Archive for the Category »Feature «

Datu Beru in Action

Tikungan tajam. Jalan berlubang. Jurang yang terjal. Itulah pemandangan yang saya dapatkan ketika mobil penumpang L300 membawa saya ke tempat danau Laut Tawar berada. Semak-semak, pepohonan sawit, dan pinang turut menjadi perhatian. Tak luput juga para petani yang sedang membawa pulang hasil panen di dalam karung besar yang entah apa isinya. Hujan yang turun mengeluarkan udara dingin dan perlahan mulai memasuki pori-pori.

Dalam hati saya berujar, ternyata jalanan menuju ke kota yang katanya paling dingin di Aceh itu sangat rawan dan menjadi pemicu kecelakaan. Padahal kota yang akan saya tempuh adalah ibu kota kabupaten penghasil kopi Arabica yang konon katanya menjadi komoditas ekspor. Tapi kok? Ah, semoga saja pemerintah setempat segera mengambil kebijakan untuk membangun jalan yang rusak .

Selain kopi, kota yang bernama Takengon itu juga terkenal dengan hasil alamnya. Buah-buahan segar seperti alpokat, jeruk, tomat, terong belanda, dan aneka sayur-mayur membuat dataran tinggi ini semakin terkenal. Sudah lama saya ingin menginjakkan kaki ke tanah tempat berasalnya tarian Saman ini. Dan sekarang semua itu terwujud.

Kesan pertama yang kurang baik ternyata tidak berlanjut. Istilah kesan pertama begitu menggoda ternyata tak berlaku untuk saya kali ini. Ketidaknyamanan dalam perjalanan ternyata tergantikan dengan segarnya udara Takengon. Bukit barisan terhampar sepanjang mata memandang. Apalagi di belakang penginanapan tempat saya menginap. Sungguh indah di pandang mata. Datu Beru nama tempatnya. Entahlah, saya tak tahu apa artinya. more…

  • Share/Bookmark
Suatu Siang Bersama Down Syndrome

Dua karung besar. Kayu panjang. Suatu siang di perempatan jalan.

Awalnya saya mengira dua karung plastik besar yang isinya penuh dengan botol bekas,  plastik, dan tempat cat, yang sudah tidak layak pakai itu adalah sampah.  Entah siapa yang membuangnya di perempatan jalan masuk ke rumahku. Terbesit niat untuk memindahkan ke tempat sampah, dari pada di jalan pasti tak elok dipandang.

Belum pun niat itu saya jalankan, seorang bocah yang memakai baju salah satu parpol dan telah kotor karena lumpur datang dan mengambil karung besar itu. Dipikulnya karung itu dengan kayu yang memang terletang di tempat yang sama. Ketika melihatku bocah itu tersenyum. Kacamata hitamnya dibuka dan memperlihatkan deretan gigi yang kuning. Lalu ia pun pergi sambil melafazkan “Ngeng, ngeng, ngeng, ngeng.”

“Dia meniru penjual roti  yang sering lewat jalan ini setiap pagi,” ungkap Rasyidah, tetangga saya yang rumahnya langsung berhadapan dengan jalan.

Ada-ada saja tingkah bocah yang dipanggil Cut Mad itu. Karung besar dan kayu ia umpamakan tempat menaruh roti yang dipikul penjual. Lalu suara “ngeng, ngeng” itu menjadi pengganti terompet yang kerap dibunyikan ketika sang penjual roti melewati perumahan. more…

  • Share/Bookmark
Secercah Asa dalam Tumpukan Sampah

Ta mita keu droe leubeh get dari pada ta harap bak gob

Berusaha sendiri lebih baik dari pada mengharap belas kasihan orang lain


Laki-laki tua itu asyik mengumpulkan kardus, kaleng, dan botol plastik yang tergeletak di atas tanah. Lalu ia memasukkan barang-barang bekas tersebut ke dalam sarung biru bermotif kotak-kotak. Siang yang mendung membuatnya harus segera beranjak dari pintu gerbang perumahan dosen Unsyiah, Sektor Timur – Darussalam. Setelah sarung terisi, ia lalu mengangkatnya ke atas sepeda ontel usang dan pulang.

Ibrahim, nama lelaki itu. Memulung adalah pekerjaannya. Ia menjalani profesi ini sejak tahun 2004. Kawasan Darussalam dan kampus Universitas Syiah Kuala menjadi tempat baginya mengais rezeki. “Lon jak ngon gaki keudeh (saya berjalan kaki ke sana (Darussalam)),” jelasnya.

Sedangkan sepeda ontel yang ia punya tak bisa dikayuh lagi. Besi-besinya sudah usang dan harus disangga dengan kayu. Sepeda itu  hanya dibawa untuk meletakkan hasil memulung.

Setiap hari Ibrahim berangkat dari rumahnya di Lambaro Angan, Aceh Besar. Pukul enam pagi ia telah mendorong sepeda dan berjalan menuju Darussalam yang berjarak sekitar 10 kilometer. Tak ada sandal yang menjadi alas kaki. Kemeja jingga kotak-kotak dan kain sarung coklat yang dipakai juga telah lusuh. Namun semangatnya berbanding terbalik dengan pakaian yang dikenakan.

“Usia tua bukan alasan untuk tidak bekerja,” ucap lelaki yang berusia 90 tahun ini. more…

  • Share/Bookmark
The Next Juragan Durian

Kalau ingin merasakan durian yang lezat, maka durian Tangse adalah salah satu alternatif jawabannya. Dengan daging yang tebal dan aromanya yang sangat khas, durian Tangse semakin menunjukkan keeksistensiannya dalam jagad dunia durian :) . Terlebih lagi pada awal-awal tahun seperti ini, jika Anda ingin mencicipi lezatnya durian datanglah ke Tangse. Karena sekarang buah berduri itu sedang banyak-banyaknya di kota dingin ini.

Aku pun ngga ketinggalan untuk merasakan lezatnya durian kampung halamanku. Ketika pulang kampung beberapa hari yang lalu, mama langsung menyuguhi dengan durian dan leumang. Tidak hanya itu, keesokan harinya-sebelum aku kembali ke Banda Aceh- mama mengajakku langsung ke kebun durian.

“Yuk kita cari duren, langsung ke kebunnya,” ajak mama.

“Emangnya kita punya kebun?”

“Kebun orang pun jadi,” canda mamaku.

“Ok! Siapa takut.” more…

  • Share/Bookmark
Seumula di Tangse

Pagi itu jam telah menunjukkan pukul 09.00 WIB, tetapi matahari masih malu-malu untuk beranjak dari peraduan. Butiran embun masih tersisa di dedaunan. Kabut putih terbentang dan membelah gunung. Dinginnya udara Tangse masih merasup ke pori-pori kulit hingga membuat diri malas untuk beranjak. Namun, ini tidak berlaku bagi perempuan yang memilih profesinya sebagai petani.

Ketika si jago mulai berkokok dan adzan subuh berkumandang, tak ada alasan bagi perempuan-perempuan itu untuk kembali menarik selimut tebal dan kembali larut dalam tidur. Bergegas bangun lalu menunaikan shalat dan menyiapkan sarapan pagi serta kopi untuk anak dan suami. Lalu di tengah kabut yang masih menutupi jalan dengan pakaian lusuh dan bakul di pundak, mereka segera menuju ke sawah. more…

  • Share/Bookmark
Tari Saman, Dance of Thousand Hands

Tari Saman

Salamualaikum kamoe ucapkan Para undangan nyang baro teuka

Karena saleum nabi kheun sunnah. Jaroe ta mumat tanda mulia…

Mulia wareh ranup lampuan. Mulia rakan mameh suara

Ranup kuneng on kamo ba reujang. Kamo ba reujang wahai cendana

Tari Seribu Tangan atau yang lebih dikenal dengan Tari Saman menjadi salah satu primadona Aceh dalam pertunjukan seni tari. Tarian ini memiliki keunikan tersendiri. Tepuk tangan, gerakan badan dan kepala serta posisi duduk para penari dengan goyangan badan yang dihentakkan ke kiri atau ke kanan ketika syair-syair dilagukan mampu menyedot perhatian para penonton.

Tarian ini berasal dari dataran tinggi Gayo dan dikenal dengan berbagai jenis nama, antara lain Saman Gayo di Aceh Tengah dan Tenggara, Saman Lokop di Aceh Timur, dan Saman Aceh Barat di Aceh Barat. Namun, belum ditemukan penjelasan yang lebih rinci mengenai perbedaan dan persamaan tarian saman dari masing-masing daerah tersebut. more…

  • Share/Bookmark
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes