Opini

Tentang Persepsi

Kau tidak akan pernah memahami seseorang hingga kau melihat sesuatu dari sudut pandangnya, hingga kau menyusup ke balik kulitnya, dan menjalani hidup dengan caranya -Harper Lee, To Kill A Mocking Bird-

Kali ini saya ingin menulis tentang persepsi. Persepsi salah yang muncul hampir lebih dua bulan terhadap seseorang. Pikiran negatif yang muncul akibat terlalu cepat mengambil konklusi. Meski beragam bacaan telah kulahap, bermacam motivasi telah kudapat, tentang positive thinking. Tapi, energi negatif masih saja hadir.

Cerita bermula ketika saya bertugas di Puskesmas. Ini adalah bagian internship terakhir yang harus saya jalani selama empat bulan. Di sana, saya bertemu dengan seorang staf laki-laki. Berbadan gembul dengan jenggot panjang seperti Ahmad Dhani. Setiap bertemu, saya sunggingkan senyum kepadanya. Tapi hanya kecuekan yang saya dapatkan. Berulang kali saya melakukannya dan hal serupa yang saya terima. Ah, mungkin begitulah bentuk senyumannya. Saya mencoba berpikir positif.

Hampir tiga bulan saya berada di Puskesmas ini, saya belum pernah melihat tingkah ramahnya pada saya. Itu juga diakui teman-teman saya yang lain. Lelaki itu seperti tidak welcome dengan kehadiran kami. Ternyata, selain saya dan teman-teman, para staf yang lain juga tidak menyukai tingkahnya. Lagaknya bak Kepala Puskesmas. Setiap menyampaikan informasi ketika apel pagi, sikapnya sangat bossy, membuat pegawai lain geram. Seolah-olah Puskesmas itu adalah miliknya.

Melihat ketidaksukaan orang lain terhadap laki-laki berjenggot seperti Ahmad Dhani itu, maka saat itu saya berpikir bahwa persepsi saya akannya tidak salah. Apa lagi saat dinas malam bersama-sama dengannya, ia sama sekali tidak menghargai kehadiran saya. Tapi semua berubah pada keesokan malamnya. Saat saya menemani teman saya yang sedang dinas malam. Lelaki itupun menjadi perawat yang bertugas waktu itu.

Di ruang rawat, saya duduk di bangku tepat di samping lelaki itu. Sedang teman saya sedang memeriksa pasien di bangsal. Dalam diam dan tanpa keinginan untuk membuka pembicaraan, saya larut dengan ponsel. Membuka aplikasi-aplikasi tidak penting untuk menghilangkan suntuk. Tiba-tiba lelaki itu angkat bicara. Saya sedikit tidak percaya dengan apa yang saya dengar. Ternyata dia benar berbicara pada saya. Ia menanyakan tentang di mana tempat tinggal saya dan teman-teman. Menanyakan siapa laki-laki yang sebulan yang lalu mengantar jemput saya.

“Itu suami,” jelas saya. Penuh semangat saya meladeni pertanyaannya. Ternyata selama ini lelaki itu perhatian pada kami.

“Berarti yang sudah menikah, dokter dan dokter Rossa, ya?”

Saya mengangguk pasti.

Kemudian saya pun ikut bertanya padanya. Menanyakan tentang berapa lama ia sudah bekerja di Puskesmas ini dan apa saja yang terlintas di pikiran. Dia pun menceritakan bahwa ia sudah bekerja di pusat pelayanan kesehatan sejak tujuh belas tahun yang lalu. Sejak puskesmas tempat kami berada dibuka, ia sudah di sana. Bersama dokter terdahulu ia membangun puskesmas ini sampai menjadi puskesmas terbaik di kabupaten. Merawat pasien hingga sembuh. Bahkan pasien yang pernah dirawat di rumah sakit ingin dirujuk ke puskesmas karena bagusnya pelayanan yang mereka berikan.

“Pantesan Bapak ketika bekerja seakan-akan ini rumah sendiri. Ngga setengah-setengah.” Saya pernah melihat ia membersihkan area puskesmas sendiri sampai benar-benar bersih.

“Kalau bukan kita, dok. Ngga ada yang mau. Semua sekarang kerjanya ngga sepenuh hati. Asal udah selesai. Yang penting laporan ke dinas siap, habis perkara. Ngga peduli dengan internal puskesmas. Beda sekali dengan dulu,” sesalnya.

Kini lelaki itu mengaku mulai bosan dengan rutinitasnya. Sudah hampir dua puluh tahun dia mengabdi, tetapi puskesmas yang dibangunnya bersama teman-teman terdahulu makin merosot kualitasnya.

“Sekali dua kali sanggup kita ingatkan. Tapi kalo terus-terusan, saya malah dianggap sok berkuasa.”

Saya hanya tersenyum mendengar curhatan lelaki itu. Ternyata dia tidak seperti yang saya bayangkan. Malam itu mata saya terbuka. Kejengkelan yang selama ini merasupi jiwa lenyap seketika.

Ah, saya tidak boleh terlalu cepat berkonklusi. Apakah saya sudah pernah hidup di posisinya? Pernahkah saya melihat masalah dari sudut pandangnya? Menyusup di balik kulitnya? Jika tidak, sungguh tidak pantas pikiran lama saya akan sikapnya terus berseliweran dalam diri. Be positive thinking.

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

15 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: