu curang. Lalu kasir itu menjelaskan kalau jepitan itu bermerk marble. Sayapun menjawab,” kalau yang 15ribu juga merk yang sama. Kenapa bisa jauh sekali berbeda harganya? Ini curang namanya. Masak kalian selipkan produk yang cuma beda bentuk dengan merk yang sama tapi harga 10x lioat diantara produk yang harganya 15ribu.”
Dengan logat Medannya kasir itu juga tidak mau kalah,” ini tidak bisa dibatalkan lagi, Kak. Kalau dibatalkan maka gaji kami yang dipotong.”
Sebenarnya saya masih tidak rela tetapi saya berpikir berapalah uang 100ribu itu, mungkin akan ada rezeki lain dari Allah dibalik kemalangan ini. Mungkin saya yang kuranf teliti dalam mengambil barang dan menganggap semua jepitan rambut berharga sama dan kenyataannya ada satu yang diselipkan dengan harga 10x lipat dari harga yang lain. Ibarat hidup juga agar tidak terlalu percaya sama orang karena diantara yang baik-baik pasti ada yang kurang baik.
Dengan perasaan kesal, saya kembali tempat beragam jepitan rambut dipajang. Melihat kembali harga-harga aksesoris rambut itu satu persatu. Daaan, di sela-sela jepitan rambut belasan ribu itu, saya menemukan lagi satu yang harganya 10x lipat juga. Ingin rasanya memviralkan toko tersebut tetapi ah yasudahlah. Semoga ada ibrah dibalik semua ini.
Btw, ketika sampai ke rumah di Banda Aceh dan memberikan oleh-oleh kepada kedua anak gadis, saya berpesan agar mereka tidak menyentuh jepitan rambut seharga 141ribu. “Mamak mau memuseumkan jepitan itu sebagai barang langka yang sangat bernilai harganya.” Sekian.
Leave a Reply