Life Story,  Opini

Selamatkan Anak Indonesia

Hari ini hari anak nasional ya? Ah, sejak meninggalkan bangku kuliah saya mulai lupa dengan tanggal-tanggal penting ini. Pasalnya ketika masih menyandang status sebagai mahasiswa, saya kerap terlibat dalam kepanitiaan di berbagai acara di tanggal penting seperti hari ini.

Ngomongin masalah hari anak, maka saya ingin memflash back kembali definisi anak-anak. Kapan sosok manusia itu masih dianggap anak? Menurut WHO, seseorang masih dianggap anak-anak sampai umurnya 18 tahun. Namun, PBB mengkatagorikan anak-anak bagi mereka yang berusia di bawah 21 tahun.

Lantas, saya kok merasa bingung sendiri dengan definisi anak-anak Dan realitanya dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak yang terlihat lugu dan polos dengan nikmatnya menghisap rokok di kios depan rumah saya di kampung. Saat dilarang, mereka malah membentak. Anak-anak yang dalam pikiran saya kerap mengenakan baju lucu dengan gambar aneka kartun kesukaan mereka malah mini berbalut kemeja ketat yang membentuk lekuk tubuh. Anak-anak yang seharusnya mendendangkan lagu fantasinya kini malah asyik bernyanyi lirik gombal. Eaaa.

Ah, sedih rasanya melihat nasib anak-anak sekarang. Saya jadi ingat ketika masih kecil dulu. Masa kecil yang sampai sekarang ingin kembali kuulang saking senangnya. Setiap hari, sepulang dari sekolah dan mengaji, aku dan teman-teman bermain masak-masakan dengan peralatan dapur terbuat dari batok kelapa dan kompor dari batu. Rerumputan kami jadikan sayur dan tanah kami ibaratkan nasi.

Kalau hari Minggu tiba, aneka film kartun kami saksikan. Mulai dari Dora emon, ninja hatori, sailor moon, sakura, dll. Serial animasi robot-robotan pun tidak ketinggalan seperti power ranger, jiban, ultraman, satria baja hitam.

Di hari lain jika saya tidak bermain masak-masakan, permainan tradisional seperti patok lele ikut saya mainkan. Kalau cuaca di luar sedang tidak mendukung, maka menonton televisi menjadi pilihan terakhir. Acara Tralala Trilili yang dibawakan Agnes Monica atau Cilukba yang pembawa acranya Maysi adalah pilihan kami.

Lagunya Enno Larian tentang aneka makanan di Indonesia sampai sekarang masih teringiang, begitu juga dengan Katanya Trio Kwek Kwek. Bolo-Bolo Tina Toon. Diobok-obok Joshua. Tri Utami. Ah, banyak sekali penyanyi cilik idolaku saat itu.

Tapi sekarang, lagu yang dinyanyikan anak-anak bukanlah lagu fantasi atau berisi ilmu pengetahuan seperti waktuku kecil dulu. Lagu anak kecil sekarang tidak lain adalah lagu orang dewasa yang dinyanyikan bocah cilik. Meski beragam ajang pencarian bakat untuk anak-anak dilakukan, tapi yang.diexplore bukanlah sisi kekanak-kanakan mereka, melainkan mereka.dituntut menyanyikan lagu orang dewasa yang kalau ditanya mereka paham maksudnya atau tidak pasti gelengan yang didapat.

Saya sering berpikir, anak-anak saja sudah bertingkah seperti orang dewasa, bagaimana ketika mereka dewasa nanti? Apakah mereka akan menjadi kekanak-kanakan kembali karena masa kecilnya tidak bahagia? Oleh karena itu, yuk kita selamatkan anak-anak Indonesia dari nyanyian yang bukan milik anak-anak. Dari tontonan yang tidak layak disaksikan oleh mereka. Caranya? Sekarang sedang digencarkan pengumpulan CD lagu anak Indonesia agar anak-anak yang selama ini tidak pernah merasakan betapa menyenangkannya mendengar lagu sesuao usia mereka dapat kembali mendengar. Ada juga kegiatan mendongeng agar anak-anak tidak terracuni pikirannya dengan sinetron orang dewasa yang sama sekali tidak layak tonton oleh mereka. Atau mungkin Anda memiliki cara tersendiri agar anak-anak kita merasakan masa kecilnya yang sebenarnya

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

9 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: