Life Story,  Opini,  Serba serbi

Pohon Asam Kok Buahnya Caleg?

Akhir-akhir ini fenomena aneh melanda negeri ini. Tidak hanya di satu tempat saja, tetapi dari Sabang sampai Merauke kejadian aneh tapi nyata terjadi. Nah lho? Apakah itu? Yoohaaa,..pohon-pohon tidak lagi menghasilkan buah sebagaimana layaknya. Buahnya telah berubah. Pohon mangga tidak hanya menghasilkan buah mangga. Pohon asam jawa yang belum musimnya berbuah juga telah berbuah, tapi bukan buah asam. Bahkan pohon yang tidak berbuah sekalipun kini telah berbuah. Buahnya sama semua. Aneh tapi nyata. Itโ€™s the fact. Semua berbuah foto CALEG.

Buah-buah caleg itu dihasilkan oleh berbagai pohon (terutama yang terletak di sepanjang jalan) melalui hasil mutasi gen dan juga persilangan antara sang pohon dan kampanye Pemilu 2013. Buah yang dihasilkan juga beraneka warna dan jenis kelamin. Ada warna putih dengan lambang bintang, atau warna hijau dengan lambang bulan. Ada warna merah gambar burung (mungkin untuk mempercepat penyerbukan). Pokoknya segala macam warna yang ada di dunia ini (mejikuhibiniu) menjadi warna buah sang pohon. Kemudian isi buahnya ada laki-laki atau pun perempuan. Ada yang masih muda atau telah lanjut usia. Buah-buahnya juga beda-beda kualitas. Ada yang bertaraf kabupaten, provinsi, bahkan negara. Semua buah itu yang akan dipilih masyarakat Indonesia nantinya pada tanggal April 2013 untuk menjadi wakilnya.

Tapi, terpikirkah kita dengan hadirnya buah-buahan yang sangat aneh tersebut dan marak pada beberapa bulan terakhir sangat tidak diharapkan sang pohon. Istilah kasarnya buah yang tidak diinginkan. Betapa tidak, buah tersebut bukanlah murni dihasilkan pohon tersebut. Semua buah tersebut adalah para caleg 2013 yang sedang melakukan kampanye. Mereka telah merusak pohon-pohon tersebut dengan memaksa makhluk yang menghisap CO2 sepanjang masa untuk โ€œberpura-puraโ€ menjadi pohon dari buah tersebut. Ada yang memaku, mengikat dengan kawat, atau menjadikan sandaran, meski pohonnya masih kecil dan belum cukup kuat menahan beban angin (bisa patah).

Nah, bagaimana mereka bisa benar-benar bisa diberi amanat untuk menjadi wakil rakyat kalau mereka sendiri masih suka menzalimi. Bukankah pohon itu adalah makhluk hidup dan juga ciptaan Yang Maha Kuasa? Berapa banyak jaringan-jaringan tumbuhan tersebut yang mati karena terkena paku atau ikatan kawat?

Saya merasa kalau para caleg ini, sudah tidak punya kepedulian pada lingkungannya, jangan harap mereka akan peduli pada kader atau simpatisan yang sudah memberikan suara pada mereka, waktu pemilu.

Semoga saja kita tidak tertipu dengan wajah cantik atau ganteng dari para caleg yang terpampang di pinggir-pinggir jalan, dipaku di pohon, ditempel di tiang listrik atau telepon, bahkan di cat di tembok. Mari kita sebagai masyarakat yang demokratis, lebih bijak, dalam menentukan masa depan bangsa kita, dengan menitipkan aspirasi kita, pada calon legislatif yang punya kepedulian tinggi pada lingkungan, tidak sekedar janji atau ucapan, tapi praktek nyata di masyarakat dan lingkungannya.

Mari Selamatkan Lingkungan dan Bumi kita dari perusakan, demi masa depan generasi kita.

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

32 Comments

  • Ardi

    Menurut aku ni efek dari UU Pemilu juga,
    karena partai makin banyak ya otomatis sarana promosi juga makin sempit..he..he. Akhir pohon asam pun jadi tumbal.

    Coba dulu waktu paratai masih tiga..gak ada tu kan.Kayaknya besok aku bisa buka bisnis penyewaan Pohon Asam buat Promosi Caleg..seperti Bill Board gitu ha..ha

  • agungfirmansyah

    itu bukan buah. Orang-orang itu kan lagi pamer tampang. Gedhe gambarnya daripada tulisannya. Padahal di kertas suara ga ada gambar. Yg ada tulisannya. ;D

  • Piyoh

    hehe..namae test popularitas. tapi ya, kembali semua ke decision maker, asal peraturannya jelas dan mantap hal ini ngga bakal terjadi. tembok-tembok aman, tugu bersih, pohon bisa bernapas dengan lega, anak-anak bisa bermain dengan nyaman (oke, terlalu jauh).
    udah siap milih belum? waspadalah…waspadalah..

  • ijal

    konsekuensi demokrasi tanpa koridor..

    barangkali liza bisa mempelopori “Partai Hijau” di Indonesia seperti yang ada di Jerman dan di beberapa negara yang lain..mdh2an partai tadi bisa mencontohkan cara kampanye yg ramah lingkungan kepada partai2 lain..

    Btw, pilih caleg yang baek dalam segala hal lah..jangan cuma di ukur sama kepeduliannya terhadap lingkungan. Soalnya bisa ja, caleg tadi ga da niat buat kek gitu..cuma tim sukses nya aja yang nakal..

  • Rudy

    Sama di Probolinggo juga gitu dan sebagai akibatnya lingkungan jadi kelihatan kotor karena saking banyaknya pohon yang “berbuah aneh” tersebut.
    Sebenarnya perlu tindakan yang lebih disiplin terhadap Parpol yang sembarangan menaruh “Buah Aneh’ dan tidak pada tempatnya…
    Thanks yah udah mampir….
    Salam kenal juga yah?

  • Baka Kelana

    Sebuah fenomana yang menjijikkan…gimana mau jadi caleg dari pertama aja udach bergantung ama pohon asam…gimana mau jadi pimpinan kalau dia sendiri masih bergantung ama pohon asam….he…he…he…

  • Fuad

    weleh-weleh, manteb … sekarang ada juga jemuran ada caleg, tiang listrik ada caleg, Toilet umum ada caleg, ama facebook ada juga calegnya hehe. BTW salam kenal.

  • liza

    @ for all : so, sebagai warga negara yang baik,..marilah kita memilih wakil kita yang benar2 bisa mewakili kita dilegislatif nanti. wakil yang tidak zalim terhadap semua makhluk, dan bisa memimpin dirinya sendiri alias tidak tergantung di pohon (asam, mangga, dll) terus juga punya harga diri yang tinggi, tidak mau disuap dan terlalu banyak mengobral janji…

  • adnan

    Fenomena poster caleg dan partai dimana-mana yang menampilkan wajah cantik atau wajah tampannya adalah gambaran ketidakmampuan para caleg tersebut untuk menawarkan program atau melakukan sesuatu yg bermanfaat yg dapat menarik simpati rakyat.

    Saya setuju dengan Liza, mari kita menitipkan aspirasi kita pada calon legislatif yang punya kepedulian tinggi pada lingkungan, tidak sekedar janji atau ucapan, tapi praktek nyata di masyarakat dan lingkungannya.

    a nice posting, girl, I like it…^_^

  • safdhaly

    weleh…..
    makin terbukti sudah, kepentingan pribadi dan golongan tertentu akan menjadi dominan dibanding kepentingan masyarakat, apalagi lingkungan….

    Peduli lingkungan…? wah bisa gak yaaa….
    “Kalo kita peduli lingkungan dengan menempatkan spanduk, baliho dll di tempat tertentu, wah gw gak bisa kepilih dooonnng…..” Mungkinkah itu yang terpikir di para calon yang terhormat….?

  • Bayeuen Teureubang

    Great…nice posting

    I hope the “caleg” can see and read your post so that his shame arise and think back to improve and, if need arises to its inspiration and think: How would “caleg” … so now I just ideas and are less dependent on the tree …. ?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: