Feature,  Kuliner,  Malaysia,  PhotoBlog,  Traveling

Plesiran Tanpa Tujuan di Kuala Lumpur

Sebelum matahari menyingsing, mata saya sudah tidak mampu lagi terpejam. Azan subuh belum pun terdengar, tetapi saya langsung bergegas ke kamar mandi untuk menyiramkan air ke tubuh dan mangambil wudhu. Hostel tempat kami bermalam masih sunyi dan senyap, belum ada tanda-tanda kehidupan dimulai. Saya sengaja buru-buru mandi karena jika telat para traveler yang semuanya berkulit putih, berambut perang, dan menginap di lantai tiga Step Inn Guest House ini pasti berhamburan keluar dari kamar mereka untuk mandi. Agak risih rasanya jika harus berpas-pasan dengan bule cowok bercelana boxer yang lalu-lalang di koridor kamar. Apalagi jika tanpa sengaja melihat mereka buang air tanpa menutup pintu. Aih… Saya trauma!

Usai shalat subuh dan Malaysia mulai terang, kami beranjak dari hostel dan berkeliling tak tentu arah ke luar. Ogah naik taksi karena bisa jadi kejadian yang sama seperti malam pertama kami tiba di KL terulang lagi. Itu lho, supirnya minta bayaran lebih walaupun kami sudah membeli tiket di loket. Kami memilih jalan kaki saja kemana-mana, kalau kejauhan baru naik mass rapid transit (MRT). Karena tidak tahu hendak kemana, kami akhirnya mutar-mutar di seputaran Bukit Bintang sambil mencari sarapan.


Pukul sepuluh waktu Malaysia, kami singgah di restoran Anuja, salah satu restoran yang lumayan banyak pengunjungnya pagi itu. Biasanya kalau banyak yang datang, pasti restorannya enak. Bang Thunis pingin menyantap nasi lemak Malaysia yang terkenal itu sedangkan saya ingin mencicip canai Mamak. Untuk minuman kami kompakan memesan teh tarik. Sayangnya, nasi lemak sudah habis. Padahal dari daftar menu yang ditawarkan resto itu, nasi lemaklah andalan mereka dan harganya juga murah, 3,5 RM/porsi. Berhubung perut sudah keroncongan, akhirnya Bang Thunis memesan nasi campur dengan lauk ayam, menu yang paling praktis dan siap saji.

Menu sarapan, teh tarik, canai Mamak, nasi campur

Eits, jangan berpikir kalau nasi campur di KL itu sama dengan nasi campur yang ada di Aceh atau tempat lain di Indonesia. Biasanya kalau disebut nasi campur itu kan penuh dengan berbagai jenis kuah dan sayuran. Apalagi nasi campur Padang, beragam kuah plus daun singkong rebus-cabe hijau terhidang dengan nikmat di piring. Nasi campur KL di restoran ini hanya ada kuah gulai dan sepotong paha ayam, tidak ada sayuran. Ketika saya meminta sayuran tambahan, pelayan di sana menambahkan terong sambal.

Sarapan canai saja tidak membuat perut saya kenyang. Saya juga kurang suka dengan kuah kari yang terlalu banyak jintan dan dihidangkan bersama bahan dasar martabak Aceh itu. Jadi sambil makan canai, saya juga mencomot ayam dan nasi campur suami. Begitu pun Bang Thunis, sesekali ia mencomot canaiku.

Setelah menyantap nasi campur, canai, dan teh tarik, kami kembali berjalan kaki menelusuri jalan yang ada di depan mata. Perjalanan kami tak tentu arah, kemana pun kaki melangkah tidaklah masalah karena ini adalah perjalanan yang tidak ada tujuannya. Kami hanya menamakannya jalan-jalan.

Berjalan beberapa meter ke depan kami melihat lampion merah terpasang di gapura. Petailing street, nama jalan itu. Konon, di sanalah barang-barang dengan harga miring dijual seperti tas, pakaian, dan souvenir khas Malaysia. Selain itu, banyak juga pedagang beretnis Cina yang menjual obat-obatan herbal di jalan ini. Namun, pagi itu Petailing masih belum begitu ramai, hanya beberapa tempat yang dipenuhi pembeli. Pasar ini baru disesaki oleh pedagang dan pembeli pada malam hari.

Lampion di pasang di sepanjang jalan di Petailing, KL
Salah satu pedagang topi di Petailing Street, Kuala Lumpur

Ada yang menarik saat melewati Petailing street. Sebuah gerobak penjual minuman terlihat dikerumuni oleh puluhan pembeli. Nama minuman itu pun agak aneh, Air Mata Kucing. Weleh! Air mata kucing kok diminum. Terus warna air mata kok bukan putih ya, tapi coklat! Selidik punya selidik ternyata air mata kucing itu campuran dari air, gula merah, buah kelengkeng, biji selasih, nata de coco, dan es batu. Rasanya segar apalagi waktu itu matahari di KL sedang terik teriknya. Terus kenapa dinamakan air mata kucing? Rupanya bahasa Malaysia lengkeng/kelengkeng itu tidak lain adalah mata kucing. So, air mata kucing ini merupakan air yang isinya mata kucing.

Harga air mata kucing itu beragam. 1.5 RM kalau pake es, kalau ngga pake es lebih mahal lagi (Foto: @masterweb)

Dari Petailing kami kembali melangkahkan kaki tidak tentu arah lagi. Melewati kuil yang arsitekturnya cukup unik menurut kami. Ratusan patung dewa menjadi atap yang menjulur tinggi ke angkasa. Warnanya beraneka ragam begitu pula bentuknya. Kuil di tengah-tengah kota itu begitu ramai. Para pengunjung rumah ibadah umat Hindu itu juga memiliki rupa yang khas. Tinggi semampai, kulit sawo matang, berhidung mancung, dan perempuan memakai sari. Mereka adalah etnis India yang menetap di negeri Jiran ini. Melihat mereka beribadah, saya tiba-tiba teringat Shahrukh Khan dan film India. Salam Namaste!

Kuil yang terletak di tengah-tengah kota di Kuala Lumpur

Di sepanjang jalan, di antara pertokoan terdapat beragam penginapan. Mulai dari hotel berbintang sampai hostel-hostel yang menawarkan harga miring bagi para pengunjungnya. Restoran-restoran Malayu, India, dan Timur Tengah juga dengan mudah dijumpai. Aroma rempah-rempah sampai dupa begitu menusuk indra penciuman. Kami terus berjalan. Cuaca Malaysia sangat mendukung dan tanpa terasa perjalanan kami sampai ke Mesjid Jamek Malaysia. Aksi jalan kaki kami pun berakhir sementara di terminal tepat di depan mesjid raya ini. Lelah juga berjalan hampir satu jam lebih. Kaki saya pegal-pegal pemirsa 🙂

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

21 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: