Life Story

Masa Kecil di Kampung, Antara Sungai dan Bermain

Ketika duduk di bangku SD, aku dan teman-teman sering menghabiskan waktu istirahat kami setelah pelajaran PENJASKES dengan mandi di sungai. Tidak jauh, hanya sedikit menempuh pematang sawah dengan berlari-lari kecil, kami akan sampai disana. Di sungai ini aku dan teman-teman biasanya bermain, berenang (walau sebenarnya aku juga tak bisa berenang sampai sekarang), menangkap ikan-ikan kecil, dan lain-lain. Orang tua kami juga kerap mencuci pakaian disini, karena memang jarang dari kampung kami ke sungai juga tidak terlalu jauh, hanya sekitar 200 meteran.

Oh ya, dulu ketika umurku sekitar empat tahun, paha sampai kakiku pernah dicubit habis-habisan oleh mama. Betapa tidak, pagi-pagi buta aku telah melarikan diri dari rumah hanya untuk bermain ke sungai. Aku pergi tanpa minta izin, karena aku tahu mama pasti tidak mengizinkanku. Waktu itu aku yang masih kecil berpikir mama itu tega sekali, jahat, masa aku dicubit hanya karena pergi ke sungai. Tapi aku yang telah besar sekarang, aku jadi sadar, mengapa mama melakukan hal itu. Bayangkan saja aku yang masih imut-imut ke sungai sendirian, apa pun bisa terjadi, bukan? Bisa saja aku terhanyut, atau di mangsa babi hutan yang kerap menyisir tepi sungai di waktu pagi atau aku bisa saja diculik oleh orang jahat kemudian dijual ke luar negeri orang, setidaknya itulah cara mama menakut-nakutiku saat itu.

Tapi, kalau ada kesempatan untuk ke sungai, kupastikan kalau aku akan bermain sepuasnya. Kadang aku membangun bangunan dari pasir sungai yang kasar, sebenarnya aku ingin membangun rumah-rumahan, tapi aku tidak bisa! Sampai sekarang pun aku tetap tidak bisa. Sering juga aku dan teman-temanku bermain engklek di tanah berpasir di tepi sungai di sela-sela kami mencuci pakaian di sore hari. Kalau siang aku dan juga yang lain tidak berani mandi di sungai, karena orang tua di kampung mengatakan kalau siang hari jin sedang memandikan anak-anaknya? oh ya? kalau sudah dibilang begini, kami ya nurut saja, gak pernah membantah atau nanya balik. Sedang anak sekarang, kalau dibilang begituan, pasti jawabannya “jin itu kan gaib ma, mana bisa kita lita dia lagi mandiin anaknya atau tidak”, kalau yang udah remaja dan berani, mungkin malah bilang, “kalau nampak, sekalian ajak selfie aja itu jin”, hehe.

Waktu kecil kita, kita masih bisa menikmati indahnya alam dengan bermain. Tapi melihatnya penebangan liar yang sekarang terjadi, kadang aku berpikir, akankan anak cucu kita juga sempat menikmati indahnya alam negeri ini? Semoga saja amanah anak cucu kita ini bisa kita jaga dengan baik, tidak dirusak hanya untuk kepentingan sesaat, semoga.

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

One Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: