Feature,  PhotoBlog,  Traveling

Pantai Itu Bernama Manohara

Menikmati semilir angin di tepi pantai rupanya mampu menghapus penat setelah bekerja. Dahaga pun lenyap setelah menyeruput air kelapa muda nan segar. Manohara. Siang menjelang sore itu saya memutuskan untuk melepas lelah di sana.

Jangan dikira Manohara yang saya sebut adalah seorang artis mantan istri pangeran Kelantan, Malaysia. Atau pantai yang saya kunjungi itu milik sang wanita. Tapi Manohara itu nama pantai di Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya, Aceh.

Herankan, kok bisa pantai nan jauh di ujung Sumatra bernama Manohara? Saya yang tinggal bertetangga dengan kecamatan itu juga enggak kalah heran bin bingung. Ada hubungan apa si artis ibukota itu dengan nama pantai.

Usut punya usut, ternyata di sana terdapat cafe bernama Manohara. Cafe itu dibangun saat kasus artis mantan istri pangeran Fahri itu sedang booming. Dan saat cafe itu di bangun di pantai yang bernama asli Kutaran, hanya ada dua cafe lain di sana dan tidak bernama. Walhasil, karena nama cafe dan makanan yang disediakan menarik, orang-orang menyebut pantai itu dengan Pantai Manohara. Coba kalau waktu itu saya membangun cafe bernama Liza Fathia, pasti pantai itu bernama Pantai Liza Fathia. Mimpi kali ye…

Dibandingkan pantai-pantai lain di Aceh, keindahan Manohara jauh tertinggal dari pantai Barat-Selatan Aceh. Namun, jika disanding dengan pantai lain di Utara-Timur Serambi Mekah ini, maka Manohara layak dijadikan jawara.

Pasir putih keabu-abuan terhampar indah di bandan pantai. Gubuk beratapkan ijuk berbaris rapi menambah keindahan. Namun sayangnya, keindahan alam terusik oleh sampah-sampah dari pengunjung pantai dan pedagang.

Jarak untuk menempuh pantai juga terbilang jauh. Awalnya, saya mengira Manohara itu terletak di pantai yang tak jauh dari jalan yang kerap saya lalui saat pulang pergi ke Bireuen. Tapi asumsi saya ternyata salah. Pantai itu terletak di salah satu desa di Meureudu. Untuk sampai ke sana, saya harus masuk melewati kota tersebut. Setelah menempuh perjalanan dua puluh menit dari kota, maka tibalah saya di Pantai Manohara.

Kelapa muda menjadi pilihan menu saya hari itu. Dan menariknya cara penjual memotong kulit batok kelapa memebentuk sudut hexagonal. Ah, pasti tajam sekali parang yang digunakan sehingga bentuk yang indah itu terbentuk. Setelah menyeruput air kelapa nan segar, saya pun kembali pulang. Hari yang panas mengurungkan niat saya untuk bermain-main pasir atau menceburkan diri ke dalam laut.

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

10 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: