Advertorial,  Traveling

(Sponsored Post) Traveling Saat Cuaca Ekstrim, Siapa Takut?

Traveling saat cuaca ekstrim
Traveling Saat Cuaca Ekstrim, Siapa Takut?

Libur akhir pekan memang sangat menyenangkan apalagi jika diisi dengan aktivitas yang kita sukai. Traveling misalnya. Jalan-jalan ke suatu tempat wisata atau daerah yang baru bisa menjadi mood booster kita untuk kembali menjalani rutinitas. Setelah traveling, pikiran bisa menjadi fresh, semangat kerja pun semakin meningkat.

Namun, perubahan cuaca yang ekstrim terkadang membuat kita enggan untuk bepergian jauh. Traveling yang seharusnya menjadi cara kita untuk refreshing, malah menimbulkan penyakit. Bepergian saat musim hujan misalnya, bisa-bisa kita terserang flu dan demam. Walhasil, enggak bisa masuk kerja karena harus bed rest total di rumah.

Lantas, apakah kita akan memilih stay at home saja karena takut waktu lagi seru-serunya pelesiran ke suatu tempat, eh tiba-tiba datang badai, terus hujan deras? Big no. Hal ini tidak berlaku untuk saya dan teman saya Naiza. Meskipun cuaca di Aceh sering galau, enggak bisa dipastikan kapan hujan kapan cerah, karena bisa jadi di desa A cerah, sampai ke desa B hujan deras, tetapi kami tetap saja jalan-jalan. Banyak sekali tempat yang ingin kami kunjungi di tempat tinggal baru kami ini. Seperti weekend kemarin, kami bepergian ke Aceh Selatan, kabupaten yang langsung berbatasan dengan Blangpidie, tempat kami berdomisili saat ini.

Dengan menggunakan sepeda motor, berpetualanglah kami ke kabupaten yang disebut juga dengan Kota Naga.

Awalnya Naiza agak khawatir dengan kondisi tubuhnya yang gampang ngedrop. Kena hujan sedikit langsung pilek. Lebih-lebih kami menggunakan sepeda motor, tubuh kami akan langsung terkena sinar matahari yang panas, dan dinginnya air hujan.

“Kak, ada enggak ya cara menjaga kesehatan tubuh yang bikin sistem imun kita kuat? Takut juga nih waktu kita pergi nanti tiba-tiba hujan,” tanya Naiza beberapa hari sebelum kami berangkat.

“Sebenarnya gampang aja caranya. Konsumsi makanan bergizi, minum air putih minimal 2 liter, rajin olahraga, dan selalu berpikiran positif,” jawabku kemudian.

/var/mobile/Containers/Data/Application/6A2E0E00-BE61-4837-8554-AA18F90ED771/tmp/etemp1/fImage126822134256.jpeg

“Kalau suplemen gitu apa ya yang bagus?” tanyanya lagi.

“Coba minum stimuno, kalau enggak salah sudah teruji klinis bisa meningkatkan daya tahan tubuh. Coba browsing aja.” Saranku kemudian.

Matahari begitu menyengat ketika kami beranjak dengan motor matic ke Aceh Selatan. Perjalanan kami kali itu sebenarnya tidak tentu arah. Hanya menghabiskan waktu akhir pekan saja karena kebetulan Blangpidie sedang mati listrik dari pagi sampai sore. Kebetulan juga di saat yang bersamaan putri saya, Naqiya sedang ikut neneknya ke Tangse dan suami saya Bang Tunis sedang ke Uganda. Walhasil melajanglah kami berdua.

“Kak, Naiza udah browsing di internet. Katanya Stimuno bagus nih untuk menguatkan sistem imun tubuh. Terus minum stimuno setiap hari katanya bisa membuat tubuh kita semakin kuat menghadang berbagai kuman penyakit. Naiza bacanya di situs http://www.serbaherba.com/daya-tahan,” kata Naiza sambil mengemudikan sepeda motor. /var/mobile/Containers/Data/Application/6A2E0E00-BE61-4837-8554-AA18F90ED771/tmp/etemp1/fImage72065152913.jpeg

Ia pun menjelaskan bahwa Stimuno forte adalah salah satu suplemen yang terbuat dari bahan herbal berupa ekstrak tanaman meniran atau Phyllanthus niruri yang terbukti secara klinis mempercepat proses penyembuhan. Berbeda dengan vitamin untuk daya tahan tubuh, stimuno tidak hanya mampun meningkatkan daya tahan tubuh tetapi juga menguatkan sistem imun. Suplemen ini bisa dibeli secara bebas di apotek tanpa perlu resep dokter.

Perjalanan kami kali itu benar-benar petualangan di luar perencanaan. Setiap melihat papan petunjuk arah ke suatu objek wisata, maka kami pun mengikuti arah tersebut. Di Labuhan Haji, Kami menuju objek wisata Gua Batee Meucanang dan melihat pengolahan nilam sehingga menjadi minyak yang merupakan bahan baku utama pembuatan parfum. Lalu ketika hari menjelang sore, kami menuju Tapak Tuan, tapak raksasa yang menjadi legenda di Aceh Selatan, bermain di Pasir Putih Samadua, hingga akhirnya senja pun menjelang. Hujan deras turun membasahi bumi Aceh Selatan dan membuat kami basah kuyup.

Teman saya itu sempat takut sakit karena kami pulang hujan-hujanan. Tapi, alhamdulillah ia tidak jatuh sakit dan bisa bekerja seperti biasa. Setelah hujan-hujanan saat traveling waktu itu, Naiza pernah beberapa kali basah kuyup saat pulang kantor. Dan ia baik-baik saja.

“Kali ini, Naiza kayaknya enggak perlu takut sama cuaca yang sering galau nih. Sudah ada Stimuno, si tentara berseragam baja yang bisa menghalau penyakit yang menyerang.” Ucap Naiza penuh semangat menjalani #Sehat365Hari.

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

21 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: