Ratna Eliza
Banda Aceh,  Feature,  Kesehatan,  Life Story

Ratna Eliza, Ibu Peri Anak-Anak yang Menderita Kanker

Ratna Eliza
Ratna Eliza, Ibu Peri bagi Anak-anak yang Menderita Kanker (credit photo: DAAI TV Medan)

Saya tak tahu, berapa waktu yang tersisa untuk saya. Satu jam, satu hari, satu tahun, sepuluh, lima puluh tahun lagi? Bisakah waktu yang semakin sedikit itu saya manfaatkan untuk memberi arti keberadaan saya sebagai hamba Allah di muka bumi ini? Bisakah cinta, kebajikan, maaf dan syukur selalu tumbuh dari dalam diri, saat saya menghirup udara dari Yang Maha? (Helvy Tiana Rosa)

Petikan kalimat di atas rasanya sangat mewakili perasaan Ratna Eliza, seorang relawan untuk anak-anak penderita kanker. Di usianya yang tidak lagi muda, ia tetap ingin menebar kebajikan dan manfaat untuk orang lain. Bersama dengan beberapa relawan yang lain, ia membentuk Komunitas C Four sebagai wadah untuk memfasilitasi anak-anak kanker dari seantero Aceh untuk mendapatkan pengobatan dan memupuk kembali semangat mereka yang hilang.

Ratna Eliza
Ratna bersama anak-anak yang menderita kanker di Rumah Singgah C-Four (credit to: Ratna Eliza)

Sosoknya begitu bersahaja, itulah kesan pertama sekali saat saya mengobrol langsung dengan wanita ini lewat facebook. Dengan ramah ia menjawab setiap pertanyaan yang saya ajukan, terkadang ada canda yang ia selipkan. Saya memang belum pernah bertemu langsung dengan ibu dari tiga orang anak ini. Jarak dan waktu membuat kami belum bisa bersua. Akan tetapi, dunia maya selalu memberikan ruang bagi kami saling bertegur sapa.

Ratna Eliza
Ratna tetap cantik diusia cantiknya

Saya memanggilnya Kak Ratna. Melihat betapa energik dan bersemangatnya wanita itu, awalnya saya mengira kalau ia masih muda. Dari foto-foto yang ia unggah, wajahnya terlihat selalu segar dengan polesan make up yang sederhana. Namun, alangkah terkejutnya saya ketika ia mengatakan kalau usianya sudah 42 tahun.

Ya, Ratna bukanlah sosok yang masih muda belia dengan berjuta mimpi yang ingin diraih. Usianya sudah kepala empat, sebuah usia yang sudah cukup matang untuk seorang perempuan. Kehidupannya sudah sangat sempurna dengan dikelilingi oleh suami serta anak-anak yang sangat mencintainya. Sehari-hari ia telah cukup disibukkan dengan urusan rumah tangga dan pekerjaannya sebagai staf keuangan di SMA Lab School Unsyiah, Banda Aceh. Pada usianya yang kata orang sedang dalam masa usia cantik ini, hidupnya sudah lengkap. Tak ada pencapaian lagi yang ia harapkan.

Namun, hari itu, suatu siang di bulan Januari tahun 2014, Tuhan memiliki rencana lain untuknya.

Siang itu, ketika Ratna sedang membersihkan halaman rumah, ia melihat seorang ibu yang  menggendong anaknya turun dari becak tepat di depan rumahnya. Hatinya begitu terenyuh saat melihat kondisi anak perempuan yang digendong itu. Bocah yang bernama Annisa Alqaisya Funnari tampak begitu lemah dan terdapat benjolan di lehernya. Menurut cerita sang ibu, putrinya yang berusia 4 tahun itu menderita kanker dan harus dirujuk ke Jakarta.

“Ibu itu tidak memiliki biaya untuk berangkat ke Jakarta. Annisa juga anak yatim, jadi tidak tahu mau meminta tolong siapa,” kenang Ratna.

Ratna kemudian mengajak sang ibu untuk mencari bantuan ke Dinas Sosial. Sayangnya, tidak ada bantuan dari Dinas Sosial untuk penderita kanker. Namun, Ratna tidak habis akal, ia mencoba memanfaatkan media sosial yang ia miliki untuk menggalang dana demi bocah kecil tak berdosa ini.

“Saya mengupload foto Annisa di facebook dan menjelaskan keadaannya. Alhamdulillah banyak sekali teman-teman di facebook dan BBM yang mau membantu Annisa sehingga anak itu bisa dirujuk ke RS kanker Dharmais di Jakarta.”

Itulah awal mula Ratna terjun menjadi relawan bagi anak-anak kanker. Rasa iba dan kasihan melihat anak kecil yang tak berdosa harus menanggung sakit yang berat membuat hati Ratna tersentuh. Ia tidak bisa membayangkan jika anaknya sendiri yang berada di posisi mereka.

ratna eliza
Ratna bersama salah satu anak kanker yang didampingi C Four (credit foto: @ratnaeliza)

“Mereka masih terlalu kecil untuk merasakan dan mengalami kanker. Mereka tidak tahu kalau penyakit yang mereka derita adalah penyakit pembunuh nomor satu di dunia,” jelas Ratna dengan mata berkaca.

Mendirikan Komunitas C-four dan Rumah Singah

Berawal dari rasa sayang tersebut, ibu dari Sofia Putri Maharani, M. Noer Arif Ar Rahim, dan Ade Rayhan Al Ghiffary ini tergerak hatinya untuk mendirikan komunitas Children Cancer Care Community (C-Four) pada awal tahun 2014.

 “Rata-rata keluarga pasien kanker yang berasal dari luar daerah enggan ke Banda Aceh karena enggak punya biaya. Memang untuk seluruh warga Aceh bisa berobat gratis dengan JKRA (Jaminan Kesehatan Rakyat Aceh). Tapi selama di Banda Aceh mereka tidak punya uang untuk sewa tempat tinggal dan mencukupi kebutuhan lainnya seperti makan-minum. Ujung-ujungnya mereka pasrah dengan keadaan anak mereka.“ ungkap Ratna.

Dan di sinilah Ratna bersama relawan C-Four turun tangan. Lewat media sosial yang mereka miliki, Ratna menggalang dana dengan mengunggah foto dan keadaan anak penderita kanker tersebut atas seizin keluarganya. Respon pengguna facebook sangat positif terhadapt kegiatan yang ia lakukan. Tidak sedikit netizen yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia bahkan luar negeri memberikan sumbangan untuk anak-anak tersebut.

Ratna Eliza
Facebook Ratna Eliza yang setiap hari berisi tentang informasi tentang anak-anak kanker yang ada di rumah singgah

Dari sumbangan itu, Ratna dan relawan C-Four lainnya berinisiatif untuk menyediakan rumah singgah bagi anak-anak kanker dan keluarganya. Selama menjalani perawatan medis, pasien yang belum mendapatkan giliran pengobatan atau setelahnya di RSUD dr. Zainoel Abidin, dapat menginap di rumah singgah C-Four yang terletak di Lampriet, Banda Aceh. Selain itu, C-Four juga menyediakan makanan dan kebutuhan lainnya untuk pasien dan keluarga yang mendampingi.

Sabar Menghadapi Ujian

Tiga tahun sudah wanita kelahiran Palembang, 42 tahun silam ini mendampingi anak-anak kanker yang berasal dari seluruh Aceh. Ia mengakui bahwa hal yang paling menyedihkan saat menjadi relawan adalah ketika anak-anak yang telah ia dampingi dalam pengobatan kanker, yang telah dekat dengannya, yang telah ia sayangi, tiba-tiba dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.

“Itu yang membuat saya down dan ingin menyudahi saja peran saya di C-Four. Saya tahu, kanker apalagi stadium akhir itu, pasti berujung pada kematian. Dan rata-rata anak-anak yang ada di rumah singgah ini adalah mereka yang sudah pada stadium akhir penyakitnya.”

Namun, ketika melihat anak-anak kanker lainnya yang masih dalam masa pengobatan, semangat untuk membantu anak-anak itu kembali hadir. Ratna selalu mencoba menahan dirinya untuk tetap kuat dan terus membantu.

Ratna Eliza
Ratna bersama anak-anak kanker di rumah singgah (credit photo: @ratnaeliza)

Stigma dan cemoohan saat memutuskan untuk menjadi relawan kanker juga kerap ia hadapi. Tidak jarang ia dihujani kalimat, “untuk apa menolong anak-anak yang sudah jelas tidak akan hidup lama lagi.” Bahkan saat mencarikan kontrakan baru untuk dijadikan rumah singgah. Hampir semua pemilik kontrakan di seputaran rumah sakit menolak menyewakan rumahnya.

“Ada yang mau rumahnya disewa, tapi waktu saya hendak membayar, yang punya rumah berubah pikiran. Katanya tetangga disekitar tidak mau kalau di lingkungan mereka ada anak-anak kanker.” Ucap Ratna yang sangat menyayangkan sikap warga tersebut.

Penolakan itu tidak membuat Ratna patah arang, ia terus bersemangat mencarikan rumah singgah yang lebih besar dari rumah sebelumnya dan lokasinya dekat dengan rumah sakit. Tujuannya adalah agar anak kanker dan keluarganya lebih mudah mengakses pengobatan di rumah sakit. Hingga suatu hari ia dipertemukan dengan pemilik rumah di kawasan Lampriet, Banda Aceh. Ibu sang pemilik rumah dengan tangan terbuka mengizinkan rumahnya untuk dijadikan rumah singgah.

Ibu Peri bagi Anak Kanker

Kehadiran Ratna bagaikan ibu peri yang dengan tongkat perinya memberikan secercah harapan untuk anak-anak yang menderita kanker. Itulah yang saya lihat dari cerita-cerita di timeline facebook wanita ini. Bahkan ada anak kanker yang saat itu sedang berada di kampung halamannya tetapi ingin segera pergi ke Banda Aceh untuk berjumpa dengan sang ibu peri.

Ratna memang tidak bisa menyembuhkan anak-anak yang telah didiagnosa kanker. Tetapi ia tidak pernah lelah berusaha memberikan kebahagiaan untuk bocah-bocah yang malang itu. Di waktu senggang setelah bekerja dan mengurusi anak-anaknya di rumah, ia selalu menyempatkan diri untuk datang ke rumah singgah.

Ratna eliza
Ratna, relawan C four, anak-anak kanker, dan keluarganya jalan-jalan di tempat wisata di Banda Aceh (credit photo: @ratnaeliza)
Ratna Eliza
Ratna dan relawan C Four sedang berkaroke bersama salah satu anak kanker di mall Banda Aceh (credi photo; @ratnaeliza

Di sana, ia bersama relawan C Four yang terdiri dari mahasiswa dan ibu rumah tangga bahu membahu memberikan semangat kepada anak-anak itu. “Dokter boleh saja memprediksikan kapan seseorang meninggal, tapi umur tetap di tangan Allah,” begitu ucap Ratna selalu kepada keluarga yang anaknya menderita kanker.

Terkadang ia dan anak-anak di rumah singgah itu mengisi hari-hari mereka dengan memanggang ikan dari hasil sumbangan donatur. Tak jarang, dengan kendaraan yang ia miliki, Ratna mengajak anak-anak tersebut jalan-jalan keliling Banda Aceh, bermain di arena permainan anak di mall, berwisata ke pantai, apa saja agar anak-anak itu bisa bahagia dan lupa sejenak akan sakit yang diderita.

Dukungan Keluarga

Apa yang Ratna lakukan di usia cantiknya saat ini sungguh tidak akan tercapai tanpa dukungan dari keluarga. Ratna mengakui, saat ia mulai terjun menjadi relawan anak-anak kanker, suaminya sempat tidak mengizinkan. Namun, ketika melihat sendiri bagaimana kondisi anak-anak itu, sang suami malah sangat mendukung apa yang dilakukan oleh istrinya.

Ratna eliza
Ratna bersama suami tercinta (credit photo: @ratnaeliza

Pun demikian dengan anak-anaknya, mereka sama sekali tidak keberatan dengan apa yang dilakukan oleh Ratna. Bahkan, putra bungsunya, Rayhan, hampir setiap hari, sepulang dari sekolah, ikut menemani Ratna berkunjung ke rumah singgah. Di sana, ia mengajak anak-anak yang kehilangan masa kecilnya akibat penyakit yang mereka derita untuk kembali menikmati apa yang seharusnya mereka dapatkan. Rayhan mengajak anak-anak itu bermain tanpa sedikitpun rasa takut dengan kondisi tubuh sang penyandang kanker.

Di akhir percakapan saya dengan kak Ratna, ia berpesan agar saya mau berkunjung ke rumah singgah jika pulang ke Banda Aceh nanti. “Beri mereka semangat, Liza. Yang mereka butuhkan adalah motivasi agar semakin semangat menjalani hidup.”

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba #usiacantik. “Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L’Oreal Revitalift Dermalift.”

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

39 Comments

Leave a Reply to kamar tidur Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: