Opini

Pelukan Mama; Obat Paling Mujarab

Pagi ini udara sangat dingin. Rasanya enggan beranjak dari tempat tidur dan melepaskan selimut tebal. Tangse memang selalu dingin. Dari malam sampai pagi menjelang dinginnya udara merasuk sampai ke sumsum tulang. Ditambah lagi hujan deras mengguyur dari semalaman sampai subuh tiba. Blurrr. Selimut tebal tidak mampu menghangatkan badan. Pakaian tebal, kaus kaki, dan jilbab pun harus dikenakan untuk mendapatkan kehangatan.

Kedinginan semakin menjadi malam ini. Aku sedang tidak fit. Kemarin seharian aku diare. Diare akut cair dengan dehidrasi ringan sedang. Penyebabnya kemungkinan besar virus karena tidak ada tanda-tanda infeksi bakteri atau amoeba. Tubuhku semakin lemas karena aku memaksakan diri untuk melanjutkan puasa. Padahal mama sudah menyuruhku berbuka. Tapi aku tak mau.

Malam hari diareku berkurang. Ah, penyakitnya ngga gaul banget ya. Hehehe. Ketahuan kalau berbuka suka makan yang macam-macam. Dehidrasi juga teratasi setelah minum teh manis dan beberapa gelas air putih. Tapi tubuhku meriang dan demam. Seluruh badanku pegal-pegal. Aku takut kalau terkena tifus. Gejala yang kualami memang lebih mengarah ke sana. Gangguan sistem pencernaan sangat khas, lalu demam. Tapi demamnya baru sehari. Sedangkan demam tifoid, nama lain tifus itu baru bisa didiagnosa jika demamnya lebih seminggu. Atau jangan-jangan aku terkena DBD? Tapi demamnya subfebris. Nyeri sendi juga tidak seberapa. Mudah-mudahan bukan DBD.

Sebenarnya dibalik rasa sakit ini, aku bersyukur. Bersyukur karena dengan sakit aku bisa mengulur waktu untuk kembali ke Bireuen. Hehe. Sejak awal puasa kemarin aku memang sedang libur. Shift jagaku diganti oleh teman sampai hari ini. Jadi nanti aku yang menggantikan shift jaganya. Kalau sakit kan ada alasan aku ngga pulang lebih awal. Apalagi kalau sakit di rumah ada mama yang rawat.

Mama sudah mewanti-wantiku untuk minum obat.

“Minum antasida dulu, biar sakit perutnya berkurang. Terus itu dikotak obat ada paracetamol.” pintanya. Akupun nurut. Sebelum makan aku mengunyah dua tablet antasida.

Huekk. Langsung saja reflek muntahku mengeluarkan obat maag itu. Bukannya kasihan melihat anaknya yang sedang muntah, mama malah tertawa.

“Gimana pasiennya mau diminum obat, orang dokternya sendiri muntah waktu minum obat.”

“Hehe. Ini kan di depan mama aja. Kalau di depan pasien, dokternya sok bijak.”

Walhasil aku tidak minum obat malam itu. Aku memang jarang minum obat. Sakit sedikit aku usahakan untuk tidak mengonsumsi obat-obatan. Paling minum air putih yang banyak dan minum madu. Kalau ada makanan tertentu yang menyebabkan sakit, ya dikurangi saja makannya.Sebenarnya memang demikian. Tidak semuanya penyakit perlu obat. Seperti demam yang disebabkan virus misalnya. Penyakit ini self limited disease, sembuh sendiri tanpa perlu minum obat. Tapi terkadang kita sering tidak sabaran. Demam sedikit langsung minum paracetamol atau yang lebih parah minum ibuprofen. Sembuh memang demamnya, tapi sistem imun dalam tubuh jadi malas. Jadi besok-besok kalau sakit lagi, sistem pertahanan tubuh kita udah ngga mau berkerja lagi. Terpaksa deh minum obat lagi. Ada kalanya tubuh memang perlu istirahat. Ibarat mesin yang setiap hari dipakai dan akan mengalami kerusakan, begitu juga dengan tubuh. Dengan istirahat yang cukup dan makan makanan yang bergizi InsyaAllah sembuh.

Alhamdulillah sekarang sakit perut, diare, dan demamku sudah berkurang. Saat bangun sahur tubuhku sudah sedikit enakan. Obatnya? Dipeluk sama mama semalaman. Jadi langsung sembuh dan ngga perlu minum obat. Pelukan mama memang obat yang paling mujarab. Bukan hanya sekali dua kali. Dulu-dulu kalau sedang sakit, obatnya juga sama. Istirahat dan dipelukan mama.

Sekarang jam sudah hampir pukul sebelas siang. Tapi udara Tangse masih sangat dingin. Matahari belum menunjukkan senyumnya. Kabut masih menutupi perbukitan di belakang rumahku. Sepertinya hari ini akan hujan lagi.

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

5 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: