Opini,  Review,  Uncategorized

Baju Naqiya Kebesaran

“Dek, Abang beli baju tadi, buat cupo Naqiya,” tulis suami lewat Telegram disertai dengan foto baju yang baru ia beli.

Awalnya, saya tersenyum dengan perubahan suami saya itu. Dulu, sebelum kami memiliki Naqiya, jangankan membeli baju buat saya, beli baju untuk sendiri saja suami saya tidak bisa. Tidak bisa disini karena memang suami saya tidak pernah perhatian sama sekali dengan pakaian yang dia pakai. Baginya, asal nutup aurat ya dipakai saja. Syukurnya kebanyakan warna baju suami saya gelap, jadi tidak terlalu nge-jreng kalau dilihat orang.

Senyum saya kini berganti tawa ketika saya memperhatikan foto-foto itu sekali lagi dengan lebih teliti. Sambil geleng-geleng kepala, saya membalas, “itu kebesaran, Bang. Baju itu kayaknya untuk umur 3 atau 4 tahun kan?” tanya saya memastikan. Sedangkan Naqiya saat ini masih berumur 7 bulan.   

 “Iya, untuk 4 – 5 tahun ditulis disitu,” balas suami saya seadanya.

“Yah, kenapa gede sekali?”

“Gpp, lagi angebot, sayang gak dibeli,” jawaban suami kali ini tidak hanya bikin saya ketawa, tapi juga geleng-geleng kepala. Suami saya tidak pernah berubah, selalu saja suka mengincar barang gretongan.

“ntar kalo udah gede kan tetap bisa dipakai”, balasnya lagi, saya hanya mengirim emotion yang menertawakan suami saya.

Angebot adalah Bahasa Jerman yang berarti barang tersebut sedang ada pemotongan harga alias diskon. Menurut suami, diskon barang di Jerman ini benar-benar diskon, harganya bisa dipotong 50 hingga 70% dari harga asli, tanpa harga tersebut dinaikkan dulu.

Meski belum pernah ke Jerman, saya sudah sangat familiar dengan kata-kata ini, karena setiap beli barang, suami saya pasti nunggu angebot. Kalau barang itu berhasil dibeli dengan murah, dengan bangganya ia pamerkan ke saya. Bukannya cemburu, saya malah ketawa.


Namun, giliran saya berhasil beli baju murah dan bagus, serta ingin saya pamer ke suami, ia malah menanggapinya dengan datar. Tidak jarang ia meledeki saya dengan kalimat , “itu baju di lemari masih banyak, untuk apa beli lagi.” Namun, kalau baju yang saya beli untuk Naqiya, dia justru tidak banyak komentar. Hm…

Dalam kasus baju yang dibeli suami saya, yang kasian justru Naqiya karena baju yang dibeli ayahnya kebesaran. Harus menunggu bertahun-tahun untuk bisa memakai baju tersebut. Semoga lekas gede ya, Nak. Supaya bisa pakai baju kebesaran yang dibeli ayah dengan angebote kebanggaanya di Jerman. 🙂

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

4 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: