Aceh,  Life Story,  Traveling

Berburu Ikan di Ujung Serangga

Sebagai penyuka segala jenis ikan, tinggal di daerah yang dekat dengan laut dan gunung adalah sebuah karunia tidak terhingga bagi saya. Betapa tidak, ketika lidah ingin mencicipi tenggiri, kerapu, tuna, atau kakap, maka hanya butuh waktu lima menit untuk mendapatkan segela jenis ikan tersebut. Begitu pula ketika saya ingin memasak mujair, nila, atau gabus maka saya hanya perlu berjalan beberapa langkah.

Sore hari sepulang dari kantor adalah waktu yang saya pilih untuk menyapa para penjual ikan yang menjaja hasil tangkapan para nelayan tersebut di Pusat Pelelangan Ikan (PPI) Ujung Serangga, Susoh, Aceh Barat Daya. Waktu menjelang matahari tenggelam menjadi pilihan karena saat itu harga ikan relatif lebih murah dibandingkan pagi atau siang hari. Tidak perlu khawatir akan kualitas ikan tersebut karena binatang yang bernafas dengan insang itu memang baru saja diturunkan dari perahu nelayan. Para pedagang menjual murah ikan tersebut karena mereka ingin menghabiskan sisa dagangannya.

Nelayan sedang memarkir perahu boat di dermaga.
Nelayan sedang memarkir perahu boat di dermaga.

Kakap yang pagi atau siang hari bernilai enam puluh ribu untuk berat satu kilogram, maka sore hari saya bisa mendapatkan ikan yang sama dan tentunya masih fresh setengah dari harga pagi. Begitu pula dengan tongkol, tenggiri, tuna, dan lain-lain. Hanya saja, pilihan jenis ikan pada waktu senja lebih sedikit dengan waktu pagi. Oleh karena itu, jika ingin menyantap ikan-ikan kecil seperti dencis, bilis, atau udang maka pagi atau siang hari waktunya. Tempat membeli ikan tersebut bukanlah di Ujung Serangga melainkan di pasar ikan Blangpidie yang tidak jauh dari rumah saya.

Terkadang, akhir pekan juga menjadi momen bagi saya untuk membeli ikan di PPI Ujung Serangga. Pagi hari, sekitar pukul tujuh, saya langsung menstarter motor matic untuk melaju ke sana. Jika ingin membeli ikan langsung dari perahu nelayan, maka saat itulah waktunya. Puluhan orang sudah mengantri di dermaga untuk menanti nelayan-nelayan yang semalaman memancing atau menjala ikan di laut lepas membawa pulang tangkapan mereka. Harga ikan yang dijual sangat murah dan sistem penjualannya adalah perikat atau perkantong plastik. Namun, kita harus membeli banyak kalau berbelanja disana. Jika ada hajatan, kenduri, atau ingin berjualan, maka saat itulah timing yang telat berbelanja ikan.

Para pembeli dan penjual sedang tawar menawar harga ikan. Ikan-ikan tersebut baru saja didaratkan oleh para nelayan di dermaga PPI Ujung Serangga Susoh
Para pembeli dan penjual sedang tawar menawar harga ikan. Ikan-ikan tersebut baru saja didaratkan oleh para nelayan di dermaga PPI Ujung Serangga Susoh

Dulu, waktu masih di Banda Aceh, ikan kakap, tenggiri, kerapu, adalah ikan mahal yang jarang saya santap. Paling jika pergi ke pantai Lampuuk atau ke warung makan barulah saya memesan ikan enak ini. Namun, sejak tinggal di Abdya, ikan-ikan tersebut telah menjadi santapan sehari-hari dan tidak perlu gocek tebal untuk membelinya. Jika ditanya salah satu penyebab saya betah di Abdya, maka ikan-ikan itulah jawabannya.

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

6 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: