Life Story,  PhotoBlog,  Traveling

Arti Keberkahan Rezeki dari Nyak Penjual Teri

Pasar Peunayong, Banda Aceh

Ada saja yang menarik perhatian saya saat melangkahkan kaki ke Pasar Peunayong. Pasar ini merupakan salah satu pasar di Banda Aceh yang letaknya tidak jauh dari pusat kota. Aneka sayuran segar, ikan yang baru diturunkan dari perahu nelayan, dan daging yang baru disembelih dapat didapatkan dengan murah di pasar induk ini.

Lantas apa daya tarik Peunayong hingga membuat saya pagi-pagi buta datang ke sana? Tentunya selain sayur, ikan, dan daging ada nilai tambah lain yang membuat saya takjub. Di tengah keriuhan transaksi jual beli di sana, saya begitu terkesima melihat nyak-nyak (sebutan untuk wanita paro baya dalam Bahasa Aceh.red) dengan bakul di punggung berjalan gontai ke lapak miliknya. Melihat wajah nan keriput itu begitu semangat menjajakan sayur-mayur dan memanggil-manggil pembeli untuk mengambil seikat bayam. Seakan ada aura magic yang yang hadir ketika bibir tua itu mengucapkan “piyoh” dan meminta saya untuk mampir.

Saya sering bergumam di dalam hati, untuk apa mereka tetap bekerja di usia yang kian senja. Apakah anak-anak mereka tidak mampu menafkahi sehingga tega membiarkan wanita paro baya itu saban hari berangkat ketika fajar menyingsing ke pasar lalu pulang ketika senja?

Ka cok, Neuk.  Seuribee mantong (ambil, Nak. Seribu saja),” bujuknya sambil menyodorkan bayam segar. Selain menjual sayur, para wanita paro baya itu ada juga yang menjajakan rempah-rempah, ikan asin, dan juga teri.

Jerih payah mereka menjual dagangan di pinggir jalan terlihat kontras dan bertolak belakang dengan pengemis yang duduk selonjoran di antara mereka. Nyak-nyak tersebut begitu ulet menjual dagangannya. Tidak masalah kalau pembeli hanya sekedar mampir, menawar, dan tidak membeli, itu seakan menjadi kepuasan tersendiri bagi mereka. Meskipun terlihat lelah, tetapi api semangat yang terpancar pada wajah tua milik penjual sayur di Pasar Peunayong itu tetap menggelora.

Sedangkan para pengemis, hanya bermodalkan kecacatan tubuhnya, bahkan ada juga yang sehat walafiat, hanya bisa mengulurkan tangan, menyodorkan sebuah timba kecil atau surat keterangan tidak mampu untuk mendapatkan belas kasihan dari awak pasar. Ironis sekali.

Hm, berbicara tentang kegigihan nyak-nyak tersebut, saya tiba-tiba teringat dengan seorang nyak yang duduk di samping saya suatu pagi dalam sebuah labi-labi.

Nyak Penjual Teri di Labi-labi

Setiap pagi saya selalu menumpang angkutan umum khas Aceh itu. Ya, sejak bekerja saya lebih memilih naik labi-labi dibandingkan mengendarai kendaraan pribadi. Selain jarak rumah dengan rumah sakit yang cukup jauh, keamanan di jalan raya juga sedikit terjamin dengan menumpang angkutan umum. Tahu sendiri kan bagaimana macetnya Banda Aceh ketika jam kantor dan sekolah akan segera dimulai. Tidak semacet Ibukota memang, tapi cukup menyita waktu dan membuat jantung berdegup kencang saat membawa kendaraan.

Pagi itu, saya duduk berdampingan dengan nyak yang entah siapa namanya. Sambil membetulkan letak jilbabnya, wanita itu mengulurkan senyum padaku. “Mau kemana, Nak?” tanyanya ramah dalam Bahasa Aceh.

“Indrapuri,” jawabku. Ternyata tujuan kami sama. Ia juga hendak menuju pasar Indrapuri untuk menjual teri Krueng Raya di sana. Teri yang berasal dari Krueng Raya, sebuah desa yang terletak di Aceh Besar memang terkenal dengan kelezatan dan kualitasnya. Harganya memang sedikit lebih mahal dibandingkan dengan teri yang didatangkan dari Medan atau daerah lainnya. Namun, karena mutu teri Krueng Raya yang terjamin, tidak masalah jikalau harganya sedikit tinggi.

Percakapan kami pun berlanjut. Mulai dari menanyakan harga teri sekilo sampai keberkahan sebuah rezeki. Nyak penjual teri itu menjelaskan padaku tentang betapa nikmatnya hasil yang kita peroleh dari jerih payah kita sendiri.

“Meski tidak banyak, yang penting berkah.” Ucapnya mantap. Sebenarnya, menurut pengakuan wanita itu, anak-anaknya melarang dia untuk tetap berjualan. Usianya yang tidak lagi muda membuat buah hatinya khawatir. “Tapi saya tidak bisa diam. Rasanya penyakit saya kambuh kalau saya di rumah saja.”

Rupanya, tidak hanya saya yang menyimak petuah wanita tua itu, tetapi seluruh penumpang labi-labi.

“Kok murah sekali terinya, Nyak? Kemarin saya beli harganya dua kali lipat lebih mahal,” ucap seorang ibu yang duduk dekat dengan pintu.

Nyak itu lalu menceritakan kisahnya mendapatkan teri, mulai dari biaya yang ia keluarkan untuk membeli ikan bilis yang dikeringkan itu dari nelayan sampai harga yang ia patok untuk menjual.

“Cucu saya selalu mengingatkan saya untuk tidak mengambil untung yang berlebihan. Dia paham tentang hukum jual beli karena saya suruh dia mengaji di pesantren,” terangnya bangga, “katanya, kalau kita berdagang, jangan pernah ambil untung sampai 100 persen. Itu haram. Rezeki yang haram akan mengalir ke darah kita dan juga orang yang kita nafkahi. Ambil saja untungnya paling banyak lima puluh persen. Kalau memang pembelinya sedikit, jual saja dengan harga yang sudah dipotong ongkos becak dan labi-labi. Kalau tetap tidak ada yang beli, jual dengan harga aslinya. Yang penting barang kita laku dan berputar.”

Saya dan penumpang lain yang mendengar ceramah pagi sang nenek mangut-mangut.

“Rezeki yang halal dan berkah bisa mengantar kita ke Tanah Suci, Nak.” Kata nenek itu ketika labi-labi berhenti di Pasar Indrapuri. Wanita tua itu pun pamitan padaku sambil menurunkan barang dagangannya

***

Pembicaraan dengan Nyak Penjual Teri di labi-labi seakan menjawab pertanyaanku akan rupiah demi rupiah yang dikumpulkan para wanita tua di Pasa Peunayong. Lihat saja, dari seikat bayam yang harganya seribu rupiah, hanya dua atau tiga ratus rupiah keuntungan yang mereka dapatkan. Tetapi tidak sedikit di antara mereka ternyata telah bergelar Hajjah. Kalau dipikir-pikir, dari mana mereka bisa mendapatkan banyak uang untuk ke tanah suci sedangkan penghasilan mereka sehari tidak sampai lima puluh ribu? Mungkin disitulah arti rezeki yang berkah.

Mungkin, nyak-nyak di Pasar Peunayong itu juga beralasan sama dengan Nyak Penjual Teri. Meskipun tubuhnya telah membungkuk, tapi mereka tidak bisa diam saja di rumah. Ada kenikmatan tersendiri ketika bertemu dengan teman-teman di pasar, bertransaksi dengan pembeli, dan mengumpulkan lembaran rupiah. Bisa jadi kalau duduk saja di rumah, sakit tulang yang kerap dialami orang tua malah akan kambuh.

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

11 Comments

  • Ihan

    Semoga Allah memudahkan rejeki nenek/nyak tersebut, banyak nilai-nilai yang bisa kita pelajari dari mereka ketimbang pada pengusaha besar.

  • Azhar Ilyas

    yah, ternyata apapun profesinya, berkah dan halal tetaplah menjadi kuncinya… in sya Allah bisa, nabung sedikit-sedikit…. lama-lama jadi bukit … (kata peribahasa)

  • Eni Martini

    Nyak disana sama juga dengan arti Nyak di Jakarta yang artinya Nenek. Nyak ini mengingatkan saya pada seorang Nenek yang menjual peyek dan telur ayam kampung mentah di daerah Cilandak, sentral penjualan makanan di daerah saya*makanan matang. Untuk warga BAW seperti mba Anik, Elita, pasti tahu daerah Pertigaan Cilandak central makanan itu.
    Si Nenek yang lebih tua dari pic Nyak penjual teri ini, setengah bungkuk, keriput, menggendong sebakul peyek dan sekeranjang telur mentah.
    kami, yaitu suami dan anak-anak sering ta tega, tapi saya paham bagaimana pun manusia itu butuh eksistensi. Nah, si Nenek ini tengah berada pada wilayah eksistensinya, eksistensi yang membuat manusia merasa ‘berarti’ krn menghasilkan sesuatu dalam dirinya,
    peyek hasil buatan sih Nenek itu…ehmmm, seperti tepung yg diadoni kurang air, keras tanpa rasa, berbentuk tak beraturan, djual sekantung 5rb…
    kami lebih sering membelinya tapi tdk kami makan, stidaknya kami sdh mcoba memunculkan kebanggaan pd si nenek, ketimbang kami ksh uang dan tidak mengambil dagangannya, tentu dg jumlah pembayaran lebih dan berbisik: Lezat, nek, peyeknya…”
    senyumnya pasti meruah
    membuat anak-anak saya tertawa: Kok udah gede gada giginya…
    wkwkwkwkwwk..anak-anak saya yang ciriwisssss

    BTW makasih sdh berbagi kisah yang ga bisa yaaaaa, aku suka tulisan diblog ini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: