Life Story

Balada Coklat ja!

image

Setiap kali suami mengabarkan akan pulang, maka saya pun tidak pernah lupa mengingatkannya untuk membeli oleh-oleh. Kadang suami saya rada sebal juga dengan banyaknya permintaan saya, tapi pura bodoh aja. Pokoknya saya keukeuh pingin dibawa pulang sesuatu dari Jerman, entah itu coklat, tempelan kulkas, dll. Suami juga kerap pura-pura sedih karena saya tidak hanya mengharapkan dia pulang. Ya, selain mengharapkan suami pulang dengan selamat, saya juga kepingin mencicipi oleh-oleh yang ia bawa pulang.

Karena ngga sanggup mendengar sang istri asyik minta oleh-oleh, akhirnya suamiku yang baik hati pun mengatakan kalau ia telah membeli tiga kilo coklat untuk diriku dan membawa pulang beberapa tempelan kulkas. Alangkah riang hati ini mendengar kabar baik itu. Jadi setiap hari saya memiliki aktivitas lain selain bekerja; menunggu suami pulang dengan coklat yang ia janjikan.

Setelah tiba di rumah, seperti biasa, suamiku tercinta langsung tepar tak berdaya dan tidur sambil ngorok saking capeknya perjalanan 18 jam lebih dari Berlin ke Banda Aceh. Sedangkan saya? Bongkar koper dan mencari oleh-oleh. Benar saja, ada puluhan coklat di kopernya yang mulai lembek. Langsung saja saya masukkan ke dalam kulkas sambil menikmati beberapa.

“Itu coklat jerman yang paling enak, dek!” Tunjuk suamiku setelah terbangun dari tidur pada coklat berbungkus putih bertuliskan ja!

“Mahal, bang?” Tanyaku kemudian
“Lumayan, abang lupa berapa euro harganya, jadi adek makan yang ini aja ya. ” ujarnya sambil tersenyum.

Aih si Abang, kenapa pula ia tersenyum. Saya sih ngga ambil pusing soalnya coklat-coklat di kulkas telah mengalihkan dunia ini. Membayangkan coklat ja! yang lezat dan mahal. Duh, sungguh baiknya suamiku.

Satu persatu coklat ja! saya lahap. Seperti saran suami, mending makan coklat ja! saja sedangkan coklat alpen dan yang lainnya dibagi untuk keluarga di kampung. Coklat hitamnya lumayan rasanya walau sedikit eneg. Tapi ketika mencicipi coklat ja yang berwarna putih, asli, manis banget dan bikin eneg.

Melihat saya yang mulai mual karena coklat ja putih itu, si Abang tertawa cekikikan. Akhirnya dia pun mengungkapkan kalau coklat ja! adalah coklat paling murah di Jerman. Jadi ya wajar saja rasanya agak gimana-gimana gitu. Dan benar saja, ketika saya mencicipi coklat lain, asli pingin dimuseumkan saja coklat ja! Soalnya coklat alpen yang baru saya cicip itu rasanya enak banget. Coklatnya terasa dan ngga manis seperti ja! Ditambah lagi di dalamnya ada kacang almond. Ah, semakin nikmat terasa. Bye bye coklat ja!

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

25 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: