Advertorial,  Review

[Advertorial] Tuntaskan Maag dengan Maggo

OBAT MAAG MAGGOPada postingan kali ini saya ingin menulis tentang pengobatan herbal. Halo, pasti bingung kenapa tiba-tiba saya menulis tentang bahan-bahan alami yang kerap digunakan untuk menyembuhkan penyakit? Karena di alam semesta yang diciptakan oleh Allah Swt ini terdapat beragam tumbuhan maupun hewan yang bisa menawarkan racun pada tubuh. Rasulullah Saw juga bersabda, “Hai hamba-hamba Allah, berobatlah kalian, karena sesungguhnya Allah Swt. tidak sekali-sekali membuat penyakit melainkan Dia membuat pula obatnya, kecuali satu penyakit, yaitu penyakit ketuaan.” (HR.Ahmad).

Lantas bagaimana dunia kedokteran memandang pengobatan herbal ini? Pengobatan herbal sah-sah saja selama obat-obatan tersebut memiliki evidence based alias terbukti secara ilmiah dan klinis bisa menyembuhkan suatu penyakit.

Kembali kepada tulisan tentang pengobatan herbal seperti pemakaian jamu, dan lain-lain, sebenarnya tulisan ini terinspirasi dari kejadian yang saya alami di tempat saya bekerja. Tentang Bang Jasmi, cleaning service di kantor yang menderita sakit maag.

“Hei Bang Jasmi, lagi minum apa?” tanyaku pada Bang Jasmi yang sedang meneguk segelas minuman berwarna kuning.

“Air kunyit, Bu. Aku sakit maag. Malas kali udah minum obat lambung. Ini mamak yang buat, lumayan enakan perut habis minum ini.”

“Bang Jasmi, Bang Jasmi. Makanlah yang teratur, sedikit tapi sering, itu kunci biar enggak sakit maag,” ujarku yang diikuti dengan anggukan pasti dari Meri yang juga ada di ruangan kami.

Mengetahui Bang Jasmi mengonsumsi ektrak kunyit untuk pengobatan lambungnya, saya pun teringat akan mamak. Mamak juga mengalami sakit maag atau dalam bahasa medisnya dikenal dengan dispepsia. Beliau waktu itu sering sekali mengeluh perut kembung dan sering bersendawa. Setiap mau makan terasa mual dan kepingin muntah. Ketika saya menawarkan obat untuknya, mamak menolak. Sudah bosan minum obat, keluhnya. Mamak lebih memilih mengonsumsi ekstrak lengkuas, kunyit, dan cengkeh yang ia giling sendiri dan dicampurkan dengan air. Alhamdulillah dengan makan teratur dan rutin minum ramuan tersebut beberapa hari keluhan mamak semakin berkurang.

Saya pun bercerita pengalaman mamak ke Bang Jasmi dan lelaki itu pun ingin mencoba pengobatan ala mamak. Tapi, tidak mungkin beliau meramu kunyit dan teman-temannya tersebut karena rutinitas beliau yang padat. “Ada yang praktis enggak, Liza? Yang udah diolah gitu? Tanya bang Jasmi kemudian.

obat maag maggo

Kebetulan saya memiliki persediaan obat maag Maggo. Jamu ini terbuat dari bahan alami seperti Alpinia galanga (lengkuas), Phaseolus aureus (kacang hijau), Auricularia polytricha (jamur kuping), Curcuma longa (kunyit), Syzygium aromaticum (cengkeh).

 “Coba aja, Bang. Isinya lengkuas, kunyit, cengkeh, jamur kuping, dan kacang hijau.” Saya pun menyerahkan bungkusan jamu yang diproduksi oleh EraHerbs itu kepada lelaki itu.

“Aman enggak?”Bang Jasmi penasaran.

“Tenang, aman dan halal. Udah teregister di Badan POM dan ada sertifikat halal dari MUI.”

“Bukan tablet ya? Jamu gitu?” tanyanya ketika melihat bungkusan berbentuk vial itu.

“Iya, Bang. Bisa diminum dengan madu biar enggak pahit.” Saran saya.

Bang Jasmi pun mencoba mengonsumsi Maggo sesuai dengan petunjuk di kemasan. Setiap pagi hari, kira-kira satu jam sebelum sarapan, Bang Jasmi mencampur 150 cc air mendidih dan madu lalu meminumnya. Untuk mengobati maag, sebaiknya diminum selama 12 hari.

obat maag maggo

“Gimana hasilnya, Bang?”

“Alhamdulillah sudah enakan, Bu Liza. Udah enggak kembung lagi.”

“Ngomong-ngomong kok nyarani minum obat herbal sih? Bukannya dulu Bu Liza anti dengan obat herbal?”

“Eits, siapa bilang saya anti obat herbal? Saya itu anti sama obat-obatan herbal yang enggak ada evidence basednya. Enggak ada bukti ilmiah kalau obat itu bisa menyembuhkan penyakit A, B, C, atau D. Cuma bermodalkan kata si Pulan kalau daun ini bisa nyembuhin kanker terus semua orang minum, enggak ada sumber ilmiahnya. Kalau sudah diteliti dan terbukti bisa menyembuhkan, kenapa tidak? Lagian sekarang sudah ada lho peraturan Menteri Kesehatan tentang obat herbal dan tentang jamu.” Jelasku pada Bang Jasmi dan beliau mengangguk-angguk.

“Intinya sih bukan pilih herbal atau kimia, tapi jaga kesehatan.” ucap saya kemudian.

All those spices and herbs in your spice rack can do more than provide calorie-free, natural flavorings to enhance and make food delicious. They’re also an incredible source of antioxidants and help rev up your metabolism and improve your health at the same time. Suzanne Somers

 

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

3 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: