Feature,  Traveling

What Should We Do at LCCT Airport

Berhubung ini adalah perjalanan pertama saya ke luar negeri, maka dengan sabarnya suami menjelaskan apa yang harus kami lakukan ketika berada di bandara LCCT Kuala Lumpur sampai kami tiba ke penginapan.

1. Melapor ke bagian imigrasi

Ketika tiba di Bandara LCCT, Kuala Lumpur,  hal yang paling utama harus dilakukan adalah pergi ke bagian imigrasi untuk mendapatkan visa on arrival di passport hijauku. Hore! Passportku yang sebelumnya mulus kini berisi dua stempel. Pertama stempel yang ditancapkan oleh petugas imigrasi Aceh dan kedua dari petugas imigrasi Malaysia.

2. Cari ATM yang ada logo ATM Bersama dan tukar uang

Setelah urusan imigrasi selesai, saya dan suami mencari ATM untuk menukar uang. Kami tidak hanya berdua, tetapi ada seorang ustad yang juga berasal dari Aceh dan sedang menuntut ilmu di sini ikut serta. Sang ustad yang duduk di sebelah suami saat di pesawat dengan ringan tangan menjelaskan apa saja yang harus kami lakukan ketika tiba di KL. Maklum, ini adalah kali pertama kami ke kampungnya Siti Nurhaliza.

Dengan PeDe-nya suami mengetikkan 1000 RM di layar ATM bersama yang disediakan bandara. Error! Uangnya tidak mau keluar. Kami berdua panik bukan main. Kok bisa uangnya tidak mau keluar. Kami pun mundur dan menyilakan seorang laki-laki yang antri di belakang untuk maju dan mengambil uang. Tidak seperti kami, ketika laki-laki itu mengetikkan nominal ringgit, dengan mudahnya uang kertas itu keluar dari mesin ATM.

Kami pun mencari ATM lain yang ada logo ATM Bersama. Nihil. Sepertinya cuma ATM tadi yang bisa untuk bank Indonesia. Terpaksa kami kembali lagi ke sana. Sebelum menarik sejumlah ringgit, suami mengecek jumlah rupiah yang ada di rekeningnya. Tadaa… sisa uang di ATM hanya Rp 1.900.000. Nilai tukar Rupiah ke Ringgit saat itu adalah Rp 3.550. Wajar saja ATMnya error, uangnya nggak cukup! Kami hanya nyengar-nyengir sambil berharap ustad yang dari tadi menemani kami tidak melihat kebodohan yang telah kami perbuat. Akhirnya, uang yang dapat kami ambil hanya 500 RM. Ya, sejumlah itulah biaya hidup kami selama empat hari di KL. Cukup nggak ya? Mudah-mudahan aja cukup. Soalnya uang di ATMku juga cekek. Gaji kontrakku di RS belum dibayar. Kalau nggak cukup, Malaysia pasti punya mesjid yang nyaman untuk ditiduri. Hihihi…

3. Beli simcard ponsel

Setelah menukarkan uang, ustad berjenggot tebal itu mengajak kami membeli simcard ponsel. Kalau tetap menggunakan operator selular Indonesia, bisa-bisa pulsa bablas karena roaming. Ada beberapa provider selular terlihat menawarkan produknya di lobi LCCT. Masing-masing menawarkan berbagai kelebihan. Sesuai dengan saran sang ustad, kamipun memilih DIGI sebagai operator selular kami selama di KL. Cukup 10 RM, satu simcard yang dapat digunakan selama empat hari untuk nelpon, sms, plus internetan kini mengggantikan posisi  simcard tanah air di smartphone suami. Sedangkan saya? Kami hanya memiliki 500 RM untuk empat hari. So, saya bisa nebeng ponsel suami kalau ada keperluan. Ingat, hemat pasti membawa keramat.

4. Naik bus ke KL Sentral

Sang ustad masih saja menemani kami sambil menjelaskan transportasi apa yang harus kami tumpangi untuk sampai ke KL Central, pusat kotanya Malaysia. Saya dan suami hanya angguk-angguk saja dan berjalan pelan mengikuti langkah ustad itu. Kami merasa tidak enak sendiri karena telah merepotkan mahasiswa S3 di University of Malaya itu. Tapi  ustad itu tetap keukeuh membantu kami. “Kalian baru pertama kali ke KL, pasti banyak hal yang belum kalian tahu. Jadi sesama orang Aceh saya wajib membantu,” ucapnya.

Sebenarnya kami lebih suka mencari tahu sendiri apa saja yang harus kami lakukan selama di KL ini. Ada kepuasan tersendiri kalau kita bisa menemukan tempat yang belum pernah kita kunjungi dengan usaha kita sendiri. Seperti berhasil menemukan dunia baru atau memecahkan sebuah teka-teki atau berhasil keluar dari labirin. Columbus pasti merasakan hal ini saat ia menemukan benua Australia dan kami ingin merasakannya. Namun, kebaikan ustad itu tidak boleh kami tolak. Ia kelihatan tulus membantu kami yang masih terlihat linglung.

“Sekarang kita naik  bus LCCT. Nanti kita turun di KL Central,” terang ustad itu.

Di halaman bandara LCCT telah bertengger puluhan bus yang sedang menunggu penumpangnya. Kami pun bus yang akan segera menaiki bus yang akan berangkat ke KL central setelah membeli tiket seharga 9RM/ penumpang.

Jalanan dari bandara ke KL sentral terlihat lenggang. Jauh berbeda dengan jalanan di Jakarta yang pernah saya lalui setahun silam. Keduanya sama-sama ibukota negara tetapi level kemacetannya sangat jauh berbeda. Kendaraan yang berlalu lalang pun kebanyakan mobil pribadi yang masih terlihat bagus. Beberapa mobil kecil yang merupakan produk dalam negeri Malaysia meluncur dengan mulusnya. Suami saya menjelaskan kalau itu adalah mobil keluaran Proton, sebuah perusahaan mobil nasional Malaysia yang berjaya di negerinya sendiri. Saya mendengar penuh kekaguman tentang sejarah perusahaan mobil yang berdiri pada tahun 1983 dan diprakarsai oleh Mahathir Muhammad.

Setelah kurang lebih dua puluh menit di dalam bus, kami pun tiba di terminal KL Central. Terminalnya besar sekali. Baru kali ini saya melihat terminal sebesar dan sebagus itu. Maklum, tahunya hanya terminal Batoh di Banda Aceh.

5. Ke loket taksi dan beli karcis

“Kalian nginap di mana?” tanya ustad yang dari tadi mengikuti kami.

“Di Step Inn Guest House, jalan Pudu Lama,” jawab suami.

Ustad itu mengernyitkan dahi. Ia sepertinya tidak tahu dimana lokasi itu.

“Dekat Bukit Bintang,” tambahku.

“Katanya cuma 26 menit berjalan kaki dari KL Central. Kami jalan kaki saja, Ustad,” kata suamiku. Akhirnya apa yang hendak kami sampaikan dari tadi keluar juga.

“Jangan, naik taksi saja. Takutnya salah-salah jalan.” Ustad itu pun membawa kami ke loket taksi untuk membeli tiket. Terpaksa suami saya pun mengikuti kata-katanya. Untuk tujuan Pudu Raya ongkos taksi yang harus kami bayar adalah 10 RM. Ustad yang baik hati itu pun mengantarkan kami sampai ke taksi dan menjelaskan pada supir kemana tujuan kami. Setelah taksi kami berangkat, ia baru berlalu menuju tujuannya.

Naasnya, supir taksi itu tidak tahu di mana lokasi penginapan kami. Saya sempat berpikir apakah tempat tinggal kami itu masuk ke pelosok makanya harganya lebih murah? Jangan-jangan di situ tempat tidur para pengemis seperti di kawasan Setui, Banda Aceh. Pak supir itu pun marah-marah karena ongkos taksi yang kami bayarkan di loket masih kurang. Karena tidak ingin berdebat dan takut kalau sampai ia menurunkan kami di tengah jalan, kami pun menambahkan 3 RM sesuai permintaanya.

Setelah bertanya pada supir lain yang ia temui di terminal Pudu Raya, kami pun tiba di sebuah gang yang ada kuil umat Hindu di sebelah kanannya. Bau rempah-rempah, dupa, kembang, serta sampah yang telah membusuk menyatu menjadi satu. Orang-orang berkulit hitam, hidung mancung, dan ada titik merah di antara alisnya sedang berdoa di dalam kuil itu. Saat itu kami seperti di dalam film India saja. Beberapa meter ke depan tiba lah kami di depan Step Inn Guest House. Ketika saya melihat jam, tidak sampai lima menit perjalanan kami dari KL Central.

“Besok kita jalan kaki aja ya, Bang. Jangan sampai kita tertipu lagi sama tukang taksi.” Ucapku kesal dengan kelakuan supir taksi itu.

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

25 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: