Opini

Roger Danuarta, Narkoba, dan Sosok yang Introvert

Foto Roger Danuarta, sumber : kapanlagi.com

Tadi pagi saya tidak sengaja menonton gosip di salah satu televisi swasta dan tiba-tiba muncul sosok Roger Danuarta di sana. Artis berwajah oriental ini kalau tidak salah melejit pas anak-anak muda lagi demam F4. Itu lho artis Taiwan yang terkenal dengan drama Meteor Gardennya. Nah, di Indonesia juga ada jiplakan drama romantis tersebut yang berjudul Siapa Takut Jatuh Cinta. Di sinetron ini Roger ikut bermain bersama Leony, Indra L Brugman, Steve Imanuel, dan Jonathan Frizzi. Jujur nih, waktu masih ABG dulu sempat ngikutin sinetron itu apalagi melihat aksi coolnya Roger Danuarta yang meniru gaya  Vic Zhu.

Setelah di sinetron yang kurang kreatif karena meniru Meteor Garden, saya sudah jarang melihat Roger. Bukan karena doski jarang nongol di televisi, tetapi karena waktu itu saya masuk SMA berasrama dan tidak ada TV di sana. Si Roger mah tetap terkenal sebagai artis, model, dan penyanyi. Nah, saya baru melihat kembali Roger Danurta di infotaiment ketika Shela Marcia yang saat itu menjadi tunangannya ditangkap aparat kepolisian karena narkoba. Namun, Roger beruntung karena hanya Shela saja yang dianggap terlibat sedangkan ia tidak.

Dan tadi pagi, di acara gossip itu si Roger mengaku kalau dirinya memang menggunakan narkoba. Bahkan saat ditangkap oleh polisi pada hari Minggu tanggal 16/2 kemarin, Roger dalam keadaan sakaw karena overdosis. Ia tidak sadarkan diri dan jarum suntik masih menancap di pembuluh darah tangannya. Bahkan sebelum ia sadar, banyak isu yang mengabarkan kalau anak dari Jhonny Danuarta itu telah meninggal dunia.

Well, pasti bingung kenapa tiba-tiba saya menulis tentang Roger Danuarta. Tenang saudara-saudara, saya tidak ngefans kok sama Roger, hanya saja kasus narkoba yang menjeratnya ke kantor polisi membuat saya berpikir, duh orang secakep, sekaya, dan seterkenal Roger kok bisa-bisanya menggunakan barang haram itu. Apa sih yang tidak dimiliki Roger? Tidak menjadi artis pun dia sudah kaya, orang tuanya sangat memanjakan dia, dan teman-temannya juga sayang sama dia? Apalagi yang kurang coba?

Menarik apa yang dipaparkan oleh Popy Amalia, psikolog yang diwawancarai oleh tim infotaiment tersebut. Wanita itu mengatakan bahwa banyak faktor yang membuat Roger dan mungkin jungkies lainnya lari ke narkoba. Misalkan saja Roger, ia lahir dari keluarga yang broken home. Orang tuanya berpisah dan ia dibesarkan oleh ayahnya. Sang ayah memang sangat memanjakan si anak, apa yang Roger inginkan selalu dituruti. Namun, ayahnya juga sibuk dengan beragam aktivitas. Roger kecil akhirnya tumbuh menjadi pribadi yang introvert atau tertutup. Ia kembali terpukul ketika sang ayah yang juga sangat dekat dengannya meninggal dunia.

Memang, sosok yang memiliki kepribadian introvert ini terlihat tidak memiliki masalah, ia bahkan sering terlihat bahagia. Namun, kenyataannya orang-orang tersebut memendam kesedihan dan enggan menceritakannya pada orang lain. Apalagi Roger yang juga seorang artis, ia dituntut untuk selalu terlihat bahagia. Walhasil, ketika ia tidak sanggup lagi menahan beban tersebut, ia akan melampiaskan kesedihannya, syukur jika ia memiliki orang yang tepat untuk bisa diajak curhat, tapi kalau sampai ia salah bergaul bisa-bisa anak tersebut terjerumus ke dalam jeratan narkoba. Dengan menggunakan narkoba, ia merasa bahagia bahkan kebahagiaan yang diinginkan bisa 5 kali lebih cepat. Beban yang dipendamnya hilang. Ketika berhenti, ia kembali sedih dan kesedihannya baru hilang ketika ia kembali menggunakan narkoba. Sampai akhirnya orang tersebut mengalami kecanduan hingga overdosis.

Hal ini tidak hanya dialami oleh Roger,  banyak pasien di RSJ yang mengalami gangguan jiwa berat rata-rata disebabkan oleh narkoba. Ada yang karena sabu-sabu, morfin, atau pun putaw. Tidak sedikit dari mereka berasal dari keluarga berada dengan pendidikan yang tinggi. Ketika saya tanyakan pada keluarganya tentang kehidupan sang pasien sebelum menderita gangguan jiwa, jawaban mereka rata-rata karena mereka tidak tahu tentang anaknya karena sang anak tidak.

 “Anak saya itu tertutup, Bu. Jarang dia menceritakan kalau ada masalah. Dan saya pun tidak pernah menanyakannya. Saya berpikir dia baik-baik saja karena memang selama ini dia tidak pernah berbuat sesuatu yang membuat saya marah. Malah dia sangat penurut.” Begitulah ungkap para orang tua  saat saya tanyakan tentang kepribadian anak mereka.

Tidak jarang pula, tahanan-tahanan yang dibawa aparat kepolisian dengan kasus pemakaian dan pengedaran narkoba ke rumah sakit untuk kami periksa kesehatannya terlihat begitu rapi dan charming. Andai saja polisi tersebut tidak memberitahu kalau mereka adalah pengguna sabu-sabu yang akan disidangkan kasusnya di pengadilan, saya dan teman-teman lain akan berpikir kalau mereka juga anggota kepolisian. Namun euforia yang tampak dari wajah pemakai narkoba jelas berbeda dengan rasa bahagia yang memang dirasakan secara alamiah.

Kasus yang dialami Roger mungkin belum separah penderita gangguan jiwa berat yang akhirnya harus dirawat bertahun-tahun di RSJ. Roger Danuarta masih bisa sembuh seperti sediakala asalkan mendapatkan rehabilitasi dan juga perhatian yang lebih dari keluarga dan teman-temannya. Bermacam terapi bisa diterapkan dengan tujuan agar otak sang pemakai narkoba dapat kembali menyadari bahwa ia bisa hidup tanpa narkoba.

Saat ini peredaraan narkoba begitu marak di Negara kita, barang haram itu begitu mudah didapatkan bahkan dari aparat penegak hukum sekalipun. Karenanya, apa yang dialami Roger Danuarta dapat menjadi pelajar bagi kita semua terutama orang tua untuk lebih memberi perhatian kepada sang buah hati.  Anak-anak yang introvert memerlukan perhatian yang lebih khusus dibandingkan dengan mereka yang extravert (terbuka).  Jadi, mari kita semakin mengenali kepribadian anak-anak kita agar kita bisa mengarahkan mereka ke jalan yang benar. Say No To Drug!

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

27 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: