Aceh,  Feature,  Traveling

Tanggal 14 Februari, Kemana Aja dan Ngapain Aja?

Tanggal 14 Februari kemarin adalah tanggal yang sangat berkesan untuk saya dan keluarga. Bukan karena 14 Februari diperingati sebagai Hari Valentine dan saya pun tidak merayakan moment yang katanya hari kasih sayang itu. Toh setiap hari bagi saya adalah hari yang penuh kasih dan sayang. Namun, kemarin menjadi hari yang paling menyenangkan adalah karena kemarin merupakan hari libur. Hari libur itu identik denga jalan-jalan dan saya bersama keluarga tidak menyia-siakan kesempatan ini.

Sudah lama saya dan Bang Tunis ingin jalan-jalan keluar dari Aceh Barat Daya dengan sepeda motor, kendaraan satu-satunya yang kami miliki. Akan tetapi, Naqiya masih sangat kecil dan sulit untuk diajak pergi jauh. Tapi seiring bertambahnya usia putri kami, maka semakin paham pula ia ketika saya jelaskan sesuatu. Dulu, ia sering merasa bosan jika berpergian terlalu lama dengan motor, tapi kini, kemarin tepatnya, ia sudah bisa menikmati perjalanan.

Rute perjalanan kami di Minggu yang cerah kemarin adalah ke arah selatan. Biasanya, Objek Wisata Pucok Krueng Alur Sungai Pinang atau Pantai Jilbab Susoh yang menjadi tujuan, maka kali ini kami berbelok arah menuju Aceh Selatan.

“Ayolah sekali-sekali kita keluar Abdya, ke perbatasannya saja juga boleh.” Ajakku pada Bang Tunis dan dia pun menyanggupi.

Pukul dua siang kami pun bergerak. Terik matahari tidak menjadi halangan rencana traveling kami. Naqiya sangat girang ketika ayahnya menstarter motor. Dengan tidak sabaran, ia meminta saya untuk segera menggendongnya dan mengambil posisi dibelakang ayah.

Satu per satu kecamatan di Aceh Barat Daya kami tinggalkan. Mulai dari Setia, Tangan-Tangan, Manggeng, dan Lembah Sabil. Selain perumahan penduduk dan toko-toko, aliran sungai yang jernih dan sawah yang sedang ditanami padi menjadi pemandangan kami selama perjalanan. Namun, ketika tiba di perbatasan, bebatuan putih tersusun rapi di kedai milik warga. Ada yang berhamburan di tepi jalan, ada pula yang telah dibungkus rapi di dalam karung.

Melihat bebatuan putih yang saya rasa akibat kandungan zat kapur yang tinggi, mengingatkan saya pada makam-makam di samping kuburan papa di Tangse. Menurut cerita mamak, bebatuan itu dibawa pulang oleh anak almarhum dari wilayah tempat saya berada saat itu. Ya, disinilah batu-batu putih itu berasal, di perbatasan Lembah Sabil dan Labuhan Haji. Lembah Sabil adalab kecamatan di Abdya yang berbatasan langsung dengan kota tasawuf Labuhan Haji yang tidak lain adalah bagian dari Kota Naga, Aceh Selatan.

Motor terus melaju melewati perbatasan. Jika sebelumnya sawah-sawah yang kami lewati masih sedang ditanami maka di wilayah selatan Aceh padi telah menguning dan sedang dipaneni oleh para petani. Gundukan jerami di tengah mengingatkanku akan masa kecil yang memang saya habiskan di sawah. Jerami yang menjulang tinggi itu menjadi tempat bagi saya dan teman-teman untuk bermain petak umpet atau perang-perangan.

Kami terus berjalan melewati Labuhan Haji Barat dan Timur hingga tiba di Meukek. Tulisan Objek wisata Ie Dingin di pinggir jalan Meukek menarik perhatian kami. Segera Bang Tunis mengikuti arah panah yang menunjukkan tempat wisata tersebut. Kami pun melewati perkampungan penduduk yang langsung berbatasan dengan sungai. Aroma pala tercium hangat di daerah ini. Jauh kami berjalan ke dalam tetapi hanyak sungai dan bebatuan yang kami jumpai, tidak ada ie dingin yang dimaksud. Ya, masyarakat di sana menyebut air terjun dengan ie dingin. Ketika jalan yang kami lalui bukan lagi aspal melainkan bebatuan dan gundukan tanah, akhirnya kami berbelok arah kembali dan memutuskan untuk pulang.

Naqiya mulai merengek kelelahan dan kehausan. Betapa tidak, perjalanan yang kami tempuh mencapai enam puluh kilo meter lebih. Akhirnya kami pun singgah di kedai pinggir jalan yang menjual kelapa muda. Slurp, air kelapa yang manis dan segar merasup ke dalam tenggorokan dan menghapus lelah yang ada. Naqiya mulai girang kembali dan itu tandanya perjalanan pulang bisa dilanjutkan kembali.

Langit yang cerah telah berubah warna menjadi abu kehitaman. Kalau pun hujan turun, kami sudah berniat untuk basah-basahan. Syukurnya, sore hari, ketika kami tiba di Blangpidie, hujan belum juga turun.

Itulah sepenggal kegiatan kami di hari Minggu tanggal 14 Februari.

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

4 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: