Feature,  PhotoBlog,  Tangse,  Traveling

Asoinya Raja Segala Buah dari Tangse

Kalau ingin menikmati durian yang manis, tebal, dan legit, maka solusinya ada pada durian Tangse. Baru melahap sepotong dagingnya saja, perut sudah kenyang. Namun, lidah seakan tak ingin berhenti mengecap daging buah yang dijuluki King of Fruit ini. Nyam. Nyam. Satu saja tidak cukup. Ingin lagi, lagi, dan lagi. Akhirnya, sebuah utuh Durio zibethinus itu masuk ke dalam lambung saya.

Durian Tangse, Lezatnya tak terkira
Durian Tangse, Lezatnya tak terkira

Karena ingin mencicipi durian Tangse sedang musim sejak awal tahun, akhir pekan kemarin, saya dan suami pulang ke sana. Sudah sebulan sejak pindah ke Gandapura, kami tidak pernah pulang ke rumah orang tua. Jadi, Sabtu siang, setelah tugas di Puskesmas selesai, kami menuju kampung halamanku, Tangse. Sebuah kecamatan yang terletak di Pidie, Aceh.

Perjalanan dari Gandapura-Tangse memakan waktu tiga jam menggunakan kendaraan bermotor. Lepas magrib, kami tiba di rumah orang tuaku tepatnya di Desa Pulo Mesjid 2. Setiba di rumah, aroma menyengat dari raja segala buah itu menyusup silia-silia di rongga hidung. Mamak rupanya sudah memasak pulot ketan yang nantinya dimakan dengan durian. Ia sengaja melakukan itu untuk menyambut kedatangan kami, lebih khususnya kedatangan menantunya.

Belasan durian berjejer di dapur. Baunya yang khas membuatku tidak sabaran untuk mencicipinya. Setelah dibuka, dengan cepat saya mengambil beberapa daging buahnya. Lalu memakan raja buah itu dengan pulot. Ah, tebal sekali dagingnya. Baru sebiji, saya kekenyangan. Begitupun suamiku. Padahal kami belum makan apa-apa selama perjalanan tadi.Keesokan harinya, saya meminta mamak untuk membuat kuah durian yang nanti juga akan dimakan dengan ketan. Lalu mamak memisahkan daging buah tersebut dari bijinya. Diremas hingga hancur lalu ditambahkan air hangat, gula, dan sedikit garam. Terkadang orang menggunakan santan sebagai pengganti air. Tapi mamak tidak menambahkannya karena kandungan kolestrol di durian saja sudah sudah tinggi. “Kalau ditambah santan lagi, bakal lebih tinggi lagi kolestrolnya,” jelasnya.

Setelah menikmati sarapan dengan ketan dan kuah durian, tiba-tiba bunyi “brukk” terdengar di luar sana.”Ada durian jatuh!” Seruku seraya berlari ke belakang rumah dan melihat durian yang tersisa satu-satunya di pohon sudah tergeletak di tanah.

Dibalik kelezatannya, ada beragam manfaat yang terkandung durian untuk kesehatan
Dibalik kelezatannya, ada beragam manfaat yang terkandung durian untuk kesehatan

Durian di pohon belakang rumah itu beda dengan durian yang kucicip saat makan malam atau sarapan. Durian yang berjejer di dapur itu dibeli oleh mamak karena hendak dikirim ke Seulimeum. Daging buahnya putih dan ada juga yang agak kekuningan. Nah, kalau durian di belakang rumah itu warnanya kuning. Daging buahnya lebih tebal, dan bijinya sangat kecil. Duri di kulit buahnya juga besar dan jarang. Tapi sayangnya buahnya tidak banyak. Paling tujuh atau delapan buah setiap kali musim durian.

Durian Tangse nan Lezat

Sebagai penikmat durian, durian kampung halaman saya ini memang tidak ada tandingannya bagi saya. Dari kejauhan, bau menyengatnya sudah tercium. Ini tidak saya dapatkan pada durian lain yang pernah saya cicipi. Baunya tidak begitu harum. Daging buahnya juga tipis dan tidak seberapa manis.  Sebenarnya faktor terlalu cepat dipetik dan tidak menunggu sampai ia matang dan jatuh sendiri juga berpengaruh pada bau dan rasa durian. Namun, meskipun sudah matang, yang dapat dipastikan dari tangkai dan durinya, durian daerah lain tetap tidak selezat durian Tangse.

Selain baun yang menyengat, daging buah yang tebal dan rasanya yang manis, harganya juga terjangkau. Jika musim seperti ini satu durian besar berharga sepuluh sampai lima belas ribu rupiah. Biasanya orang-orang dari Beureunun dan seputaran Sigli banyak berdatangan ke Tangse untuk mencicipi durian Tangse yang lezat.

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

26 Comments

Leave a Reply to Aulia Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: