Feature,  Traveling

Dakwah Maulid Nabi

“Kaom Mak ngen kaom Ayah yang berbahagia. Dalam rangka memperingati maulid Nabi Besar Muhammad SAW, mari sama-sama tanyoe saksikan dakwah islamiyah yang akan geusampaikan lee guree geutanyoe Teungku… “

Sayup-sayup suara pengumuman yang diucapkan dengan pelantang terdengar sampai ke kontrakan saya. Pengumuman dakwah itu diserukan oleh rombongan laki-laki dengan menggunakan mobil pick up ke seluruh desa yang ada di kecamatan Gandapura. Dakwah islamiyah itu akan diselenggarakan ba’da isya di pasar Grugok, tidak jauh dari tempat tinggalku.

Pengumuman itu mengingatkan saya saat masih kecil dulu. Sore hari setelah kenduri maulid diselenggarakan, entah itu di rumah, mesjid atau meunasah, rombongan panitia maulid sudah bersiap-siap mengumumkan acara dakwah dengan pelantang sambil mengendarai mobil pick up. Ohya, pelantang adalah bahasa Indonesia dari microphone.

Dengan mobil terbuka belakang itu, para lelaki dewasa berjumlah 4-5 orang mengelilingi desa kami dan beberapa desa tetangga. Mereka mengumumkan acara puncak maulid nabi yang diisi dengan pidato oleh teungku atau ustad dari desa atau kecamatan lainnya. Biasanya, ketika seruan itu sampai ke jalan depan rumah, saya langsung berlari keluar untuk melihat mobil itu sambil teriak, ye ye ye… Tidak hanya saya, adik semata wayangku dan anak-anak kecil lainnya pun demikian. Kami baru kembali ke rumah ketika suara dari pelantang itu tidak terdengar lagi. Sesampai di rumah, saya dan adik merengek pada mamak agar mau datang ke acara dakwah. Rengekan itu baru berhenti waktu kepala mamak mengangguk atau lidahnya berucap “iya”.

Ketika malam tiba, rasa-rasanya sudah tidak sabaran lagi untuk segera ke meunasah padahal magrib baru saja usai. Dakwah baru dimulai setelah isya.

Di depan meunasah, sebuah podium telah dihias indah dengan kertas kilat beraneka warna. Sinar lampu membuat hiasan kertas itu bercahaya. Tak hanya itu, lampu kecil kerlap-kerlip pun ikut dipasang. Podium yang nantinya akan dinaiki teungku penceramah begitu mencolok dan menarik perhatian.

Suara qasidah yang diputar melalui tape mampu menghibur masyarakat yang sedang berdatangan dari penjuru desa. Para pendengar dakwah itu sudah siap dengan tikar pandan yang dibawa dari rumah untuk dijadikan alas duduk. Ada juga yang menggunakan kertas koran.

Pedagang asongan juga ketiban untung dengan adanya acara dakwah maulid nabi ini. Ada yang menjual kacang rebus, kacang goreng, jagung rebus dan bakar, telur puyuh, mie goreng, pokoknya banyak. Bagi anak-anak, acara seperti ini bagaikan hari raya. Dengan bebasnya mereka berlari, kejar-kejaran dengan temannya. Ada juga yang merengek pada orang tuanya untuk dibelikan jajanan. Serta ada yang menangis karena tidak tahu ayah ibunya duduk di mana.

Sedangkan saya? Sebelum berangkat ke meunasah, mamak menegaskan bahwa tujuan kami pergi adalah untuk mendengar ceramah bukan untuk lari sana-sini.

“Kalo ngga dengar mamak, kita ngga usah pergi. Dengar dari rumah juga bisa,” ucap mamak sebelum kami berangkat.

Suara pelantang di meunasah memang terdengar ke seluruh desa. Jadi tanpa ke sana pun, suara ceramah teungku akan sampai ke indera dengar. Namun karena ingin melihat kemeriahan acara, saya pun mengangguk. Meski agak kesal karena ngga bisa loncat sana sini dengan anak-anak yang lain, tapi tidak masalah, yang penting pergi ke dengar dakwah.

Sekarang, ketika sudah beranjak dewasa, suasana seperti itu sudah jarang saya rasakan. Terlebih sejak SMP sampai sekarang saya tidak pernah ikut merayakan maulid nabi di kampung halaman. Kalau pun sempat, saya harus kembali lagi ke perantauan tanpa sempat mendengarkan dakwah.

Hari ini, setelah mendengar pengumuman dari pelantang yang disiarkan menggunakan mobil pick up, saya kembali ingin menikmati suasana maulid dan dakwah di kampung tercinta.

Setelah isya, saya pun mengajak suami untuk menyaksikan dakwah di Pasar Greugok. Meski gerimis di luar sana, kami tetap pergi dengan menggunakan sepeda motor. Di tanah kosong yang siang harinya menjadi tempat digerainya dagangan warga, masyarakat telah duduk rapi. Para kaum hawa duduk bershaf di atas tanah dengan beralaskan tikar. Para lelaki ada yang berdiri, ada juga yang duduk d atas motor mereka. Para pejabat kecamatan dan tokoh masyarakat duduk manis di bangku di depan pertokoan. Podium yang telah dihias diletakkan paling depan sehingga semua pengunjung dapat melihat teungku penceramah.

Ketika saya dan suami tiba, dakwah telah dimulai. Teungku penceramah sudah selesai menyampaikan mukaddimah. Gerimis masih saja membasahi pasar Grugok. Namun, animo warga untuk mendengar dakwah tidak surut dengan rintikan air dari langit itu. Begitu pun saya. Akan tetapi, suasana dakwah kali ini jauh sekali berbeda dengan dakwah waktu saya kecil. Teungku penceramah dengan lantang dan mengesankan memapar sejarah kelahiran nabi lalu dibandingkan dengan masa sekarang. Tanpa unsur politik, tanpa membawa nama partai politik yang diikutinya. Dakwah ketika saya kecil benar-benar mengajak para pendengar untuk tidak hanya mencintai dunia tetapi akhirat juga, dakwah yang membuat saya semakin cinta kepada rasulullah. Tapi, saya tidak menemukannya di dakwah malam ini. Saya pun mengajak suami pulang. Toh, jika ingin mendengar lagi, kami bisa melakuksnnya di rumah. Pelantang yang digunakan tengku penceramah adalah pengeras suara yang kerap digunakan bilal saat mengumandangkan azan. Ah, bukan dakwah seperti ini yang saya idamkan, tetapi ceramah maulid waktu saya masih kecil.

Keude Lapang, 24 Januari 2013

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

11 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: