Kuliner,  Life Story,  Malaysia,  Traveling

Hati-hati Makan Di Kuala Lumpur!

Meski sudah berusaha berhemat sehemat mungkin selama di Kuala Lumpur, tetap saja kami sering kecolongan dari niat awal. Yang paling sering kecolongan itu saya terutama diurusan makan-memakan, sedangkan Bang Thunis, karena sudah sering hidup menderita di negeri orang, beliau sudah terbiasa dengan yang namanya hemat soal makanan.

Ceritanya begini, setelah makan roti canai saya menyimpulkan bahwa perut saya terlalu besar dan sepotong roti canai tidaklah cukup memenuhi organ pencernaan saya. Lambung saya itu Aceh banget! Belum makan namanya kalau belum masuk nasi. Jadi, pada hari berikutnya, masih di Restoran Anuja, saya memutuskan untuk makan nasi saja. Awalnya kepingin makan nasi lemak, tapi karena datangnya kesiangan nasi lemak sudah habis. Akhirnya, saya pun memilih nasi campur seperti suami saya.

Dengan sigapnya, saya menuju rak tempat diletakkan beragam lauk pauk. Ada ikan gulai, ayam goreng, petai sambal balado, terong sambal, sup, dan lain-lain. Ketika melihat aneka makanan itu, saya berpikir, “waah, di KL ada juga warung nasi kayak di Indonesia. Semua lauk bisa dipilih sendiri. Asyiik.”

Saya pun mengambil piring dan meminta pelayan di sana menaruh nasi. Saya lalu masuk menuju ke depan rak dan memilih sendiri menu yang hendak saya cicipi. Tapi tiba-tiba pelayan keturunan India itu mengambil sendok yang hendak saya raih.

“Akak nak ikan apa?”

Saya pun menunjuk gulai ikan bandeng. Pelayan laki-laki itu meletakkan ikan yang ukurannya tidak lagi utuh. Dalam pikiran saya, harga ikan pasti lebih murah dari ayam. Jadi biar hemat saya makan ikan.

“Cukup satu?” tanyanya.

“Tambahlah lagi yang kecil. Itu kan sudah terpotong setengah,” ucapku.

Pelayan itu pun mengikuti.

Setelah menambahkan ikan, saya juga sesendok petai cina dan beberapa potong terong. Lalu kembali ke tempat duduk. Bang Thunis hanya memesan nasi dan ayam goreng.

Ahaa… hari ini saya makan lezat dengan harga miring. Ada ikan, kuah, dan petai cina sambal balado.

Baru saja saya ingin mengunyah suapan pertama, seorang pelayan perempuan datang dan mencatat menu apa saja yang ada dipiring saya.

Nasi : 2 ringgit

Ikan 2 potong : 10 ringgit

Petai : 3 ringgit

Hampir saja saya memuntahkan kembali nasi yang mulai masuk ke tenggorokan. Masa nasi plus ikan  saya harganya 15 ringgit? Terus petainya juga dihitung? Sedangkan nasi campur pakai ayam Bang Thunis hanya seharga 6,5 ringgit.

Asli, nafsu makan saya yang sebelumnya menggebu-gebu lenyap seketika. Nasi dan ikan dipiring saya yang sebelumnya terlihat sangat nikmat kini berubah menjadi hambar. Masa hanya makan segini saja saya harus membayar 45 ribu rupiah?

Kejadian yang sama juga kembali menimpa saya ketika makan di Food Corner yang ada di bandara LCCT. Saat itu saya terlalu bergembira karena menemukan masakan Padang di sana. Jadi, saya pun memesan nasi putih seharga 2 ringgit dan telur mata sapi yang juga 2 ringgit. Karena melihat tumisan kol dan sambal balado, saya pun meminta pelayan di sana untuk menambahkan sayur dan sambal tersebut. Dan, seperti yang sudah bisa ditebak, harga yang perkiraan saya sebelumnya hanya 4 ringgit naik menjadi 6 ringgit. Kol tumis dan sambal balado masing-masing 1 ringgit! Ah, beda banget ya dengan rumah makan Padang yang ada di Indonesia, kita cukup membayar nasi dan lauknya saja, sedangkan sayur dan kuah ambil saja sesuka hati dan sebanyak kita mau.

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

20 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: