Uncategorized

DIA ADALAH PENDAYUNG BECAK

Pagi minggu itu suasana tampak sepi dibandingkan pagi-pagi di hari yang lain. Jalanan tampak lenggang, hanya dua atau tiga kendaraan yang berlalu lalang. Simpang lima, pusat kota Banda Aceh juga masih sepi. Meskipun disitu merupakan tempat merajanya para kapitalis yang tampak jelas terlihat dari bangunan-bangunan yang kelihatan wah dari yang lain. Kalau dihitung-hitung, semua tempat kapitalis menggeruk kantong masyarakat Aceh berkumpul disitu. Ada restoran cepat saji yang menjual ayam goreng khasnya dengan lambang kapten tua di setiap kemasan, di depannya juga tak mau kalah restoran yang menyediakan aneka jenis pizza, makanan Italia. Kalau kita berjalan beberapa langkah, akan kita temukan restoran yang juga kelihatan ikut-ikutan untuk menampakkan gigi geliginya di bumi Aceh dengan menjual es cream yang katanya berbeda dari tempat yang lain. Tak jauh dari situ, ada juga restoran yang menjual es teller dengan harga selangit, diikuti oleh pasar swalayan yang cabangnya tersebar di seluruh sudut kota Banda Aceh.

Minggu pagi memang waktu yang tepat untuk berdiam diri di rumah setelah enam hari sebelumnya sibuk dengan rutinitas masing-masing. Membersihkan rumah, mencuci pakaian, berkumpul bersama keluarga, dan setelah itu baru berenjak keluar dari rumah untuk rekreasi bersama keluarga ke pantai. Ada juga yang menghabiskan minggunya di restoran-restoran cepat saji tersebut terutama bagi orang-orang yang merasa uang di kantongnya sudah melompat-lompat untuk segera dikeluarkan dan diserahkan pada pemilik usaha kapitalis.

Memang makanan yang ditawarkan kapitalis itu telah membuat banyak pedagang pribumi mejadi kebakaran jenggot, terpaksa gulung tikar, dan hanya sedikit yang masih tetap exist. Para kapitalis dengan segara ajian pemikatnya membuat para muda mudi menjadi lupa akan timpan, kuah pliek u, dan segala jenis makanan Aceh lainnya. Rasa-rasanya tidak gaul kalau belum mengunjungi tempat-tempat itu, walaupun dengan kantong pas-pasan. Tidak bisa dipungkiri kalau ajian pemikat yang mereka hembuskan lewat iklan-iklan membuat lidah ingin segera mencicipinya. Meskipun hanya sekali saja.

Sambil berjalan melewati setiap bangunan kapitalis itu, aku berpikir berapa banyak uang Aceh telah berputar di dalamnya. Dan yang lebih menyedihkan berapa banyak orang Aceh yang telah ikut-ikutan bersifat seperti kapitalis itu. Yang hanya memikirkan keuntungan diri sendiri tanpa melihat pengemis di sekitarnya yang semakin meraja lela. Semua menjadi nafsi-nafsi. Jangan harap kalau kita sedang berjalan sendirian akan ada orang yang dengan ikhlas memberikan tumpangan untuk kita. Semuanya sekarang dinilai dengan materi. Uang, uang, dan uang.

Aku yang saat itu bersama temanku Nora, terus berjalan hendak menuju sebuah kantor pemerintahan letaknya dipisahkan oleh sungai dari istana kapitalis itu. Jaraknya tak begitu jauh untuk pejalan kaki sepertiku. Tak ada angkutan umum yang melewati kawasan itu. Hanya ada beberapa becak yang bertengger di depan swalayan. Tak terbesit keinginan untuk menumpangi becak karena harga yang mereka tawarkan pun rasanya tak setimpal dengan jarak yang kutempuh. Virus kapitalis pun telah merasuk jiwa para pendayung becak itu. “ BBM naik, dek!” begitu dalih mereka. Tapi kenapa harus menaikkan harga dengan sangat tinggi padahal jarak yang ditempuh tidak lebih dari seratus meter? Aku dan temanku memutuskan untuk berjalan kaki saja karena memang aku sangat menikmati dan menyukai perjalana dengan kedua anugrah yang diberikan oleh Allah Swt ini.

Ketika hampir mendekati jembatan yang menghubungkan ruas jalan yang dipisahkan oleh sungai itu, seorang abang becak menghampiri kami. “ Becak, dek!” tawarnya. Aku menaksir kalau laki-laki itu masih muda untuk ukuran seorang pendayung becak. Tampak dari garis wajahnya yang belum keriput dan air mukanya yang masih berseri walaupun kulitnya semakin hitam terbakar matahari.
“ Nggak, bang. Udah mau dekat kok!” jawabku sekenanya.
“Murah kok dek,” ia mulai membujukku.
“ Cuma ke kantor X kok bang, sebentar lagi pasti nyampe,” tambah temanku dan tetap menolak. Aku merasa sebel sendiri melihat tingkah abang becak itu.
“ Kalau gitu, yuk bareng aja. sekalian lewat. Gratis!” tawarnya kembali.
Aku sedikit ketakutan mendengar tawarannya. Pikiranku mulai aneh-aneh. Bagaimana kalau dia menculikku? Atau melarikanku ke suatu tempat yang tidak diketahui oleh keluargaku? Berbagai macam pikiran menembus sawar otakku. Akibat terlalu sering menonton acara criminal di televisi membuat pikiranku semakin aneh-aneh saja. selalu berpikir kalau orang yang belum kukenal itu adalah penjahat!
“Ngga usah bang!”
“Ngga papa kok dek. Kebetulan abang juga lewat dari depan kantor itu.”
Ketika pikiranku kembali jernih, spontan aku tertawa sendiri. Mengapa tidak kuterima saja tawaran baiknya. Kalau pun dia berniat macam-macam aku bisa melompat dari becaknya. Yang dia kendarai sekarang adalah becak! Bukan mobil! Satu lagi, aku tidak sendiri sekarang. Aku berdua dengan temanku. Tenaga kami sepertinya tidak kalah untuk menghantam abang becak itu kalau dia macam-macam.

Aku dan temanku pun menerima tawarannya. Kami berbincang-bincang banyak dalam perjalanan. Dan akhirnya aku dan temanku pun tiba di kantor yang kami tuju. Setelah turun dari bacak itu aku berkata pada temanku, “ Ternyata Tuhan masih tetap mengirimkan orang-orang baik di sekitar kita. Meski iblis tidak henti-hentinya membujuk kita untuk berpikir kapitalis.”

Pagi minggu, 16 November 2008

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

4 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: