Life Story

9 Tahun Tsunami Aceh, Apa yang Tersisa?

Tidak terasa sembilan tahun sudah tsunami meluluhlantakkan Serambi Mekah. Namun, ia tidaknya meninggalkan luka lara, tetapi juga berjuta hikmah di dalamnya. Aceh yang dulu dirundung konflik berkepanjangan, kembali menghirup udara damai setahun pasca tsunami. Rekonstruksi dan rehabilitasi mampu menyulap bumi Darussalam ini menjadi baru kembali.

QTsunami memang meninggalkan duka, terutama bagi mereka yang kehilangan sanak keluarganya. Ratusan ribu jiwa syahid bersama gelombang air bah itu. Harta benda pun sirna. Namun, Tuhan tidak pernah menguji hambaNya di luar batas kemampuan mereka. Dan, di balik ujian yang mahadahsyat tersebut berjuta hikmah terkandung di sana.

Tsunami dalam wujud gelombang raksasa telah meluluhlantakkan Aceh sembilan tahun silam, dan kini tsunami baru kembali menimpa Acehku. Tsunami degradasi moral, tsunami yang menyebabkan hilangnya jati diri, dan tsunami narkoba.

Dulu, rasanya hanya pemakai ganja yang kerap terdengar di telinga. Apalagi oleh mereka yang hidup di hutan-hutan, tanaman marijuana itu sangatlah mudah didapatkan. Tapi kini, tidak hanya ganja yang menggerogoti masa depan pemuda Aceh, terapi beragam jenis narkoba lainnya terutama sabu-sabu.

Miris rasanya melihat muda belia dengan pakaian rapi di badan, wajah nan rupawan dan tidak berdosa dibawa oleh aparat kepolisian dengan borgol di tangan. Selidik punya selidik ternyata mereka adalah tersangka pengedar dan pemakai sabu-sabu. Lalu berapa terkejutnya saya ketika melihat seorang bapak dengan baju batik dan celana kain serta sepatu kulit nan mengkilap ikut diborgol bersama muda-mudi itu. Sekilas, sang bapak mirip seperti dosen atau pekerja pemerintahan, tapi apa lacur, dia juga tersangka pemakai sabu-sabu. Tidak hanya itu, ada juga pria berpeci dengan baju koko dan sarung layaknya seorang teungku, ia juga ikut dikunci dengan borgol besi milik polisi, kasus yang sama, pengedar sabu-sabu.

Oh Tuhan, sebegitu parahkah Acehku saat ini? Itu hanya segelintir yang tampak di mata saya, belum lagi kalau ditambah dengan cerita-cerita dari mulut ke mulut. Seperti cerita tentang seorang perempuan di kampungku yang kaya mendadak. Memang, selama ini ia bekerja sebagai TKW yang tidak jelas keabsahannya. Tapi, gaji seorang TKW tidaklah sebesar apa yang ia bawa pulang. Rumah besar, mobil, dan harta benda lain kini ada bersamanya. Semua orang kampung penasaran. Dan tak lama kemudian ia ditangkap petugas bea dan cukai karena membawa sabu-sabu dan menyembunyikannya di dalam kemaluan. Astaghfirullah.

Ah, saya jadi teringat sembilan tahun yang lalu. Tepatnya malam hari setelah air tsunami surut. Langit begitu berawan malam itu, listrik padam, saya dan teman-teman tidak berani masuk ke dalam asrama. Ya, waktu itu saya masih duduk di bangku SMA yang letaknya berdekatan dengan Bandara SIM. Malam itu dan malam-malam berikutnya kematian terasa begitu dekat. Terlebih ketika melihat mayat yang bergelimpangan tanpa pakaian, lalu diangkat dengan bulldozer dan dimakamkan di kuburan masal. Saat itu, saya dan teman-teman sangat bersyukur karena Tuhan masih memberikan kesempatan bagi kami untuk bertaubat. Semua orang pun berpikir demikian.

Tapi kini apa yang tersisa? Masih adakah rasa syukur akan nikmat yang kita rasa saat tsunami melanda tersisa di hati? Atau semuanya lenyap seiring waktu berjalan dengan mengganggap tsunami-tsunami hanyalah angin lalu dan dibiarkan saja?

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

6 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: