Feature,  Traveling

Romantisnya Naik BE ke Lhokseumawe

Ngga terasa sudah empat hari saya dan suami, bang Tunis, tinggal berdua saja di rumah kontrakan yang terletak di Gandapura, Bireuen. Sejak menikah 30 November silam sampai penghabisan tahun 2012, kami masih menjadi penghuni PMI alias pondok mertua indah. Saya dan suami harus rela bertemu setiap akhir pekan, entah itu di rumah Tangse atau rumah mertua di Seulimum. Maklum, saya kan bertugas di Bireuen dan suami tercinta sedang melakukan penelitian di Banda Aceh. Ketika penelitian suami selesai dan tinggal menyelesaikan laporan, maka kami pun bisa tinggal berdua.

Karena masih menjadi penghuni baru, belum ada kompor serta  peralatan memasak lainnya membuat saya dan suami menjadi pelanggan setia warung nasi di Grugok, Gandapura. Saban pagi kami menyantap nasi guri, siang menyantap beragam hidangan termasuk sate Grugok yang terkenal, dan malam kadang-kadang makan mie Aceh. Ah, sungguh nikmat menjadi pengantin baru.

Nah, pagi tadi seperti pagi-pagi sebelumnya, kami menuju warung yang menjual nasi guri langganan kami. Berhubung hari sangat cerah, kami memutuskan untuk berjalan kaki. Tidak jauh sebenarnya, tetapi terkadang sudah keenakan naik motor, jadi malas jalan kaki. Namun tidak untuk pagi ini. Kami menyantap nasi guri sambil membaca Koran Serambi Indonesia di warung. Dulu, saya paling risih makan di warung. Soalnya serasa banyak mata yang memandang. Tetapi sekarang, santai aja. Ada suami di depan. Selesai makan dan menunggu perut mencerna sepiring nasi guri, sebuah bus BE (Bireuen Express) lewat di depan warung.

“Abang. Naik BE, yuk!” ajakku pada suami.

“Ayuk!” jawab bang Tunis tanpa pikir panjang.

Kami segera membayar uang nasi dan melesat cepat ke pinggir jalan, menunggu BE lewat. Tidak masalah belum mandi dan belum beresin rumah, yang penting pagi ini kami naik BE. Sejenak, bus yang kami tunggu tiba. Langsung saja saya dan Bang Tunis menaikinya lewat pintu belakang. BE kalau pagi selalu penuh dengan karyawan dan anak sekolahan yang akan menuju Aceh Utara dan Lhokseumawe. Menumpang BE menjadi pilihan mereka karena lebih cepat, hemat, dan tidak menguras tenaga. Ongkosnya hanya lima ribu dari Gandapura ke Lhokseumawe. Semua penumpang BE rapi kecuali saya, bang Tunis, dan kernet, hehe. Maklum aja ya. Karena penuh, terpaksa saya dan suami berdiri di bagian belakang. Tak lama, saya mendapatkan tempat duduk di bagian bontot sedang bang Tunis masih harus berdiri.

Di dalam bus, kami disambut oleh iringan lagu Singkong dan Keju yang dipopulerkan Koes Plus. Aku suka jaipong, kau suka disko, eee, eee. Aku suka singkong, kau suka keju, eee, eee. Kami berdua terbahak-bahak mendengar lagu itu sambil ikut bernyanyi. Setelah itu beragam lagu nostalgia lainnya pun ikut diputar.

Sudah lama juga saya dan suami tidak menumpangi bus ukuran sedang ini. Sejak mobil L300 semakin merajalela dan menjadi angkutan kota dalam propinsi, populasi BE semakin sedikit dan hanya dijumpai di seputaran Bireuen-Lhokseumawe. Sedangkan ditempat lain, BE nyaris tidak ada. Sebenarnya, untuk kenyamanan, BE lebih nyaman dan aman dibandingkan dengan L300 yang suka kebut-kebutan dan nyelip sana-sini, tetapi untuk kecepatan L300 masih menjuara. Selain itu, kalau naik BE, penumpang harus turun di pinggir jalan atau terminal, sedangkan kalau naik L300, penumpang akan diantar sampai ke tempat tujuan.

Tidak terasa, kami tiba di Lhokseumawe setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit. Karena tidak ada arah dan tujuan, kami pun turun di tempat pangkalan BE yang terletak di Cunda, agak sedikit jauh dari kota Lhokseumawe.

“Kita jalan kaki ke kota saja, Dek.” Ajak bang Tunis.

Saya pun mengangguk pasti.

“Sanggup?” bang Tunis ragu akan predikat tukang jalanku.

“Sanggup dong. Gini-gini adek juga tukang jalan. Disuruh jalan sejauh apapun Adek sanggup. Asalkan ngga disuruh lari.” Jawabku mantap.

“Baiklah kalau begitu. Kalau tiba-tiba ngga sanggup gimana?”

“Abang gendong lahhh.”

Kami menyusuri jalanan Cunda sampai akhirnya tiba di kota Lhokseumawe. Lalu berjalan lagi ke taman kota. Di sana kami berhenti sejenak sambil menaiki ayunan yang ada di taman yang terletak di tengah-tengah kota yang dulunya Petrodollar itu. Berjalan di trotoar sambil berpegangan tangan ternyata menarik perhatian orang-orang. Semua pengguna jalan seakan melihat ke arah kami. Hm, apakah mereka iri dengan kami atau merasa aneh melihat sepasang kekasih yang mungkin kurang kerjaan berjalan kaki panas-panas di kota itu. Entahlah. Tapi memang, hanya kami berdua yang berjalan kaki. Selebihnya menggunakan kendaraan.

Setelah melepas lelah di taman kota, kami kembali berjalan. Kali ini kami berhenti sampai di depan halte tepat di samping mesjid raya Lhokseumawe. Lalu duduk di sana sambil menertawakan kegilaan kami. Tak jarang supir kendaraan umum memberhentikan angkutan mereka untuk menawarkan tumpangan, tapi sayangnya kami tolak. Hanya ada kami berdua di halte itu setelah seorang siswa perempuan yang sebelumnya juga di sana dijemput oleh seseorang. Lagi-lagi, kami serasa menjadi objek perhatian. Hmm.

Setengah jam di sana, kami pun memutuskan untuk pulang. Keringat sudah bercucuran di badan dan waktu Jumat akan segera datang. Bang Tunis harus ke mesjid untuk jumatan. Karena matahari sudah semakin terik, kami pun memutuskan untuk menumpangi becak.

“Pak, ke pangkalan bus BE berapa ya?” tanyaku dalam bahasa Aceh.

“Wah, itu jauh. Ke Cunda sana.”

“Memangnya berapa, Pak?”

“Tujuh ribu.”

Tanpa tawar menawar, saya dan Bang Tunis langsung melompat ke atas becak. Benar saja. Jarak Cunda dari tempat kami berada sangatlah jauh.

“Berarti, kita udah jauh sekali jalannya ya, Bang?”

“Iyalah, waktu jalan kita ngga ada tujuan. Ngga nyadar udah sejauh ini. Tapi kalau pulang jalan kaki pasti ngga sanggup lagi.”

Tanpa harus menunggu, bus BE yang kami maksud sudah bertengger di pangkalannya, menunggu penumpang yang akan diangkut ke Bireuen dan sekitarnya. Sebelum pulang, saya meminta ditraktir es cream dulu sama suami. Hehehe. Di dalam BE kali ini saya dan suami bisa duduk dengan leluasa tanpa harus berdesak-desakan seperti waktu pagi. Menjelang siang seperti ini penumpang BE memang tidak banyak dibandingkan waktu pagi dan sore. Sambil ikut menyanyikan lagu Menunggu-nya Zivilya dan Kangen Band kami menikmati perjalanan pulang ke Gandapura.

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

16 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: