Category Archives: Feature

Jak U Tangse

Sungai di Tangse

Sayup- sayup hawa dingin merasup ke pori-pori. Tubuh yang sebelumnya penuh dengan peluh kini mulai segar oleh  semilir angin dari pegunungan. Jalanan penuh dengan tanjakan, dipagari perbukitan dan jurang terjal membuat adrenalin semakin melonjak.

Sesekali terlihat monyet-monyet bergelantungan cheap without prescription buy online Amoxil cheap prescription on line doxycycline cialis professional di pohon pinggir jalan. Menunggu lemparan makanan dari pengguna jalan. Di bawahnya, air sungai yang jernih mengalir dengan derasnya, menghantam bebatuan besar sehingga menghasilkan harmoni yang indah. Read more »

Seminggu di Bireuen

buy amoxicillin no prescription class=”size-full wp-image-652 ” title=”bireuen” online prescription prices src=”http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/10/bireuen.jpg” alt=”" width=”280″ height=”210″ />

Kota Bireuen

Bireuen yang terkenal dengan keripik pisangnya memiliki pesona tersendiri bagi saya. Selain merupakan tanah kelahirannya Irwandi Yusuf yang merupakan orang nomor wahid di Aceh, ibu kota Kabupaten Aceh Jeumpa ini  juga dikenal dengan sebutan Kota Juang.  Sangat banyak kisah heroik terekam dalam catatan sejarah. Benteng pertahanan di Batee Iliek yang terletak dalam kawasan ini  merupakan daerah terakhir yang diserang Belanda yang menyisakan kisah kepahlawan pejuang Aceh dalam menghadapi Belanda. Read more »

Datu Beru in Action

Tikungan tajam. Jalan berlubang. Jurang yang terjal. Itulah pemandangan yang saya dapatkan ketika cialis 10mg price mobil penumpang L300 membawa saya ke tempat danau Laut Tawar berada. Semak-semak, pepohonan sawit, dan pinang turut menjadi perhatian. Tak luput juga para petani yang sedang membawa pulang hasil panen di dalam karung besar yang entah apa isinya. Hujan yang turun mengeluarkan udara dingin dan perlahan mulai memasuki pori-pori.

Dalam hati saya berujar, ternyata jalanan menuju ke kota yang katanya paling dingin di Aceh itu sangat rawan dan menjadi pemicu kecelakaan. Padahal kota yang akan saya tempuh adalah ibu kota kabupaten penghasil kopi Arabica yang konon katanya menjadi komoditas ekspor. Tapi kok? Ah, semoga saja pemerintah setempat segera mengambil kebijakan untuk membangun jalan yang rusak .

Selain kopi, kota yang bernama Takengon itu juga terkenal dengan hasil alamnya. Buah-buahan segar seperti alpokat, jeruk, tomat, terong belanda, dan aneka sayur-mayur membuat dataran tinggi ini semakin terkenal. Sudah lama saya ingin menginjakkan kaki ke tanah tempat berasalnya tarian Saman westernunion locations ini. Dan sekarang semua itu terwujud.

Kesan pertama yang kurang baik ternyata tidak berlanjut. Istilah kesan pertama begitu menggoda ternyata tak berlaku untuk saya kali ini. Ketidaknyamanan dalam perjalanan ternyata buy amoxicillin tergantikan dengan segarnya udara Takengon. Bukit barisan terhampar sepanjang mata memandang. buy phentermine Apalagi di belakang penginanapan tempat saya menginap. Sungguh levitra drugs indah di pandang mata. Datu Beru nama tempatnya. Entahlah, saya tak tahu apa artinya. Read more »

Suatu Siang Bersama Down Syndrome

Dua karung besar. Kayu panjang. Suatu siang di perempatan jalan.

Awalnya saya mengira dua karung plastik besar yang isinya penuh dengan botol bekas,  plastik, dan tempat cat, yang sudah tidak layak pakai itu adalah sampah.  Entah siapa yang membuangnya di perempatan jalan masuk ke rumahku. Terbesit niat untuk memindahkan ke tempat sampah, dari pada di jalan pasti tak elok dipandang.

Belum pun niat itu saya jalankan, seorang bocah yang memakai baju salah satu parpol dan telah kotor karena lumpur datang generic amoxil dan mengambil karung besar itu. Dipikulnya karung itu dengan kayu yang memang terletang di tempat yang sama. Ketika melihatku bocah itu tersenyum. Kacamata hitamnya dibuka dan memperlihatkan deretan gigi yang kuning. Lalu ia pun pergi sambil melafazkan “Ngeng, ngeng, ngeng, ngeng.”

diflucan online width=”343″ height=”236″ /> “Dia meniru penjual roti  yang sering lewat jalan ini setiap pagi,” ungkap Rasyidah, tetangga saya yang rumahnya langsung berhadapan dengan jalan.

Ada-ada saja tingkah bocah yang dipanggil Cut Mad itu. Karung besar dan kayu ia umpamakan tempat menaruh roti yang dipikul penjual. Lalu suara “ngeng, ngeng” amoxicillin itu menjadi pengganti terompet yang kerap dibunyikan ketika sang penjual roti melewati perumahan. Read more »

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes