foto keluarga
Advertorial,  Kesehatan,  Parenting

Keluarga Kecil Tapi Besar, Itulah Keluargaku

Time and health are two precious assets that we don’t recognize and appreciate until they have been depleted. -Denis Waitley-

KELUARGA BESAR, begitu Bang Tunis, suami saya menganalogikan keluarga kami. Eits, kok bisa keluarga besar sih? Kan hanya ada saya, Bang Tunis, dan putri kecil kami, Naqiya di rumah. Besar dari mananya? Pasti bingung kan? Maksud keluarga besar disini bukanlah jumlahnya yang besar tetapi ukuran tubuh keluarga kecil kami yang besar-besar. Ha ha ha…

Suka tidak suka, terima tidak terima, itulah yang terjadi pada saya dan suami. Pasca menikah, memiliki buah hati, kok postur tubuh kami semakin tumbuh ke samping, bukan ke atas. Berbeda dengan putri saya, seiring bertambahnya usia, semakin tinggi pula tubuhnya. Ia yang dulu gembul kini mulai kurusan karena sangat aktif bergerak. Sedangkan mama-ayahnya? Kok tambah melar ya? #tutupmuka

foto keluarga
Keluarga Kecil Tapi Besar, Itulah Keluargaku

Ini enggak bisa dibiarkan! Memiliki ukuran tubuh yang besar dan mencapai overweigh bukanlah suatu kebanggaan dan cerminan kebahagiaan serta kesuksesan. Bahagia dari mana coba kalau setiap hari dihantui dengan sindrom metabolik yang memang kerap diderita oleh mereka yang gemuk. Sukses dari mana coba kalau masih muda pola hidupnya udah enggak benar. Gimana kalau tua entar?

Ubah lifestyle! Itu adalah cara yang paling ampuh untuk mengurangi beban hidup kami yang semakin berat ini. Makan makanan yang bergizi dan berolah raga solusinya, bukan dengan minum obat-obatan atau produk-produk yang bisa menguruskan badan secara instan. Kalau konsumsi obat pelangsing, memang sih cepat turun, tapi efek ke depannya siapa yang mau nanggung?

β€œAbang mau beli sepatu futsal, teman-teman ngajakin Abang main futsal di lapangan dekat rumah. Kayaknya bisa nih untuk nurunin berat,” ucap Bang Tunis. Beliau ingin bermain futsal bersama teman-temannya setelah shalat taraweh. Ya, permainan indoor ini memang sangat menyenangkan dan mampu membakar sampai 650 kalori.Β  Kalau dilakukan secara teratur, pasti turun tuh berat badan Bang Tunis. Enggak hanya menurunkan berat badan, tetapi juga membuat metabolisme tubuh semakin meningkat dan sirkulasi oksigen di dalam tubuh semakin lancar.

Kalau saya? Dulu saya bisa mengandalkan Naqiya yang masih menyusui untuk mengurangi berat badan, tapi sekarang, ketika usianya sudah 19 bulan dan aktivitas minum ASI putri saya yang semakin berkurang, enggak ada alasan bagi saya untuk diam di rumah sambil nonton TV. Saya harus olah raga juga! Cape besar terus. Rencananya selama bulan puasa inisaya mau jogging keliling komplek setiap pagi atau menggajak Naqiya jalan-jalan dengan sepedanya setiap sore sambil menunggu waktu berbuka.

Mumpung lagi bulan puasa, untuk asupan nutrisi bisa dengan mudah saya atur. Ya, karena saya adalah queen of the house, maka di tangan sayalah kontrol semua aktivitas di rumah termasuk menu makanan. Kalau dulu kami suka makan yang berminyak dan berlemak, maka kali ini harus dikurangi. Kurangi makan kolak, es campur, es teler, dan beraneka jenis santan lainnya. Kurangi lho, bukan dihilangi #carialasan.

Mudah-mudahan setelah bulan Ramadan nanti, keluarga besar kami bisa menciut ya, teman. Kalau pun tidak mampu menjadi keluarga kecil, setidaknya keluarga sedang lah ya. Jangan besar lagi. Bahaya!

 

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

52 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: