Uncategorized

Ketika Allah Dinomerduakan

Sore itu aku diundang tanteku untuk berbuka puasa di rumahnya. Bagi seorang anak kos, dapat tawaran seperti ini adalah hal yang luar biasa (mumpung buka gratis, bisa ngirit J). Setelah shalat Ashar, segera aku menstarter motorku menuju rumah tante yang jaraknya sekitar 500 meter.

Ketika memasuki rumahnya, aku melihat beberapa teman sepupuku sedang menunggu di depan pintu.

“Mau kemana?” sapaku kepada mereka yang juga juniorku di kampus.

“Ada buka bareng organisasi kampus, Kak!” jawab mereka.

“Ade ikut juga?” tanyaku ke sepupuku. Dan ia menjawabnya dengan anggukan.

Tak lama kemudian, tante yang sudah selesai memasak menghampiri kami seraya menyuruhku masuk.

“Udah pada shalat semua kalian?” Tanya tante ke teman-teman Ade.

“Nanti aja deh, Bu. Takutnya telat, ngga enak sama teman-teman.” Ucap salah satu dari mereka sambil menyikut siku teman di sampingnya.

Sekilas aku melihat Bunda- sapaanku untuk tante- tersenyum miris.

“Kalau sempat? Kalau terjadi apa-apa? Kalian yakin bakal oke-oke aja?”

Semuanya terdiam. Memang, tanteku sering blak-blakan kalau masalah ibadah.

“Aneh ya, kita selalu mempertimbangkan perasaan manusia. Sedangkan Tuhan yang telah mneciptakan kita sering kita nomer duakan. Padahal cuma lima menit untuk shalat.”

Lalu dengan perasaan malu aku melihat mereka masuk ke dalam dan mengambil air wudhu lalu shalat.

“Kita udah seperti orang ngga pernah shalat aja ya,”celutuk salah satu dari mereka.

“Iya, masa untuk shalat kita ogah-ogahan gini,” tambah yang lain.

Aku hanya tersenyum sendiri melihat mereka sekaligus berkaca pada diri. Aku juga sering seperti itu. Menomor duakan Zat yang Maha Kuasa, yang telah menciptakanku dengan sebaik-baik makhluk. Sering aku menunda-nunda untuk menunaikan kewajibanku sebagai seorang hamba. Seperti shalat. Tak jarang aku lebih memilih menyelesaikan pekerjaan terlebih dulu baru shalat.

“Kan masih waktunya,”dalihku.

Bahkan, karena alasan nonton acara di televisi atau sedang menerima telpon membuatku selalu telat menjalankan ibadah. Belum lagi yang lain. Padahal tidak lebih dari sepuluh menit saja waktu yang kubutuhkan untuk menunaikan kewajibanku itu. Namun sering banget aku melalaikannya. Siapa yang menang saat itu? Tentu saja setan laknatullah.

Kita biasanya memperlakukan orang lain sebagaimana orang itu bersikap kepada kita. Orang baik biasanya akan diperlakukan baik oleh teman-temannya, dan orang brengsek akan selalu dibenci oleh lingkungannya. Allah memang tidak sama dengan kita. Tapi jika kita-manusia- pun bisa cemburu, maka Allah pun lebih berhak untuk cemburu. Kalau kita renungkan, Allah tidak menuntut banyak dari hambaNya dibandingkan dengan nikmat yang telah dikaruniakanNya. Sedang kita? Kita terlalu takut dengan perasaan manusia dan melupakan Allah.

Beginilah sebuah gambaran sikap kita terhadap Allah SWT. Kita seringkali menomorduakan Allah, padahal tidak mungkin ada sesuatu pun di dunia ini yang lebih utama daripada Dia. Kita sering ‘menyuruh-Nya’ menunggu, padahal Allah tidak pernah lalai dalam menebar rahmat-Nya. Setiap pagi Allah tidak pernah lupa melimpahi kita dengan rahmat berupa udara segar dan perasaan yang nyaman. Mengapa kita berlambat-lambat dalam melaksanakan perintah-Nya yang cuma lima kali dalam sehari?

Coba kita bayangkan, kalau saja Allah marah dan mencabut segala nikmatNya dari kita? Atau Dia memerintahkan malaikat Izrail mencabut nyawa sedang kita belum menunaikan kewajiban kita? Bagaimana ketika akhirat kelak?


Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

19 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: