Lelaki Lebih Gila dari Wanita

Tidak terasa, empat minggu sudah saya menjalani kepaniteraan klinik senior alias koas di bagian ilmu kesehatan jiwa RSJ Banda Aceh. Empat minggu yang memberikan aneka rasa. Senang, sedih, tegang, takut, aneh. Semuanya bersatu menjadi kenangan berharga dalam hidup dan saat saya mengabdikan diri dalam masyarakat kelak.

Senang karena di sana saya memiliki ilmu yang baru. Saya menjadi paham bagaimana seseorang dikatan mengalami gangguan jiwa. Saya bisa mendapat teman-teman baru yang saat itu nikmat sehatnya sedang dicabut oleh Allah. Dapat menjadi pendengar yang budiman mengenai kelus kesah mereka. Di sana saya juga menjadi paham, bahwa pada dasarnya orang yang mengalami gangguan jiwa itu hanya proses fikir mereka yang terganggu sedang ingatan tidak. Intelektualitas pasien tersebut sama sekali tidak terganggu. Ketika sembuh kelak, mereka dapat mengingat apapun yang mereka alami ketika sakit atau sebelumnya.

Saya sedih, ketika melihat pasien-pasien di sana melimpah ruah. Ruangan yang seharusnya menampung tiga puluh orang, kini dipenuhi oleh depalan puluh kepala. Pasien yang seharusnya bisa pulang, tetapi keluarga tak kunjung datang menjemput. Sedih memikirkan jika saya yang mengalami nasib seperti mereka. Sedih, karena terkadang kelakuan kita yang tidak kita sadari bisa membuat orang mengalami gangguan jiwa. Namun, semua itu membuat saya semakin bersyukur pada Allah atas segala nikmat yang telah dikaruniakan-Nya.

Tegang dan takut karena yang saya hadapi adalah orang-orang yang sakit pikirannya. Yang bisa melakukan apa saja tanpa ada hukum yang bisa mengadilinya. Mereka bisa begitu ganas jika tidak dalam pengobatan. Bayangkan saja, tak jarang di antara pasien itu masuk karena sebelumnya telah melakukan pembunuhan. Dan ada satu diantara pasien yang telah memutilasi ayahnya menjadi tujuh bagian.

Saya merasa aneh karena hampir seluruh penghuni RSJ itu adalah kaum Adam. Dari kurang lebih dua belas balee (ruangan) yang disediakan rumah sakit, hanya tiga balee yang isinya perempuan. Jika dipersentasekan hanya 25 persen dari seluruh penghuni RSJ (kurang lebih 600 orang) itu adalah perempuan, selebihnya adalah lelaki. Kenapa bisa begitu ya?

Setelah membaca berbagai referensi, saya pun mendapat jawabannya. Pada dasarnya, perempuan sangat rentan terkena gangguan jiwa. Bahkan untuk gangguan ringan, perempuan dua kali lebih berisiko dibanding laki-laki. Gangguan seperti depresi, kecemasan, dan keluhan somatik didominasi perempuan dengan angka sekitar 1 dari 3 orang dan merupakan masalah kesehatan serius.

Namun untuk gangguan jiwa berat dan harus dirawat , maka anggapan perempuan lebih lemah dibandingkan dari laki-laki mungkin tak lagi relevan untuk dibenarkan. Setelah berdiskusi singkat dengan dr. Juwita Saragih, Sp.KJ, salah satu psikiater yang dimiliki RSJ Banda Aceh, ternyata hal ini dipengaruhi oleh hormon estrogen dan endorphin yang dimiliki oleh wanita. Hormon tersebut sangat berpengaruh terhadap daya tahan seorang wanita terhadap rasa sakit dan diduga memiliki hubungan dengan jumlah pasien wanita yang dirawat.

Estrogen dan Endorfin

Para ahli telah melakukan penelitian untuk membandingkan daya tahan terhadap rasa sakit  antara kaum pria dan wanitaini lebih berbasis ilmiah ketimbang beberapa pendapat yang menyatakan bahwa perempuan mungkin memiliki sifat lebih tabah sehingga kelihatan lebih bisa menahan sakit yang dirasakannya.

Ada lagi beberapa pendapat lain yang mengatakan bahwa perempuan secara fisiologis lebih sering berhadapan dengan rasa sakit di sepanjang proses mekanisme kehidupan mereka, seperti rasa sakit di waktu menstruasi atau dalam proses melahirkan.

Dalam  ilmu kedokteran, ada beberapa faktor yang turut mempengaruhi hal ini.  Penelitian yang dilakukan di sebuah institusi di Columbia University, AS,  mencoba menghubungkannya dengan peranan hormonal manusia, dan penelitian ini ternyata banyak didukung banyak ahli saraf lain yang melakukan studi investigasi mereka terhadap daya tahan waniat terhadap rasa sakit yang dinilai lebih tinggi dibandingkan pria ini.

Rasa sakit yang mereka sebutkan dipengaruhi oleh sangat banyak faktor di dalam mekanisme tubuh, salah satunya berkaitan erat  dengan peranan hormon di tubuh manusia, dan salah satu diantaranya adalah hormon estrogen yang dikenal lebih spesifik sebagai hormon wanita.

Hormon yang dihasilkan di indung telur atas rangsangan LH dan FSH (Luteneizing Hormone dan Follicle-Stimulating Hormone) bersama progesteron dalam merangsang pelepasan sel telur ini berperan dalam memproduksi endorfin, suatu zat kimia otak yang termasuk asam amino tubuh dan berperan dalam mengurangi serta mengatasi respons sakit.

Endorfin itu sendiri berperan tak hanya dalam mengatasi rasa sakit alami  di dalam tubuh seperti kram di saat menstruasi namun juga dalam menjaga kebugaran emosi dan suasana hati bersama hormon lainnya, serotonin.

Lebih jauh mereka menjelaskan bahwa ketika level estrogen mencapai tingkatan tinggi, semakin besar peningkatan jumlah area diotak yang menyediakan area bagi endorfin untuk melakukan aktifitasnya, dan semakin banyak area ini maka akan semakin banyak pula endorfin yang bisa digunakan tubuh dalam mengatasi rasa sakit.

Proses ini mereka jelaskan kaitannya dengan kejadian saat seorang wanita mengalami proses melahirkan dimana level endorfin secara fisiologis sudah dirancang sedemikian rupa untuk mengurangi rasa sakit yang dihadapi oleh mereka.

Hormon ini juga membuat para wanita lebih tanggap dan lebih dini mengenali rasa sakitnya dibandingkan dengan hormon pria yang dinilai kurang peka terhadap rasa sakit, namun sekaligus juga tak punya peranan banyak terhadap produksi endorfin dalam mengatasi rasa sakit tadi.

Mengenai kadar estrogen yang berkurang saat seorang wanita memasuki tahapan menopause sendiri, belum bisa dijelaskanlebih lanjut, namun mereka menyimpulkan bahwa hormon estrogen dan endorfin, yang juga banyak diproduksi ketika berhubungan intim dan olahraga secara teratur ini memegang peranan dibalik kekuatan para wanita itu, paling tidak selama periode tertentu dalam hidup mereka.

Nah, begitulah ulasan singkat tentang hubungan antara gangguan jiwa berat pada wanita dengan hormon estrogen yang mereka (termasuk saya) miliki.  Jadi, setelah di koas di bagian Ilmu Kesehatan Jiwa, saya semakin bangga menjadi wanita 🙂

sumber foto : antaranews.com

Published by Liza Fathia

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

Join the Conversation

11 Comments

  1. Selama ini kesehatan jiwa kurang mendapat perhatian dan prioritasnya lebih rendah dibanding program kesehatan lainnya. Sebagian besar rumah sakit tidak menjalankan program kesehatan jiwa dengan alasan dalam program pengembangan. Masalah kesehatan jiwa berakibat terjadiny pelanggaran HAM pada orang masalah kejiwaan dalam bentuk perlakuan yang tidak manusiawi. Mereka mengalami diskriminasi (dipasung/dikurung) oleh keluarganya bahkan mengalami penganiayaan. Upaya promotif dan preventif dalam menangani kasus tersebut perlu dilakukan secara intensif oleh semua pihak (pemerintah, masyarakat dan keluarga pasien).

  2. bis benar bisa slah,setahu sy yang paling tegar dalam menghadapi maslah itu laki-laki,tapi itu semua kembali ke pribadinya masing-masing sih

  3. Menarik…
    Saya penasaran juga dengan perbedaan endorfin pada laki-laki dengan perempuan. Apakah fisiologisnya emang berbeda gitu…

    Btw, keknya betul ya kalau perempuan itu lebih banyak menderita sakit daripada laki-laki. Tapi tetap tegar. Selamat hari Kartini deh buat Liza, selamat beraktivitas aja… *gak nymbung 🙂

  4. Pengaruh Hormon memang sangat mempengaruhi
    dan membuat para wanita lebih tanggap dan lebih dini mengenali rasa sakitnya dibandingkan dengan hormon pria yang dinilai kurang peka terhadap rasa sakit, namun sekaligus juga tak punya peranan banyak terhadap produksi endorfin dalam mengatasi rasa sakit tadi.

Leave a comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: