rujak aceh
Aceh,  Feature,  Traveling

Rujak Aceh Blang Bintang, Lezatnya Tiada Lawan!

Menurut saya, rujak Aceh yang paling lezat itu ya rujak Blang Bintang. Aroma potongan buah segar yang dicampur dengan cabai rawit, gula aren, rumbia, buah batok, dan kacang tanah yang ditumbuk kasar bisa membuat air liur menentes. Apalagi ketika mencicipi rasanya. Mangat that! Begitu kata orang Aceh untuk mengekspresikan sajian yang terasa lezat di lidah.

rujak aceh
Rujak Aceh Blang Bintang, Lezatnya Tiada Lawan!

Rujak Aceh Blang Bintang memang menjadi salah satu rujak asli Aceh yang bisa kita dapatkan di Kecamatan Blang Bintang, Aceh Besar. Jangan bingung dimana letak Blang Bintang itu. Ingat saja Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) yang memiliki kode penerbangan BTJ, di sanalah kecamatan yang juga terkenal dengan berasnya yang pulen berada. Dan, di sepanjang jalan menuju Bandara SIM tersebut, kita bisa menemukan rujak Aceh yang terkenal dengan kelezatannya itu.

Baca juga: Indahnya Panorama di Jalan Blang Bintang – Krueng Raya

Siang menjelang sore waktu itu, saya dan Bang Tunis sebenarnya berencana melihat pesawat yang lepas landas di Bandara SIM. Namun, ketika kami tiba, tidak ada pesawat yang parkir di sana. Akhirnya, kami memutuskan untuk menikmati rujak Aceh yang ada Blang Bintang. Tidak jauh dari kompleks bandara, ada beberapa warung yang menjual rujak dan kelapa muda. Sambil menyantap rujak dan meyeruput segarnya air kelapa, kita juga bisa melihat hamparan sawah dan pesawat yang lepas landas. Namun, kami memilih untuk menyantap rujak di tempat lain. Rujak Bang Agam, begitu kami menyebutnya. Letaknya tidak jauh dari tempat kami hendak melihat pesawat, tepatnya di Jalan Bandara Lama.

rujak aceh
Rujak Aceh Blang Bintang hasil racikan bang Agam

Kami memilih rujak yang diramu oleh Bang Agam karena memang rasanya lebih nendang dibandingkan dengan rujak Blang Bintang lainnya. Sejak sepuluh tahun yang lalu, saat saya masih duduk di bangku SMA, saya sudah berlangganan rujak racikan lelaki ini. Kebetulan sekolah saya letaknya di Kecamatan Kuta Baro yang berbatasan langsung dengan Blang Bintang.

Baca juga: Dari Labu Jadilah Timphan, Lezatnya Kudapan Khas Aceh

Ketika kami tiba di warung yang dindingnya terbuat dari kayu itu, terlihat masih banyak meja dan bangku yang kosong. Mungkin karena kami datangnya sebelum Ashar sehingga tempat itu masih terlihat lenggang. Biasanya, kalau kita berkunjung ke sana pada sore hari, maka berisap-siaplah untuk mengantre.

rujak aceh

Ketika Bang Tunis memarkirkan motor tepat di depan warung, Bang Agam, sang pemilik warung sekaligus peracik rujak menyambut kami dengan senyum khasnya. Lelaki paro baya itu menyilakan kami untuk mengambil posisi. Selain di dalam warung, Bang Agam juga menyediakan meja dan bangku di halaman belakang warung. Kami pun memilih bangku di dalam dan memesan dua piring rujak.

Sambil menunggu pesanan dihidangkan, saya bisa melihat langsung bagaimana Bang Agam membuat rujak Aceh tersebut.

Di atas meja berukuran 1×0,5 meter, semua peralatan membuat rujak tersusun rapi. Ada toples berisi garam, gula aren, dan cobek. Di belakang meja itulah Bang Agam berdiri. Di atas dinding tepat di belakangnya tergantung hiasan dari kayu yang bertuliskan Ayat Kursi. Sementara buah-buahan yang akan diolah, terletak di atas meja bagian depan.

rujak aceh
Bang Agam sedang bersiap-siap membuat rujak

Layaknya rujak yang lain, rujak Aceh Blang Bintang ini juga terdiri dari beragam buah. Ada mangga muda dan matang, kedondong, ketela, nenas, mentimun, pepaya mengkal, jambu, dan pisang batu. Yang membedakan rujak Aceh ini dibanding rujak kebanyakan adalah buah batok dan rumbia, dua buah khas Aceh.

rujak aceh
Buah-buahan untuk membuat rujak
rujak aceh
Buah batok dan rumbia yang menjadi buah khas untuk rujak aceh

Bang Agam kemudian mengulek cabai rawit dengan sedikit garam di dalam cobek, kemudian mencampurkan pisang batu dan rumbia yang telah ditumbuk kasar. Berikutnya ia juga memasukkan kacang goreng kemudian menumbuknya. Baru setelah itu ia mencampurkan aneka buah yang telah dirajang kasar ke dalam cobek besar yang terbuat dari kayu tersebut.

“Jumlah cabe rawitnya sesuai selera. Kalau mau yang pedas, cabenya dibanyakin. Kalau tidak pedas, beberapa buah saja,” jelas Bang Agam.

Lelaki yang saat itu mengenakan kemeja garis-garis itu kemudian menambahkan gula aren ke dalam campuran rujak. Melihatnya membuat rujak Aceh ini, air liur saya hampir menetes. Rasanya tidak sabaran untuk segera mencicipi rujak Blang Bintang ala Bang Agam itu.

rujak aceh

“Biar tidak begitu manis, kita tambangkan buah batok yang rasanya agak asam ini,” ungkap bang Agam sambil mengupas buah bulat berwarna kehijauan dan berbentuk seperti batok kelapa ini. Ya, saya pernah beberapa kali makan buah batok ini. Kalau dimakan begitu saja, rasanya asam hampir mirip asam jawa. Namun, buah ini terasa lebih lezat jika ia dicampur dengan gula.

rujak aceh

rujak aceh

Akhirnya rujak pesanan saya dan Bang Tunis pun selesai. Rasanya tidak sabaran lagi untuk segera mencicipi rujak Aceh ini. Campuran buah-buahan segar dengan rumbia, kacang tanah, buah batok, dan gula aren ini. Tidak hanya potongan buah-buahannya saja yang lezat, tetapi kuahnya yang manis juga sayang untuk tidak dihabiskan. Walhasil, dalam beberapa menit, sepiring kecil rujak Aceh asli Blang Bintang ini ludes seketika.

rujak aceh

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

36 Comments

Leave a Reply to CatatanRia Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: