Serba serbi,  Uncategorized

Warung Kopi di Aceh: Bukan Sekedar Tempat Untuk Ngopi

Warung kopi adalah salah satu daya tarik kuliner di Aceh, selain mie aceh dan kuah kari ganja tentunya. Bahkan warung kopi seperti punya tempat sendiri bagi masyarakat Aceh.Β Seperti cerita suami saya ketika mertua beli mobil pertamanya lebih sepuluh tahun lalu, seluruh transaksinya dilakukan di warung kopi, karena agen yang jual mobil memang tidak punya kantor, jadinya warung kopi sudah jadi seperti “kantor”nya juga. Hal tersebut tidak jauh berbeda dengan keadaan sekarang. Seorang kawan suami yang bekerja sebagai arseitektur lepas selalu berjumpa dengan klien-kliennya di warung kopi, sedangkan untuk menggambar dilakukannya di rumah. Suami saya juga tidak jauh berbeda, meski punya paket internet, dan bisa browsing dari rumah, tapi tetap saja mengaku lebih enak “nge-net” di warung kopi langganannya. Iya, dengan modal lima ribu rupiah saja untuk segelas kopi atau teh, ia bisa browsing sepuasnya dengan fasilitas free wifi yang disediakan oleh warung kopi.

Kopi
kopi dan Teh

Kemarin, ketika jumpa salah satu blogger Aceh, dia juga cerita banyak sekali anak-anak muda aceh ya nge-blog, main CEO di warung kopi, hanya dengan modal laptop plus uang lima ribu. “liat tuh, masih muda, baru lulus SMA, ketawa-ketawa kita kirain ngapain sama laptopnya, padahal itu lagi pada nge-blog, perbulannya bisa ratusan dolar, apa gak cukup tuh?” jelas si kawan, yang lagi-lagi membuat saya kaget dengan manfaat warung kopi bagi orang Aceh. “ada juga yang tiap bulang ngambil uang ke kantor pos, dikirim sama google, hasil nge blog juga tuh, padahal masih mahasiswa” sambungnya lagi. Ya, Warung Kopi di Aceh memang menyimpang begitu banyak pesona.

Kalau pagi pagi kita keliling Banda Aceh, hampir semua warung kopi yang ada di sepanjang jalan bisa dipastikan penuh. Orang yang mau ke kantor, biasanya mampir dulu di warung kopi, baik untuk sekedar ngopi, sekedar jumpa kawan, atau sekedar baca koran, yang juga hampir tersedia di warung kopi. Padahal umumnya mereka juga sudah duluan sarapan di rumah tapi tetap saja mampir sebentar di warung kopi, “minum kopi pancung aja udah cukup, biar di cas kepala kita waktu kerja nanti” sebut salah seorang pegawai pemerintah yang rutin ngopi di warung dekat dengan kantornya. Sekitar jam delapan pagi, warung-warung kopi ini mulai sepi dari pengunjung berseragam, menyisakan mereka yang berbaju bebas, pekerja free lancer, agen mobil, agen tanah, professional tanpa kantor yang secara tidak langsung mentasbihkan warung kopi sebagai “kantor” bagi mereka. Itulah warung kopi di Aceh, warung yang tak hanya sekedar tempat untuk menyeruput ngopi.

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

17 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: