Feature,  Malaysia,  PhotoBlog,  Traveling

Hari Raya Deepavali dan Pengemis di Malaysia

Aroma tanah setelah hujan dan asap dupa menyatu di pagi itu. Saya dan suami kurang menyukai aroma dupa tetapi sangat senang menghirup bau tanah basah. Kuala Lumpur yang kami kunjungi selama tiga hari ini selalu diguyur hujan selepas dzuhur. Kilat dan halilintar seakan hendak memangkas gedung pencakar langit yang bertebaran di sana. Air dari langit itu baru berhenti ketika subuh menjelang.

Kami berjalan santai meninggalkan penginapan dan hendak menuju menara Petronas, menara yang memiliki keunikan dari segi desain dan menjadi kebanggan negara yang pernah dipimpin oleh Mahathir Muhammad itu. Namun, perjalanan kami terhenti ketika melihat kuil yang terletak tepat di persimpangan jalan begitu ramai. Lagu India yang diputar dari televisi menggema ke seantero Jalan Pudu Lama itu. Ya, di kawasan ini terdapat banyak penduduk India. Penginapan yang berjejer di sini juga dikelola oleh keturunan India. Tak heran, ketika memasuki penginapan, seorang laki-laki yang mirip dengan Amitabachan menyambut kami dengan hangat di meja resepsionis.

Rumah susun rakyat Malaysia di Jalan Pudu Lama setelah hujan reda.

Pada trotoar jalan yang kami lalui terdapat beberapa penjual kalung bunga. Di antara mereka ada yang sedang merangkai bunga berwarna putih, kuning, dan merah itu menjadi kalung yang indah, ada juga yang sedang melakukan interaksi jual beli dengan pembeli. Namun, pemandangan indah dari kalung bunga itu terkotori akan hadirnya tumpukan sampah yang membusuk dan berserakan.

Pera penjual kalung bunga dan patung Hindu di depan Kuil Sri Ghanesar, Jalan Pudu Lama, Kuala Lumpur
Tumpukan sampah di trotoar jalan depan kuil yang mengeluarkan bau busuk

Langkah kaki kami pelankan ketika berpaspasan dengan puluhan laki-laki berhidung mancung dan berkulit sawo matang yang berpakaian rapi. Mereka dengan tertib melepaskan alas kaki dan meletakkannya dengan rapi pada rak yang telah disediakan di depan rumah ibadah itu. Kemudian mereka mencuci kaki dengan air di dalam bak yang terbuat dari beton dan terletak di sudut kanan kuil. Setelah itu, dengan dua tangan dirapatkan di dada mereka masuk ke dalam Kuil Sri Ganeshar Court Hill.

Kami lalu melihat perempuan cantik berhidung mancung dengan kaki telanjang sedang khidmat berdoa di depan kuil. Ia menggunakan sari dan terdapat Bindi di dahi. Bindi adalah bulatan merah yang dikenakan oleh wanita wanita India di dahi mereka. Bahkan terkadang juga disertain dengan tanda Vermillion pada belahan rambut tepat diatas dahi, ini menandakan wanita wanita tersebut sudah menikah. Sebagaimana ukuran dan warna Bindi, tujuan penggunaannya pun juga bervariasi. Pemakaian Bindi dengan pola tertentu dapat menandakan bahwa pemakainya adalah anggota keagamaan atau sekte tertentu. Bindi ini dibuat dari bubuk Sindoor merah. Bindi disebut juga tilak ketika dipakaikan ke dahi seseorang dalam acara keagamaan atau perayaan spiritual tertentu.

Dengan khidmat umat Hindu berdoa pada perayaan Deepavali

Dari papan bunga yang berjejer di sepanjang jalan, terjawablah sudah tanda tanya perihal keramaian di Kuil Sri Ganeshar. Ternyata penganut agama Hindu itu sedang merayakan Hari Raya Deepavali atau Diwali.  Pada hari besar itu, penganut agama Hindu di Malaysia mendapatkan cuti dari pekerjaannya sama seperti yang berlaku di India. Untuk merayakan hari rayanya, umat Hindu ini juga mengenakan pakaian yang serba baru sama seperti saat umat Islam berlebaran.

Deepavali merupakan gabungan dari kata “Deepa” yang berarti cahaya dan “avali” yang berarti barisan. Jadi, Deepavali artinya “jajaran cahaya. Hari raya Deepavali dirayakan selama lima hari berturut-turut dalam kalendar Hindu bulan “Ashwayuja” dan biasanya jatuh antara Oktober dan November. Hari raya ini juga dikenali sebagai pesta cahaya (Festival Cahaya).

Perayaan Deepavali ini juga ditandai dengan banyaknya dekorari ornament yang sangat menarik di berbagai ruang publik yang kami kunjungi seperti stasiun MRT, terminal bus, dan mall. Lukisan itu berupa ornament yang terbuat dari beras warna-warni dan juga kristal. Indah sekali.

Lukisan ornamen yang terbuat dari beras warna-warni

Selain perayaan Deevapali, ada pemandangan lain yang  menarik perhatian kami di Kuil Sri Ghanesar itu. Dua laki-laki paro baya dengan wajah yang penuh dengan jenggot putih. Selain itu, ada juga seorang perempuan kurus yang memiliki warna kulit putih, hidung pesek, dan mata sipit yang berbeda dari pengunjung kuil lainnya. Mereka duduk di emperan kuil sambil menengadahkan wadah kecil yang terbuat dari logam. Seorang dari laki-laki tua itu terdengar batuk-batuk dan terkesan dipaksakan. Wanita bermata sipit dengan kulit putih yang dekil memasang wajah memelas dan mengharapkan belas kasih. Sekilas mereka tidak terlihat seperti pengemis. Pakaian mereka tidak compang camping dan mereka membawa ransel yang diletakkan di samping. Tapi dengan wadah logam yang mereka julurkan, batuk-batuk serta muka sedih yang mereka tunjukkan, serta pengunjung kuil yang melemparkan uang logam dan kertas, dapatlah disimpulkan kalau mereka memang pengemis.

Para pengemis yang duduk di emperan kuil. Tampak ransel berwarna hitam-oranye bersama salah satu pengemis itu.

Ketika bidikan kamera saya tertuju pada bagian depan kuil dan kebetulan disitulah pengemis itu mengambil lapak, perempuan berwajah penuh debu itu berteriak lantang dan memarahi saya, “ Apa itu ambil-ambil gambar. Kalau ambil gambar, bayar!” Teriakan pengemis itu diikuti pengemis yang lain. Duh! Sayang heran, siapa yang mau mengambil gambar mereka? Ingin rasanya meluruskan kembali apa yang mereka ucapkan tetapi Bang Thunis langsung mengajak saya pergi. Padahal, sebelum mengabadikan perayaan Deepavali itu, saya sudah meminta izin pada seorang laki-laki yang duduk di depan pintu kuil dan berpakaian putih-putih serta kalung di lehernya. Lelaki itu sepertinya adalah pendeta di sana. Dengan ramahnya pendeta itu mengizinkan saya memotret kegiatan mereka, tapi ketika mendengar ucapan pengemis itu, saya merasa tidak enak hati.

Akhirnya kami pun meninggalkan Pudu Lama dan beranjak pergi mengunjungi tempat lain di negeri jiran ini yang belum kami datangi.[]

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

18 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: