PhotoBlog,  Traveling

Dari Aceh ke Malaysia Naik Air Asia

Yeay! Akhirnya saya dan suami jalan-jalan lagi. Kali ini tujuan traveling kami adalah Kuala Lumpur. Yup, kami hendak bertamasya ke negeri Jiran yang jarak tempuhnya hanya satu jam dari Banda Aceh. Tentunya dengan menumpang maskapai kebanggaan encik dan makcik di sana; Air Asia (AA). Kebetulan saat suami sedang mencari tiket untuk kepulangannya ke Berlin, AA sedang mempromosikan tiket promo seharga Rp 500K/PP. Langsung saja si Abang menawarkan saya untuk ikut serta mengantar sampai ke KL, sekalian jalan-jalan.

Asli, saya girang bukan main mendengar ajakan suami, soalnya ini adalah kali pertama saya keluar negeri. Saat masih menyandang status sebagai mahasiswa, saya nggak memiliki untuk traveling jauh. Ketika bekerja dan belum menikah pun demikian, saya harus mengabdi di RS Bireuen sehingga kalau liburan tiba, pulang kampung adalah tujuan utama saya. Eits, selain itu SIO sulit didapatkan kalau perginya jauh. Itu lho, Surat Izin Ortu. Kalau sekarang? Sungguh bersyukurnya saya punya suami yang juga hobi jalan. Itu artinya keinginan terpendam saya pun tersalurkan. Setiap ada waktu senggang, kami pasti jalan-jalan.

Tanpa ba-bi-bu, kepala saya mengangguk tanda setuju. Segera saya mengambil kalender dan mengosongkan jadwal pada tanggal 26-29 Oktober 2013. Kebetulan lagi tanggal keberangkatan kami jatuh pada hari Sabtu, itu artinya hanya pada hari Senin dan Selasa saya tidak masuk kerja.

Sambil menanti jadwal keberangkatan kami, suami bertugas mencari tempat penginapan yang akan kami tempati selama di KL.

“Enggak usah yang mahal, Bang. Kita jalan-jalannya ala backpaker aja,” usulku ketika suami menawarkan hotel seharga satu juta lebih selama tiga malam.

“Okelah kalau begitu. Ada yang murah, tapi sharing bathroom. Adek mau?”

“No problemo. Asalkan berdua dengan Abang, tidur di emperan toko pun Adek mau,” ujarku sambil tersenyum malu.

Setelah berlalu-lalang selama beberapa hari di dumay (dunia maya), ketemulah sebuah kamar di Step Inn Guest House., sebuah penginapan yang direkomendasikan oleh situs Tripadvisor yang cocok banget untuk para backpaker. Harganya 160 RM untuk tiga malam. Lokasinya pun sangat strategis tidak jauh dari Bukit Bintang.

Ini dia tempat penginapan kami selama di KL (dok.stepinnguesthouse)

Sore hari, pukul 15.00 WIB, saya, suami, dan rombongan keluarga dari kampung sudah tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda. Karena suami akan kembali ke Jerman, maka seluruh keluarga ikut mengantar. Padahal dalam setahun, si Abang bisa berkali-kali pulang-pergi Banda Aceh-Jerman, tapi tetap saja di antar. Begitulah tradisi di kampung kami. Setiap ada yang hendak berpergian jauh, bisa-bisa satu kampung  mengantar ke bandara.

Tepat pukul empat sore, pesawat AirBus yang kami tumpangi tiba di lapangan udara. Belum pun penumpang yang di dalam pesawat turun semua, penumpang yang hendak menyebrang ke negeri seberang pun mulai berdesak-desakan masuk. Jadi, sambil mengantri, saya foto-foto dulu di depan pesawat. Mumpung tidak ada larangan. Di saat yang sama, pesawat milik maskapai penerbangan dengan logo kepala singa pun tiba. Jarang-jarang Bandara SIM disinggahi dua pesawat sekaligus.

Penumpang yang turun dan yang hendak naik tumpah ruah di lapangan.

Kami adalah penumpang terakhir yang masuk ke dalam pesawat setelah mempersilakan seluruh penumpang lainnya lebih dulu. Karena jumlah penumpang yang membludak, tempat duduk kami terpisah.  Padahal saat check in, saya sudah meminta agar saya dan suami duduk bersebelahan tetapi petugas di sana tidak dapat menyanggupi. Syukurnya, ketika sudah menempati  seat masing-masing, bangku di sebelahku kosong. Aha! Si Abang langsung pindah dan duduk di samping. Akhirnya, salah satu adegan favoritku di film Habibie-Ainun bisa terealisasi. Adegan  Habibie dan Ainun duduk berdampingan di dalam pesawat ketika mereka berangkat ke Jerman. Bedanya, kami hanya ke Kuala Lumpur. Semoga suatu hari nanti, keberangkatan bersama kami juga ke Jerman. Amiin.

Karena menumpang low budget airlines, jadi jangan harap pelayanan maksimal akan didapatkan di sini. Jam keberangkatan molor lebih dari setengah jam dari jadwal keberangkatan adalah salah satu yang harus dimaklumi. Namun, terlepas dari itu semua, pelayanan dasar di dalam pesawat tetap diutamakan seperti faktor keselamatan, kesehatan, dan kenyamanan penumpang.

Aceh Besar dari udara

Pukul setengah enam sore, kami pun mendarat di Bandara LCCT, Kuala Lumpur. Langit yang semula terang kini telah gelap. Arloji di tanganku masih menunjukkan waktu di Banda Aceh sedangkan waktu Malaysia adalah satu jam lebih cepat. Wajar saja kedatangan kami disambut oleh bebintang nan berkialauan karena waktunya telah menunjuk pukul 19.30 malam waktu Malaysia.

Ketika celingak-celinguk sambil senyam-senyum membaca beberapa penunjuk arah dan papan keterangan dalam bahasa Melayu di bandara, saya baru tahu kalau LCCT adalah singkatan dari Low Cost Carrier Terminal (LCCT) alias Terminal Penerbangan Hemat Kuala Lumpur. Selama ini saya cuma dengar LCCT saja dari suami tanpa menyakan kepanjangannya. Soalnya malas nanya ke beliau, entar malah diejekin. Bandaranya sangat luas, jauh berbeda dengan Bandara SIM yang familiar dengan saya selama ini. Pesawatnya pun banyak, tidak hanya dua tetapi puluhan. Saya betul-betul terkesima saat melihat pemandangan yang asing ini.

“Welcome to Kuala Leuhop!” ucap suamiku menggantikan Lumpur dengan Leuhop. Ya, Leuhop adalah bahasa Aceh-nya lumpur.

“Yeay! Kita sampe juga ke KL,” balasku sambil merangkulnya. []

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

20 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: