Life Story

Marhaban ya Ramadhan

Ramadhan tinggal sejengkal. Tidak sampai satu hari bulan suci itu akan tiba. Berbahagiakah kita menyambutnya? Tentu, kesumringahan hadir ketika aroma bulan yang penuh ampunan itu hadir. Ketika meugang dilaksanakan. Maka jelaslah ramadhan akan datang dua hari kemudian.

Meugang, sebuah tradisi masyarakat Aceh menyambut bulan turunnya Al Quran. Di setiap rumah tercium aroma daging yang dimasak dengan aneka resep. Rendang, kari, sup, masak puteh, ah beragam bau rempah-rempah terhirup indra penciuman.

Pagi Senin yang ditemani rintikan hujan dan udara dingin, pasar Tangse telah ramai oleh mereka yang menjual daging kerbau dan mereka yang membeli. Harganya tidak melonjak meski BBM naik. Para pembeli hanya merongoh dompet sebanyak seratus dua puluh ribu rupiah. Sama seperti meugang sebelumnya. Dan ketika hari beranjak meninggalkan siang, berton-ton daging telah laku terjual.

Meugang telah dilaksanakan dan esok ramadhan datang. Suka citakah kita? Saya yakin, semua kita bergembira menyambut datangnya bulan penuh ampunan. Lantas apa yang kita harapkan dari ramadhan? Mampukah kita menyucikan diri di dalamnya? Menghapus segala perbuatan tercela dan dibenciNya? Insyaallah. Kita pasti bisa.

Apa yang menjadi target di bulan mulia ini? Ah, malu rasanya jika saya menargetkan banyak hal yang harus saya tempuh. Malu jika nanti hanya tanda palang yang tertera saat saya mengevaluasikannya kembali. Saya hanya ingin lebih baik dan tidak ingin menunda-nunda kebaikan. Fastabiqul khairat. Berlomba-lombalah dalam kebaikan. Begitu titah sang Maha Kuasa. Tak jarang, seruan Tuhan saya abaikan. Menunda-nunda seakan telah menjadi bagian hidup saya. Menunda shalat ketika waktunya tiba. Menunda menyelesaikan tugas karena deadlinenya masih lama. Padahal, selama saya menunda setiap hal yang harus saya lakukan, saya malah tidak melakukan apa-apa. Dan pada ramadhan kali ini, saya ingin menjadi hamba yang fastabiqul khairat dengan tidak lagi menunda shalat dan berbagai kewajiban lainnya. Amiin.

Dan pada akhirnya saya menucapkan Marhaban ya Ramadhan. Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga Allah senantiasa menerima setiap amal ibadah yang kita perbuat. Maafkanlah segala khilaf dan dosa. Entah itu karena lisan yang tidak terkontrol saat berucap atau tulisan yang menimbulkan sakit hati saat dibaca. Mari kita mensucikan diri di bulan nan penuh ampunan ini.[]

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

12 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: