Life Story,  Uncategorized

15 Facts About Me

IMG_0782.JPG
15 facts about me? Hmm… Kira-kira apa saja ya fakta-fakta tentang saya yang perlu diungkapkan dan diberitakan. Ceileee, sudah seperti selebritis saja. Lama-lama bisa masuk ke infotaiment dan saya menjadi terkenal (mimpi kali yee :p). Baiklah, mukaddimahnya enggak usah terlalu panjang alias to the point aja ya. Sebenarnya saya ditantang oleh beberapa teman blogger untuk mengungkapkan fakta-fakta yang masih tersembunyi tentang saya sebanyak 30 fakta, tapi nyicil dulu ya setengahnha. (Udah kayak ngutang aja 🙂 )

And here are 15 facts about me. Check them out and read carefully!
1. Suka berkubang seperti kerbau.
Nah lho! Yup, waktu kecil dulu saya suka sekali berkubang di sawah sambil menemani Bapak mencangkul tanah yang masih bergumpal setelah dibajak oleh kerbau. Berkubang sambil bermain lumpur adalah kegemaran saya kala musim sawah tiba. Ujung-ujungnya bisa ditebak, pulang ke rumah gatal-gatal dan kudisan 🙂

2. Anak kedua yang berstatus anak pertama.
Kok bisa? Sebenarnya saya memiliki seorang kakak perempuan. Namanya Zinaton Hayati. Namun, Allah memanggilnya kembali ke sisiNya tepat ketika sang kakak berumur seminggu. Jadi, meskipun di Kartu Keluarga saya berstatus anak pertama, tapi sebenarnya saya adalah anak kedua.

3. Panggil aku Nonong!
Di kampungku, Tangse, saya dipanggil dengan nama Nonong oleh semua masyarakat di sana. Jadi, kalau kalian mencari Liza, pasti takkan ada yang mengenal. Semua orang pasti menggeleng kalau ada yang bertanya rumah Liza dimana ya? Atau kenal Liza? Carilah Nonong, insyaallah mereka kenal.

4. Sering dicubit oleh guru SD
Tega banget ya guruku itu? Ya, saya ingat sekali waktu itu kelas satu SD, ibu Mawar yang baik hatinya mencubit saya di perut. Pasalnya, disaat semua murid bisa menulis, saya masih sibuk dalam dunia saya sendiri. Sampai-sampai untuk menyadarkan saya, sang Bu Guru harus mencubit saya. Kejam? Ngga juga, soalnya saya memang sering dicubit oleh mamak kalau nakal-nakal. Cubitan Bu Mawar mah ngga seberapa.

5. Mulai ikut MTQ sejak kelas 3 SD
Waktu itu saya adalah peserta paling muda untuk kategori MTQ cabang tilawah anak-anak. Masih tingkat kemukiman sih, tapi ada kebanggaan tersendiri bisa ikut lomba mengaji tilawah yang saingannya sudah duduk di bangku SMP. Dan alhamdulillah saya dapat juara dua. Sepertinya, itulah awal debut saya ikutan lomba.

6. Pernah menyandang predikat anak eksodus
Ini adalah pengalaman yang paling menyedihkan. Tanpa angin atau hujan, tiba-tiba seluruh masyarakat Tangse disuruh mengungsi ke luar daerah. Padahal waktu itu saya baru tamat SD dan berancang-ancang masuk SMP. Walhasil saya terpaksa masuk SMP di Banda Aceh. Kebetulan waktu itu, mamak menitipkan saya pada Nyakwa, sepupunya. Sedangkan beliau sendiri dan adik saya tinggal di pengungsian. Nah, pas sekolah di sana, saya dipanggil anak eksodus oleh teman-teman. Sempat ngga terima juga, tapi memang begitulah kenyataannya.

7. Setahun menjadi siswa SMP 4 Banda Aceh
Selama setahun saya tinggal di Banda Aceh dan menjadi siswa SMP 4. Itu lho, sekolah yang letaknya di Peunayong dekat dengan pasar buah. Setelah itu saya minta pindah ke Pesantren saja. Soalnya, banyak kernet labi-labi yang suka mengganggu saya saat menumpang pulang. Terus montir di bengkel yang letaknya bersebelahan dengan sekolah juga begitu. Walhasil, pindahlah saya ke Dayah Jeumala Amal saat naik kelas dua.

8. Harus duduk di kelas 1 lagi
Nah, pas pindah ke DJA, saya rupanya harus mengikuti seluruh syarat-syarat siswa baru. Mulai dari pendaftaran, berbagai macam tes, dll. Saya pun tidak boleh duduk di bangku kelas 2 karena sistem kurikulum di Pesantren tersebut jauh berbeda dengan SMP.

9. Akulah si TuTi
Nah, waktu di Pesantren, saya mendapatkan julukan yang sangat aduhai, Tuti alias tukang tidur. Hihihi. Sampai sekarang pun julukan itu masih melekat. Gimana cara menghilangkannya ya?

10. Juara lomba lari
Ini adalah prestasi yang tidak bisa saya banggakan. Soalnya, saya selalu menjadi juara lomba lari dari belakang. Tidak pernah bergeser. Setiap kali jam olahraga, guru Penjaskes saya di SMA, bu Icha namanya, selalu menyuruh kami untuk mengelilingi asrama SMA Modal Bangsa sebanyak 2 atau 3 kali. Jika dikalkulasikan jarak keseluruhannya sekitar 2km. Nah, tidak pernah sekalipun dalam sejarah saya berhasil memecahkan rekor untuk jadi yang terdepan melainkan selalu yang paling belakang.

11. Pura-pura pingsan
Masih berhubungan dengan lari, saya pernah terjatuh karena tersandung batu saat lari. Tubuh saya jatuh di tanah dan tiba-tiba pitam. Langsung aja saya manfaatkan untuk tidur sejenak. Tapi, pas dengar suara Bu Ica yang menggelegar, saya langsung bangun dan lari lagi.

12. Hampir dijadikan monumen
Waktu kelas 3 SMA, kan ada tuh ujian praktek berbagai mata pelajaran termasuk Olahraga atau Penjaskes. Nah, untuk pelajaran ini Bu Ica menyuruh kami berlari keliling asrama sebanyak 3kali putaran selama 15 menit dan senam jantung sehat. Untuk lari, ya bisa ditebak, sekali putaran saja saya sudah menghabiskan waktu 20menit, kalikan saja 3 kali. Untuk ujian senam pun setali tiga uang. Kalau ada gerakan yang salah, maka seluruh siswa disuruh untuk mengulang lagi sampai benar. Teman-teman saya rata-rata hanya mengulang 2 atau 3 kali dan dinyatakan lulus. Bahkan ada yang sekali tampil langsung mendapat nilai perfect. Sedangkan saya? Bersama 3 orang teman saya yang lain, kami harus mengulang sampai 10 kali tapi belum juga bagus gerakan. Padahal, setiap hari kami selalu berlatih, tapi tetap aja ada gerakan yang salah. Sampai- sampai Bu Icha mengancam akan menjadikan kami monumen senam jantung sehat di aula sekolah, tempat ujian dilaksanakan. Syukurnya, atas kebaikan hati Bu Ica, kami diluluskan juga.

13. Hobi menanam bunga
Yup, ini adalah hobiku waktu kecil. Kalau sekarang? Masih suka juga nanam bunga, tapi karena tinggalnya pindah-pindah, semangat untuk menanam bunga jadi menurun. Moga-moga waktu punya rumah sendiri hobi lama itu bangkit lagi.

14. Pernah jadi mayoret
Tahukan apa itu mayoret? Itu lho, yang suka pegang-pegang tongkat, nari-nari, dan atur barisan drumband. Pasti pada terkejut kalau saya bilang saya pernah menjadi mayoret saat SMA. Saya sendiri aja sampai sekarang enggak habis pikir, kok bisa ya? Secara tinggi saya pas-pasan, pinggang kaku dan engga bisa lenggak-lenggok. Tapi pelatih drumband waktu SMA yang memang sudah tua dan tidak memakai kacamata itu memilih saya menjadi salah satu mayoret. Saya sih oke-oke aja. Menjadi mayoret artinya saya tidak perlu membawa alat-alat seperti pianika atau drum. Cuma bawa tongkat. Terus pas mayoret lain sedang melakukan atraksi di depan, saya pura-pura aja jalan ke belakang dan mengatur barisan. Kayaknya si bapak rada-rada nyesal memilih saya, tapi siapa yang suruh 🙂

15. Hobi nonton Film India
Walau sering diejek sama suami, tetap aja saya suka nonton film India. Apalagi yang mainya Hitrik Roshan . Ajha ajha… Salam namaste.

Ok, cukup 15 dulu ya fakta tentang saya. Kapan-kapan dicicil lagi deh.

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

33 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: