Opini

Awal Menjadi Duta

Hari itu Sabtu (08/09) sore, iseng-iseng saya membuka facebook lewat laptop. Kebetulan sekali saat itu koneksi internet lumayan kencang sehingga saya betah  menjelajah dunia maya berjam-jam. Biasanya koneksi internet di Bireuen kalah saingan dengan siput. Sangat pelan bin lambat. Jadi, saya lebih suka berinternet menggunakan ponsel dibandingkan dengan menggunakan laptop.

Ketika melihat linimasa di  facebook, tiba-tiba pandagan saya terfokus pada status Cut Risya Firlana, adik kelas saya ketika di SMA Modal Bangsa dan juga di FK Unsyiah. Di sana dia menuliskan informasi tentang seleksi Duta Bahasa Tahun 2012 tingkat Propinsi Aceh yang akan ditutup keesokan harinya yaitu tanggal 9 September 2012. Tiba-tiba saya tertarik untuk ikut. Apalagi persyaratan administrasinya hanya mengirimkan CV dan daftar presetasi ke email panitia.

Tidak seperti pemilihan duta-duta lain yang menuntut pesertanya harus bertubuh tinggi minimal 160 cm untuk perempuan, duta bahasa hanya mensyaratkan tinggi 155 cm. Jadi, saya masuk kualifikasi karena tinggi saya lebih 1 cm dari ketentuan. Untuk usia, sayapun masih masuk; 18-25 tahun dan belum menikah. Itu artinya ini adalah kesempatan terakhir saya karena saat ini telah berumur 24 tahun dan belum menikah. Kalau yang lain, tidak ada masalah berarti.

Langsung saja saya menghubungi Sidiq. Dia adalah adik kelas saya ketika SMA dan kuliah. Dia juga adiknya teman dekat saya. Dan alasan yang paling utama saya menghubunginya adalah dia merupakan Duta Baca Provinsi Aceh tahun 2011. Awalnya saya mengira Duta Baca sama dengan Duta Bahasa tapi ternyata keduanya berbeda. Duta Bahasa diselenggarakan oleh Balai Bahasa sedangkan Duta Baca diselenggarakan oleh Pustaka Wilayah. Akhirnya, setelah berpikir beberapa jam saya pun memutuskan untuk mengirimkan data diri ke email panitia. Sidiq pun mencoba berpartisipasi diajang yang sama denganku.

Sore Minggu, saya tiba-tiba menerima sms dari panitia penyelenggara. Pesan singkat itu mengabarkan bahwa saya berhasil lulus seleksi administrasi untuk Duta Bahasa dan diminta hadir ke Banda Aceh pada hari Senin untuk mengikuti Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia. Saya sama sekali tidak menduga kalau pengumumannya secepat ini. Hampir saja ingin mengundurkan diri saja karena belum meminta izin dari rumah sakit. Namun setelah menghubungi kepala poliklinik tempat saya bertugas, saya pun diizinkan untuk libur sehari. Berangkatlah saya pada malam Senin ke Banda Aceh. Saya harus menempuh lima jam perjalanan dari Bireuen ke Banda Aceh menggunakan L300. Di dalam perjalanan saya mencari informasi seleksi duta bahasa dari internet, namun tidak informasi berarti. Saya pun mencari tahu tentang UKBI, tes yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Alhamdulillah saya mendapat sedikit gambaran tentangnya.

Sidiq pun lulus pada seleksi administrasi. “Mudah-mudahn kita berpasangan, ya Kak!” ujar Sidiq ketika diumumkan bahwa seleksi Duta Bahasa adalah berpasangan. Jadi nanti ketika sesi presentasi akan diundi pasangan masing-masing peserta.

Seleksi Duta Bahasa ada tiga sesi. Pertama sekali adalah tes Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI). Bentuk tes ini seperti tes TOEFL tetapi dalam Bahasa Indonesia. Kemudian presentasi diikuti dengan Tanya jawab dari dewan juri . dan terakhir wawancara.

Namun untuk tahun ini, pesertanya tidak dipasangkan melainkan semuanya tampil sendiri-sendiri. Pada akhir sesi baru dipilih juara satu putra dan juara satu putri yang akan mewakili Aceh pada ajang pemilihan Duta Bahasa tingkat nasional.

Sungguh tidak terduga, pada hari penobatan Duta Bahasa pembawa acara memanggil nama saya dan Sidiq sebagai perwakilan Aceh ke ajang nasional.

“Untuk juara satu putra jatuh kepada Muhammad Sidiq dan juara satu putri jatuh kepada Liza Fathiariani.”

Alhamdulillah. Akhirnya saya dan Sidiq benar-benar dipasangkan untuk mewakili Aceh ke nasional. Semoga kami bisa memberikan yang terbaik untuk Seuramoe Mekah tercinta ini.

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

9 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: