Uncategorized

KINTA, SEJUTA INSPIRASI

Akulah penjagamu

Akulah pelindungmu

Akulah pendampingmu

Disetiap langkah-langkahmu

Kau bawa diriku ke dalam hidupmu

Ke basuh diriku dengan rasa sayang

Senyummu juga sedihmu adalah hidupku

Kau sentuh cintaku dengan lembut

Dengan sejuta warna

Sebelas januari bertemu…

Menjalani kisah cinta ini…

Kinta terus mencoret-coret buku tulisnya. Inspirasi tak jua muncul untuk menghasilkan sebuah tulisan yang akan dimuat pada salah satu rubrik di buletin yang dipimpinnya. Belum lagi sms dari manager pelaksana yang mewanti-wantinya untuk segera menyelesaikan tugasnya yang keburu deadline. Dan saking susahnya memunculkan sebuah inspirasi, Kinta memutuskan menulis lirik-lirik 11 Januarinya Gigi yang sedang didengar melalui ponselnya. Sebagai tulisan yang nantinya akan dimuat.

“ Hmmmm, 11 Januari.” Desisnya dan tersenyum simpul. “ 11 Januari,” ulangnya lagi. “ Gila aja, kalo ini yang kukasih ke redaksi. Bisa-bisa menager mencak-mencak. Aku ngga bertanggung jawablah, inilah, itulah, yang akan keluar dari mulutnya sebagai respon terhadap tulisanku. Egp. Emang gue pikirin. Hehe…” Jelas aja Kinta berpikir seperti itu. Toh, tugasnya bukan menulis kembali lirik lagu, tetapi membuat cerpen. Walaupun ia berkedudukan sebagai pimred di buletin tersebut, tapi yang namanya tugas, tetaplah tugas.

Kinta memandang kamar berukuran 3 x 3 meter yang disewanya tiga bulan yang lalu. Menatap setiap sudut. Mencari inspirasi yang mungkin saja tergantung bersama pakaiannya di belakang pintu.

“Cowok banget,” Kinta tersenyum lagi. Kali ini lebih lebar. “ Kamarku ngga beda dengan kapal pecah,..cape deh.”

Di sudut kanan kamar, ada setumpuk pakaian kotor yang belum sempat dicuci. “ Maklumlah, sibuk nih. Belum lagi dengan tugas kuliah yang menumpuk, acara di organisasi yang ngga pernah usai, dan sekarang deadline tulisan.” Kinta membela diri. Kepada siapa? Nuraninya mungkin, yang udah ngga tahan lagi melihat kesemrautan kamarnya.

Lima gambar tertempel di dinding kamar berwarna biru muda itu. Posternya raja Rock ‘n Roll, Elvis Presley. Gambar anatomi tubuh manusia. Anatomi sistem digestive. Mading yang berisikan foto-foto, bukti pembayaran berbagai jenis belanjaan, dan aneka lomba yang dilaksanakan beberapa bulan ke depan. Poster terakhir, daftar kegiatan Kinta selama seminggu.

Gadis yang sedang kuliah di Fakultas Kedokteran di sebuah universitas negri ini beranjak dari meja belajarnya, mengambil spidol dan menuliskan jadwal kegiatan besok. Kinta terbelalak menatap tanggal di kalender. Besok itu tanggal 19. Jadwal deadline tulisan tanggal 19, dan tanggal 19 itu adalah besok, bukan lusa. So, apa yang harus ditulis dalam waktu sesingkat ini?

“Waduuuuhhhh,…” Kinta meringis dan menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya ngga gatal.

“ Makanya, kalo ada tugas itu dikerjain terus mumpung ada waktu. Jangan ditunda-tunda.” Nasihat mamanya ketika datang ke kost-an Kinta tanpa pemberitahuan sebelumnya dan menyaksikan kamar anak perempuan satu-satunya itu layaknya kapal pecah!!! Kinta tak bisa berkelit. Mau bilang ngga sempat karena jadwal kuliah yang padat, sangat tidak mungkin. Mama telah melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Kinta lagi seru-serunya main game Aspalt di laptopnya. Duh…

Kinta kembali menatap jadwalnya yang tertempel di dinding, kali ini fokusnya tidak pada jadwal yang seabrek itu tetapi pada kalimat yang tertulis di bagian atasnya “ Kewajiban yang kita miliki, lebih banyak dari waktu yang tersedia”

“ Kenapa aku terpojok seperti ini?” batinnya. Selama ini Kinta bukannya tidak sadar atas kehadiran kalimat pada poster itu. Namun, kalimat itu sekarang seolah tertawa lebar ke arahnya dan mengejeknya “ Aku bukan sekadar pajangan, Kin. Tapi, kamu harus mendalami dan mengerjakan setiap makna yang kumiliki. Nah lho, sekarang baru kena batunya, kan?”

Sangat menohok dan membuat Kinta gondok.

Kau bawa diriku ke dalam hidupmu kau basuh diriku dengan rasa sayang… ponselnya berdering. Dari Early, teman sekaligus komting angkatannya.

“ Ya, Ear. Ada apa?”

“ Cuma mau bilang besok jam 8 pagi kita kuliah obstruksi usus, Kin.”

Kinta terperanjat. “ Serius kamu? Bukannya besok kita hanya praktikum PK (patologi klinik) jam 2?”

“Jadwal yang sebenarnya emang gitu, tapi dokter Yadi harus ke luar kota besok lusa. Jadi, kalau ngga diganti secepatnya, takut ntar ngga sempat lagi. Lagian minggu depan kita ujian. Udah dulu ya, Kin. Aku mau hubungi yang lain.” Early memutuskan telpon.

“ OMG.” Kinta mengerang. “ Kok bisa semuanya jadi amburadul begini?”

Besok kuliah jam 8 dengan dokter Yadi, itu artinya ia harus menguasai materi yang akan dikuliahkan setidaknya lima puluh persen. Jika tidak, bersiap-siaplah untuk diceramahi di depan kelas. “ Bagaimana kamu mau jadi dokter, kalo anatomi dan fisiologi ini saja tidak tahu. Belum lagi jika organ tersebut patologis.” Dan bla bla bla… dua jam kuliah akan berlipat ganda.

Tapi kapan belajarnya? Deadline tulisan belum selesai karena inspirasi tak mau kompromi. Mau TA (titip absen ) besok? Impossible. Dokter Yadi selalu mengabsent mahasiswa satu per satu. Nah, kalau Kinta tidak ada ketika namanya dipanggil. Urusan akan semakin rumit. Kacau jadinya. Ia akan dipanggil pihak akademis, diinterogasi bak seorang tersangka, mau ngasih alasan apa kalau udah begini?..ah pokoknya ribet.. Lagian, ngga Kinta banget kalo TA. Ya, walau bagaimanapun Kinta, ia tetap berprinsip. Kalau memang ia tak bisa masuk kuliah, biar aja absentnya kosong. No space for TA. Peduli amat dipanggil sama pihak akademis, toh itu memang kesalahannya. Dan syukurnya ia selalu lolos dari pemanggilan itu karena ia memang tidak pernah absent kuliah kecuali beberapa kali dan itu tidak dipermasalahkan dosen yang mengajar apalagi pihak akademis.

“Allah help me…” minggu depan ujian. Bahan setumpuk dan belum satupun dibacanya.

Sosok Early yang sedang tersenyum melintas dibenaknya. Cowok yang sering diejek teman-teman dengan “balon” alias “banci salon” itu membuat Kinta semakin bersalah. Bukan karena perubahan jadwal kuliah yang baru saja disampaikan Early, tapi karena kehidupan cowok yang menjadi teman dekatnya selama kuliah. Hidup yang telah terpola, begitu Kinta menyebutnya. Dan bagi Kinta, itu sangat membosankan.

“Jalani aja hari ini untuk hari ini. Besok untuk besok,” ucapnya pada Early ketika membaca buku temannya itu yang penuh dengan catatan kuliah, jadwal harian, dan target yang ingin dicapai. “ untuk apa ditargetkan sampe segitunya, Lon.” (“Lon” diucapkan seperti pada kata balon)

Kinta juga tak urung mengejek Early dengan “balon” seperti teman-temannya yang lain. Namun, Early tidak pernah ambil pusing. Itu yang membuat Kinta kagum. Early tetap PD dengan apa yang dimilikinya.

Kali ini pikiran Kinta menuju ke kamar Early yang sempat dikunjunginya bersama teman-teman yang lain ketika Early sakit.

Kamar yang bersih dan harum. Sangat nyaman. Isi kamarnya lebih banyak dari kamar Kinta, tapi tersusun rapi. “Seperti kamar cewek,” ucapnya pada Early, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan kamarnya.

Early juga tinggal di kost-an dengan ukuran kamar yang lebih kecil dari kamar Kinta. Aktif di organisasi. Tapi masih sempat mengerjakan tugas-tugas lain. Masih sempat belajar. Dan merapikan kamar.

“ Ngga salah, Ear. Kalau kamu diejek banci sama anak-anak. Kelakuanmu tak ubah seperti cewek. Ribet. Disiplin seperti mamaku.” Cibir Kinta ketika mereka sedang makan mie pangsit di kantin kampus.

“Biarin aja. Daripada kamu, Kin. Cewek kelakuannya seperti cowok. Calon dokter, tapi amburadul. Ngga rapi,” balas Early, “Terserahlah, Kin. Aku tetaplah aku, walau bagaimanapun aku.

Mamaku bilang, dalam hidup harus memiliki objektivitas, dan prioritas yang akan dicapai. Dan aku ingin menjalankan hidup ini seperti yang mama bilang. Peduli amat dengan orang. Aku merasa nyaman dengan diriku.” Early menjelaskan panjang lebar ke Kinta dengan gaya gemulainya. Kinta ingin mengelak waktu itu, tapi tidak bisa. Apa yang dikatakan Early adalah benar.

Huh… Kinta terpaku mengingat kata-kata Early. Membayangkan tugas-tugas yang belum dikerjakan. Tulisan yang belum selesai. Jadwal kuliah yang berubah-ubah. Ujian di depan mata. Pakaian yang belum dicuci. Kamar yang berantakan. Dan orang tuanya yang pontang panting mencari nafkah untuk membiayai hidup dan kuliahnya yang jumlahnya tidak sedikit.

God,..

Objektivitas ?!?

Prioritas ?!?

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

3 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: