Feature,  PhotoBlog,  Traveling

 Terpesona Hutan Kota BNI Banda Aceh

“Wah, itu pohon tin!” seru saya saat melihat papan yang bertuliskan Tin (Ficus carica) tidak jauh dari jembatan masuk Hutan Kota BNI Banda Aceh. Decak kagum tidak bisa saya sembunyikan karena baru kali ini saya melihat pohon yang batangnya berwarna keabu-abuan, daunnya menjari, dan buah matangnya berwarna ungu. Selama ini, saya mengetahui pohon tin hanya lewat kitab suci Al Quran.

Setelah memarkirkan sepeda motor di tempat parkir dan membayar Rp 2.000, saya langsung menaiki jembatan gantung yang di atasnya tertulis Hutan Kota BNI Gampong Tibang. Baru beberapa langkah berjalan setelah turun dari jembatan, saya menemukan pohon tin.

Jembatan Masuk Hutan Kota BNI Banda Aceh, Gampong Tibang (sumber : tuloblang(dot)blogspot(dot)com)

“Eh, coba lihat! Keren kali nama pohon itu, Janda Merana… Hahaha…” tunjuk pengunjung lain pada sebuah pohon yang menjulang tinggi dan bertuliskan Janda Merana di papan namanya. Spontan saya tertawa terbahak-bahak saat mengeja ulang nama pohon yang bernama latin Salix babylonica. Sungguh, itu adalah nama pohon terunik dan terlucu yang pernah saya dengar.

Janda Merana (sumber : hikayatbanda(dot)com

Hari itu, saya memutuskan untuk jalan-jalan ke Hutan Kota BNI. Meski telah tinggal bertahun-tahun di ibu kota Provinsi Aceh, tapi baru kali ini saya memijak Hutan yang telah menghasilkan 3 ton oksigen per hari. Padahal, hutan kota yang letaknya di Desa Tibang Kecamatan Syiah Kuala ini hanya berjarak 5 kilometer dari pusat kota Banda Aceh dan bisa ditempuh dalam waktu 20 menit dengan menggunakan sepeda motor.

Hutan Kota BNI Banda Aceh (sumber : badruddin69(dot)wordpress(dot)com

Ketika menelusuri jalan setapak yang memang didesain untuk pejalan kaki , saya benar-benar takjub dengan keanekaragaman tumbuhan di dalamnya. Dulu, pasca tsunami, saya pernah beberapa kali ke Tibang dan areal yang kini disulap menjadi hutan kota yang rindang hanyalah rawa-rawa bekas tsunami. Sangat gersang dan panas, lebih-lebih karena letaknya yang sangat dekat dengan laut. Namun kini, lahan seluas 7,5 hektar itu telah ditanami lebih dari 3500 pohon dari 110 spesies.

Hutan Kota BNI Before and After

Penasaran dengan asal usul Hutan Kota BNI, saya pun bertanya pada seorang lelaki paro baya yang sedang duduk-duduk di teras pondok yang terletak tidak jauh dari jembatan masuk.

“Taman Hutan Kota ini dibangun oleh PT BNI 46 Persero, Pemko Banda Aceh, dan Yayasan Bustanussalatin ,” begitu jelas bapak yang bernama asli Abdul Mutalib Ahmad (60 tahun). Ternyata saya bertanya pada orang yang tepat. Pak Taleb, begitu beliau kerap dipanggil tidak lain adalah pengelola hutan kota.

Selidik punya selidik, ternyata lelaki itulah yang mengagas dibentuknya hutan kota ini. Pensiunan Dinas Kebersihan dan Keindahan Kota Banda Aceh itu pernah mendapatkan Kalpataru dari Presiden RI, sebuah penghargaan tertinggi untuk mereka para penyelamat lingkungan. Sebagai bentuk apresiasi terhadap prestasinya, Kementrian Lingkungan Hidup merekomendasikan beliau untuk mengembangkan hutan kota.

“Saya tawarkan ide dan konsep hutan kota ini kepada Yayasan Bustanussalatin. Kebetulan, LSM ini sangat fokus untuk lingkungan hidup,” paparnya. Gayung pun bersambut, ide yang beliau tawarkan mendapat tanggapan yang baik. Lalu, Yayasan Bustanussalatin menjalin kerjasama dengan Pemerintah Kota Banda Aceh dan Bank BNI 46.

“Kebetulan, yang kita tawarkan sejalan dengan program CSR BNI yaitu BNI Go Green. Jadi, berkat program ini, hutan kota yang Adik lihat sekarang bisa dibangun.”

Ya, melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) Go Green, Bank Negara Indonesia telah membantu Pemerintah Aceh untuk mengurangi emisi karbon serta mendukung program pemerintah One Billion Indonesia Trees (OBIT). Tidak hanya berkontribusi pada Hutan Kota Banda Aceh, BNI juga aktif mendistribusikan dan menanam pohon di Taman Kota Trambesi Banda Aceh serta di sejumlah daerah lain seperti Hutan Kotan Manahan Solo, Taman Kota Wonosari-Yogyakarta, lereng Gunung Sumbing, Hutan dan Taman Kota Udayana – Bali.

Seakan tahu bahwa saya masih awam dengan hutan kota ini, tanpa ditanya, Pak Taleb langsung menjelaskan fasilitas yang ada di hutan kota seperti jembatan gantung yang terdapat di bagian depan, jalur pedistrian, jembatan tajuk (ramp canopy trail), jembatan atas bakau (mangrove boardwalk), area pepohonan, kolam bakau dan pembibitan ikan, juga ada taman tematik dan taman kontemplasi.

Taman tematik? Yup, tumbuhan yang terdapat di hutan kota ini ditanam sesuai dengan temanya. Ada taman bertema herbal yang isinya beragam tanaman herbal, ada taman bambu, taman bunga, dan taman walikota nusantara, taman nusantara ini terdapat 99 jenis tanaman yang berasal dari 99 wilayah di Indonesia. Ke 99 jenis tanaman itu ditanam oleh para walikota daerah tersebut pada acara Apeksi di Banda Aceh 2011 lalu.

Taman Walikota Nusantara (sumber: hikayatbanda(dot)com

Setelah mendengarkan panjang lebar penjelasan Pak Taleb, saya semakin penasaran dengan isi hutan kota ini. Saya pun memohon izin untuk mengelilingi hutan dan mencari tempat-tempat yang disebutkan oleh sang bapak.

Keputusan saya mengunjungi Hutan Kota BNI adalah keputusan yang tepat. Aroma hutan yang selama ini saya rindukan kini tercium oleh indra pembau. Sepanjang perjalanan yang tampak adalah pohon-pohon yang rindang, bunga-bunga yang bermekaran, dan kicauan burung yang saling bersahutan. Mengeliling hutan kota ini mengingatkan saya akan kenangan masa kecil di kampung halaman, Tangse. Hutan, gunung, kicauan burung, dan gemericik air sungai bukanlah sesuatu yang asing. Namun, ketika hijrah ke Banda Aceh, semuanya menjadi jauh. Kota Banda Aceh yang terletak di pesisir pantai membuat hutan dan gunung sangat sulit dijangkau. Syukurnya, nostalgia kampung halaman dapat saya rasakan kembali di hutan kota. Beragam pohon tumbuh di sana lengkap dengan papan nama sehingga saya tidak perlu bertanya lagi, ini pohon apa, itu bunga apa.

Belum jauh kaki ini melangkah, saya menemukan jembatan tajuk yang disebutkan Pak Taleb tadi. Semakin tinggi saya berjalan di atas jembatan kayu itu, maka saya pun bisa melihat perumahan warga di arah barat dan selatan. Hijaunya bukit barisan juga terlihat jelas di atas sana. Tidak hanya itu, di bagian utara, saya bisa melihat Pulau Weh, pulau paling Barat negara ini. Suguhan pohon mangrove yang tumbuh di dalam air juga menjadi daya tarik saat berjalan di atas jembatan ini.

Jembatan Tajuk (tuloblang(dot)blogspot(dot)com
Jembatan Tajuk (sumber: nelva-amelia(dot)blogspot(dot)com
Jembatan Tambak Bakau (sumber: nelva-amelia(dot)blogspot(dot)com

Saat turun dari jembatan, saya melihat orang tua sedang mengajak anak mereka bermain ayunan dan perosotan. Ah, tempat ini sangat tepat untuk dijadikan tempat wisata lingkungan bagi siapa saja termasuk anak-anak. Betapa tidak, sambil mengajak mereka berwisata pada akhir pekan ke hutan ini, para orang tua juga bisa menjelaskan keanekaragaman hayati yang terdapat di Hutan Kota BNI. []

Terima kasih BNI atas dedikasimu terhadap negeri ini. Tidak salah jika sejak kuliah sampai bekerja, saya memilihmu menjadi mitra. Beragam kemudahan transaksi saya dapatkan, keramahan para pegawaimu saya rasakan. Selamat ulang tahun yang ke 69 Bank Negara Indonesia, semoga Bank yang merupakan Bank Nasional Pertama Indonesia ini tetap selalu menjadi yang pertama di hati kami, rakyat Indonesia.

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

11 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: