Kesehatan,  Kuliner

Konsumsi Dedak Dapat Turunkan Berat Badan

IMG_1386.JPGPernah dengar bekatul atau dedak? Teman-teman yang memelihara ayam atau bebek pasti tidak asing dengan dua nama yang saya sebutkan tadi. Yang tinggal di desa pun demikian, istilah dedak pasti sudah melekat diingatan. Begitu pun dengan saya, yang pernah memelihara ayam/bebek dan tinggal di pedesaan, bekatul atau dedak sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Tanpa dedak, hidup ini kurang lengkap. Apalagi ibu saya, rela melanglang buana kemana saja untuk mencari sisa gilingan padi ini. Maklum saja, dedak adalah makanan ternak peliharaan kami.

Namun, apa jadinya jika pakan ternak itu disuruh makan ke kita? Hii… Ngebayangi saja saya enggak sanggup. Tapi kalau yang menawarkan itu suami tercinta?

Awalnya saya sempat tersinggung saat suami menyuruh saya makan dedak.
“Dek, Adek makan dedak aja biar kurus,” pintanya saat saya sedang lahap menyantap nasi plus terasi dan kepala ikan tongkol tumis.

Mendengar itu saya pura-pura ngambek. Duh, tega nian suami saya. Masa istrinya disuruh makan makanan bebek.
“Bang, Abang enggak sanggup ngasih makan adek lagi ya? Kalau emang enggak sanggup bilang.”
“Benar lho, dedak itu bagus untuk diet karena bisa bikin cepat kenyang. Terus tinggi kadar vitamin B dan mineral.”
“Enggak percaya!”
Suami saya kadang suka usil. Jadi, apa yang diucapkannya terkadang meragukan.
“Betul lho, profesor gizi klinik sendiri yang bilang. Coba adek lihat, bebek aja bisa sehat makan dedak. Ayo dek, jangan sampai adek terserang sindrom metabolik gara-gara overweight.”

Hmm… Memang benar kata suami saya. Saat hamil, berat badan saya naik drastis sebanyak 20kg. Saya yang sebelum hamil memang sudah overweight dengan postur tubuh genoid, tambah bulat saat mengandung dulu. Kini setelah melahirkan, berat badan saya masih belum ideal. Walaupun kata orang menyusui itu bisa bikin kurus, tapi itu belum berlaku untuk saya. Mungkin karena baru dua bulan menyusui kali ya. Jadi saya harus melakukan apa?

Diet dengan cara mengurangi makan? Big No! Haram hukumnya diet untuk busui. Lalu? Makan dedak? Oh tidaak… Saya juga tidak mau terserang sindrom metabolik gara-gara kegemukan. Tau kan apa itu sindrom metabolik? Itu lho, kumpulan penyakit seperti hipertensi, diabetes mellitus, dan dislipidemia. Nah, salah satu faktor resiko penyakit ini adalah KEGEMUKAN alias obesitas. Idealnya, saya harus menurunkan 15kg berat badan untuk mencapai indeks masa tubuh yang normal.

“Abang ini, mentang-mentang lagi neliti tentang metabolic syndrome, kita-kita juga kena getahnya.”
“Ya, ini juga demi kebaikan kamu, Dek. Kalau adek langsing, tambah cantik, kan abang juga yang senang :)”
Eaaaaa… Mulai deh, si Abang merayu. Huh, bilang aja malu punya istri dudut 🙁

Penasaran dengan kuliah singkat dari suami, saya pun mencari tahu tentang manfaat dedak. Jreng jreng. Ternyata apa yang dikatakan suami saya bukan hoax semata. Jadi malu udah negative thinking duluan. Dedak benar-benar bisa menjadi makanan bagi mereka yang ingin mendapatkan tubuh yang ideal tanpa kekurangan gizi. Yup, makanan yang sering dijadikan pakan ternak ini ternyata mengandung banyak gizi.

Seperti yang dituliskan oleh Nagendra Pasad, dkk dalam jurnal ilmiah yang berjudul Health Benefits of Rice Bran, dedak yang selama ini dijadikan pakan ternak ternyata tinggi akan antioksidan dan phytonutrients (nutrisi penting dari tumbuhan) seperti oryzanols, tocopherols, tocotrienols, phytosterols dan serat yang penting bagi tubuh. Konsumsi dedak juga bisa menurunkan kadar kolestrol, mencegah kanker, mengurangi gejala-gejala saat menopause dan post menopause.

Hmm… Rupanya dedak tidak hanya bermanfaat untuk ternak saja, tapi juga bisa menguruskan sang pemilik ternak dan mencegahnya dari berbagai penyakit. Karena kaya akan zat gizi, banyak orang yang menjadikan dedak sebagai pengganti nasi. Memodifikasikan bekatul ini menjadi kue atau biskuit sehingga sangat lezat dimakan. Lalu, akankah saya beralih untuk menggunakan dedak untuk diet saya? Hm… Pikir-pikir dulu ya, sobat. Kalau ada yang pernah mencoba, share ke saya, ya! siapa tahu bisa termotifasi.

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

6 Comments

  • Cough

    Tapi kok dedak sih ya mbak … saya sebelum baca tuntas jadi kaget hehe tapi iya juga sih klo mematikan pasti ternak pada habis 😀

  • Bams

    mungkin ini alasan kenapa bebek (yang notabene memakan dedak) tidak ada yang overweight 😀
    terima kasih ya mba, tulisannya begitu bermanfaat dan tentunya patut untuk dicoba 🙂

  • Alinebula

    Turun 16 kilo kurang Dr 3 bulan tapi setelah berhenti makan, berat tetap stabil. Padahal sy makan bekatul cuma sbg pengganti nasi, tetep makan ayam daging snack. Kalo pagi beli topping d abang bubur ayam, buburnya pale bekatul. Pokoknya ga makan nasi ama belajar minum teh tawar, gulanya paling klo pengen jajan martabak atau kue ape

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: