Kuliner

Gulai Kepala Ikan Kakap yang Maknyus dan Bikin Ketagihan

Ikan enak

Setelah setahun menjadi bagian dari warga Aceh Barat Daya, ada banyak hal baru yang saya dapatkan dan pelajari di daerah ini entah itu adat istiadatnya atau pun makanannya. Ada hasrat untuk menulis tentang adat istiadat di negeri penghasil beras sigupai ini, terutama saat pesta perkawinan diselenggarakan. Ya, pesta tujuh hari tujuh malam yang menjadi adat disini sungguh membuat saya takjub. Tapi pada postingan kali ini saya tidak akan membahas tentang perhelatan akbar tersebut melainkan tentang warung makan yang recomended di Abdya.

Adalah sebuah warung yang terletak di depan Hotel Grand Leuser yang menjadi tempat makan yang paling pas di lidah untuk pendatang seperti saya. Rumah makan tersebut tidak bernama  tetapi ia selalu ramai ketika siang hari. Ya, para pejabat kantoran di Abdya sering makan di sini. Bahkan jika ada tamu penting yang bertandang ke kabupaten yang berbatasan dengan Nagan Raya dan Aceh Selatan ini, rumah makan ini sering menjadi pilihan.

Bentuk rumah makan ini sederhana, memiliki dua pintu dan terbuat setengah permanen. Sekat yang memisahkan antara bangunan yang satu dan lainnya adalah potongan bambu sehingga banyak orang yang menyebut warung ini dengan Warung Bambu. Layaknya bangunan-bangunan toko lainnya di Abdya, demikian pula warung tersebut. Jika sedang tutup, kadang saya mengira warung itu rumah penduduk karena di Abdya arsitektur rumah tempat tinggal memang seperti ruko sehingga tidak bisa dibedakan mana ruko untuk berjualan dan yang mana tempat tinggal.

Jam buka rumah makan ini juga terbatas, hanya waktu siang saja sehingga jangan heran jika kita menginap di hotel Grand Leuser yang terletak di Jalan At Taqwa Blangpidie dan mencari sarapan atau makan malam, maka kita tidak menemukan rumah makan ini. Namun, ketika siang harinya, puluhan kendaraan roda empat telah terparkir di depan warung tersebut dan bahkan di badan jalan. Tidak jarang, banyak pelanggan yang harus antri untuk mendapatkan tempat duduk.

Lalu apa yang menjadi menu favorit saya di Warung Bambu tersebut? Jawabannya adalah GULAI KEPALA IKAN KAKAP. Yup, kepala ikan kakap ukuran besar menjadi pilihan saya jika makan di sana. Seporsi harganya Rp 50.000 dan mampu membuat nafsu makan saya yang memang bagus semakin bagus. Nasi sepiring tidak cukup, maunya nambah lagi. Kuah santannya begitu lezat dan ikan kakap yang digulai terasa sangat nikmat. Lebih-lebih ikan yang digulai tersebut adalah kakap yang baru saja diturunkan dari perahu nelayan. Segar!

 
Selain ikan kakap, masih banyak menu pilihan di rumah makan ini seperti ikan gembung panggang, ayam kampung goreng, ayam kampung gulai, asam pedas, kuah pliek u, sambal ganja, sayur bening, dan aneka makanan rumahan lainnya. Semuanya juga tidak kalah lezat dibandingkan kepala ikan kakap. Meskipun demikian, harga makanan di warung ini tergolong lebih mahal dibandingkan dengan rumah makan lain di Abdya. Ya, waktu pertama-tama duduk di warung ini, sempat terkejut karena harus membayar Rp 50 ribu untuk tiga bungkus nasi plus ikan tongkol goreng dan kuah pliek u. Biasanya, saya hanya mengeluarkan uang 30 ribuan untuk porsi yang sama. Tapi, ada rasa ada harga, dong. Masa maunya enak saja tanpa mau membayar lebih. Hehehe.

 

Terlepas dari apapun itu, rumah makan yang terletak di depan Hotel Grand Leuser tepatnya di Jl. At Taqwa Blangpidie Aceh Barat Daya sangat saya rekomendasikan untuk disinggahi dan dicicipi menu makan siangnya terutama Gulai Kepala Ikan Kakap yang maknyus dan bikin ketagihan.

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

15 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: