Feature,  Life Story,  Opini,  Traveling

Antara Pengemis dan Petani

“Kak, minta uang seribu. Saya belum makan. Minta, Kak.” Sebuah suara bocah laki-laki mengejutkanku yang sedang mengambil posisi di bangku mopen L300. Uluran tangannya masuk lewat jendela mobil. Malam itu mobil yang saya tumpangi sedang berhenti sejenak di terminal Bireuen.

“Maaf ya, Dek.” Ucapku sambil mengangkat tangan. Lalu aku sibuk sendiri. Tetapi bocah itu tak kunjung beranjak. Ia masih di depan pintu dan mengulangi kalimat yang sama sebanyak empat kali dan saya pun kembali mengucapkan maaf.

Akhir-akhir ini, saya memang sedang berusaha untuk tidak memberi uang kepada peminta-minta. Meski terkadang hati tidak tega, tetapi saya harus tegas. Memberi uang pada mereka itu sama saja dengan membiarkan mereka keenakan untuk mengemis. Mungkin akan berbeda ceritanya kalau yang meminta adalah orang yang telah uzur, sakit-sakitan, dan tidak sanggup lagi bekerja. Namun, kebanyakan para pengemis itu adalah mereka yang sehat fisiknya, kuat tenaganya, dan usia masih muda. Tapi mengapa mereka meruntuhkan harga diri mereka dengan meminta-minta? Tidakkah mereka sadar kalau tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah?

Sebelum tsunami dulu, saat seorang lelaki paro baya yang berprofesi sebagai pengemis menghampiriku, saya pernah menanyakan sebab-musabab ia meminta-minta. “Saya tidak bisa ke sawah dan ke kebun karena sedang konflik. Saya tinggal di Sawang dan di sana rawan sekali.” Waktu itu kami berpas-pasan di sebuah swalayan di Banda Aceh.

Anehnya, beberapa waktu lalu saat saya belanja di swalayan yang sama, saya bertemu lagi dengan bapak itu. Dia masih belum berganti profesi alias masih mengemis. Padahal, konflik di Aceh sudah berakhir. Saat ini masyarakat dapat mengepulkan asap dapurnya dengan leluasa. Entah bertani, berkebun, atau mencari ikan di lautan. Lalu bapak pengemis itu, kenapa dia tetap di sana? Alasan apalagi yang digunakan untuk melegalkan profesinya?

Saat melihat remaja yang meminta uang pada saya di L300 dengan alasan belum makan dan bapak di swalayan, saya teringat dengan petani yang kerap saya jumpai di Tangse atau di Gandapura. Setiap hari mereka membanting tulang dengan bertani. Entah itu di sawah sendiri atau punya orang. Dengan penuh semangat mereka bekerja. Tidak pernah mereka meminta-minta. Kalau pun terpaksa, mereka meminjam uang atau beras pada tetangga yang kelak diganti saat panen tiba. Ada kebanggaan melihat mereka yang berusaha sekuat tenaga untuk membiayai keluarga. Rasa bangga semakin melonjak saat melihat anak yang mereka besarkan dengan jerih payah kini berhasil dan menjadi orang hebat. Kalau dipikir, siapalah para petani dan keluarganya itu. Sanak saudara juga bukan. Tetapi rasa bangga terhadap upaya mereka hadir begitu saja.

Lantas bagaimana dengan pengemis itu? Rasa malu dan kecewa hadir ketika melihat aksi mereka. Beragam cara mereka lakukan untuk memunculkan rasa iba dari orang-orang. Entah itu langsung meminta, membawa surat miskin, atau beralasan belum makan seperti yang dilakukan bocah di terminal itu. Rasa iba kerap muncul, tapi saya harus membiasakan diri untuk tidak memberi. Penghasilan mereka sehari lebih banyak dari upah para petani dan gaji internship saya. Memberi uang ke mereka sama saja dengan membuat mereka semakin malas dan keenakan meminta-minta.

Anak laki-laki yang meminta uang seribu dan mengaku belum makan itu kini tidak lagi di depan jendela tempatku duduk. Ia pergi ke belakang. Melakukan hal serupa pada penumpang lainnya. Kalau dikasih, ia akan langsung pergi dan meminta pada penumpang lain. Kalau tidak dikasih, kulihat ia melakukan hal serupa seperti yang ia perbuat padaku. Ia berdiri dan mengulang ucapannya berkali-kali lalu pergi. Kalau ada dua puluh orang yang memberinya seribu, maka makanan dia malam ini seharga dua puluh ribu. Ah…

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

19 Comments

  • ihsan saidi

    hmm..
    waktu aku kuliah dlu dibdg jg bnyak pengemis di perempatan jalan, suatu sore hujan deras dan diperempatan itu ada pos polisi yg berukuran 1,5 x1,5 meter yg biasa kosong, aku hendak berteduh disitu, tau2’a dalam pos sudah dipenuhi pengemis, yahh.. aku dibawah atap pintu’a saja, sedikit ironis mereka itu ngobrol biasa2 saja seperti org sehat pada umum’a bahkan tertwa terbahak2 ketika mereka saling bercerita sesama pengemis, berbeda jauh raut wajahnya ketika mereka mengemis.

    disudut kota yg lain terdapat pamflet porlantas terpanpang dilarang memberi kepada pengemis.

    sedangkan dijakarta kalau bulan puasa mereka ada dimana2, sebagian pendapatan mereka dua kali lipat gaji aku.

    great job.hhehe

    • Liza Fathia

      Ironis ya ihsan.begitulah potret negeri ini. Bisanya cuma meminta tanpa mau berusaha keras. Semoga kita dan keluarga kita tidak demikian

  • moersalins

    saya cerita waktu di belanda saja ya :),
    beberapa hari setelah tiba di maastricht, ditemani roommate yg orang india, kami belanja di sebuah supermarket murah yg ada dekat tempat kami tinggal.

    ketika masuk kedalam supermarket tersebut, di dekat pintu, berdirileah seorang pria paruh baya, meminta sedekah, seperti yg biasa kulihat di negeri ini.

    awalnya aku kaget dgn pemandangan ini, namun cuek aja karena si kawan kulihat juga cuek, dia memang sudah sedikit lebih lama tinggal disana dibandingkan saya, dan pastinya sudah pernah melihat hal seperti ini.

    nah, saat sedang mengambil kereta belanja yg terletak dekat pintu, seorang asli belanda keluar dari supermarket dan langsung meledek org yg minta minta tsb. aku tdk begitu paham dgn yg dikatakan, tp tampaknya ia kesal dgn peminta tsb. aku tanya ke sikawan, dia juga geleng2 ala india, tdk ngerti bahasa belanda.

    seorang pembeli lain yg jg sedang mengambil kereta belanja disamping kami lalu menjelaskan bahwa pembeli tadi mengusir si peminta minta, karena menurut pengakuannya, penduduk disana akan kesal dan tidak akan memberikan apa2 kepada peminta. “kita capai kerja, masa mereka cuma minta2, enak sekali dong” tutupnya.

    trus kenapa juga masih juga minta2? tanyaku.
    “yang diincar turis, student luar atau pendatang seperti kalian”

    kami mengangguk..

    setelah kami belanja, dan keluar dari supermarket tadi, tidak kami ttemukan lagi si peminta2 tadi, rupanya shock tetapi dari setiap orang yang lewat cukup efektif.

    jadi ingat seorang teungku bilang, kalo semua kita gk mau ngasih, pasti gk akan ada yg minta2 lagi :)…

    • Liza Fathia

      Iya puji. Memang, kita dianjurkan utk banyak bersedekah. Tapi apa jadinya mereka kalo sedekah yg kita berikan justru membuat Mrk semakin malas.

    • Liza Fathia

      Iya. Padahal mereka adalah generasi penerus.kalo dari kecil bisanya cuma meminta-minta, besarnya tidak lebih baik dari srkarang

  • Monza Aulia

    Kalau menurutku, umumnya orang mengemis karena putus asa dengan kondisi fisiknya sehingga dia terus ngedoktrin dirinya kalau bagi dia tidak ada alternatif utk memilih jalan hidup.
    Salah satu alasan lainnya yang bikin orang jadi pengemis itu karena kesalahan karakter kak, dari keluarga pengemis mendidik anak jadi pengemis.
    Tapi juga ga serta merta karna hal itu, negara juga ikut andil untuk bikin orang jadi pengemis dengan aturan/kebijakan yg menyulitkan untuk orang berusaha.

    Alasan lainnya mungkin yang pernah kutemui kak, orang yang minta-minta karna gaya hidup. Contohnya anak P*NK yang ngelunta-lunta di jalanan, jalan-jalan antar provinsi, sbagian dr mereka ada yg suka minta-minta ke pengguna jalan.

  • Anggara

    kalau saya sih, saya langsung tawarin untuk dibeliin makanan, kalau nggak mau dan nolak, berarti ya nipu hehehehe

  • Muna Sungkar

    Ya gitu lah kelakuan pengemis skr, mereka ga mau susah dikit, cuma mengandalkan belas kasih org.. Lupa kl tgn di atas lbh mulia

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: