Feature,  Life Story

Nyanyak, Ibu Mertuaku

Hari telah beranjak senja, belasan bocah perempuan berusia empat sampai sepuluh tahun mulai memadati halaman belakang rumah mertuaku. Di antara mereka, ada yang duduk-duduk di atas balai, ada yang saling kejar-kejaran, ada yang bermain air di bak kecil yang terletak di samping balai, dan ada juga yang sedang menyuapi nasi untuk adiknya yang masih balita. Tepat ketika azan magrib berkumandang, mereka berbondong-bondong ke bak air untuk berwudhu lalu menunaikan ibadah shalat magrib. Seorang wanita paro baya keluar dari dalam rumah dan menjadi imam mereka. Setelah shalat dan bershalawat, wanita itu membimbing bocah-bocah itu mengaji. Ada yang masih mengaji alif, ba, ta, juz amma, dan tidak sedikit yang telah mampu membaca Al quran dengan fasih.

Wanita itu adalah Nyanyak, ibu mertuaku. Anak-anaknya memanggilnya dengan sebutan demikian yang artinya sama dengan ibu atau mama. Bocah-bocah itu, ada juga yang memanggilnya dengan Nyanyak, ada juga yang menyapanya dengan panggilan Cek Rah alias Makcek Nazirah.

Nyanyak bersama Syahir, cucu pertamanya

Saban malam, itulah aktivitas yang Nyanyak kerjakan. Mengajari anak-anak yang tinggal di kampungnya mengaji sampai mereka benar-benar lancar membaca kalam Ilahi. Dengan lemah lembut iya membimbing murid-muridnya. Tidak pernah saya mendengar, beliau memarahi anak kecil itu saat mereka berbuat nakal. Nyanyak menasehati mereka dengan santun sehingga bocah kecil itu segan kepadanya.

Tidak ada biaya atau kutipan apapun untuk mengaji di balai Nyanyak. Malah, menurut cerita suami saya, nyanyak sendiri yang mengeluarkan uangnya untuk mentraktir anak-anak itu makan mie, bubur, atau apa saja. Karena memang, mengajari orang mengaji itu tidak boleh mengutip bayaran. Jika ingin memberikan sesuatu sebagai tanda terima kasih kepada sang guru, itu dipersilakan.

Saking cintanya Nyanyak akan murid-muridnya, setiap berpergian, ia selalu berusaha agar pulangnya tidak kemalaman, kalau pun bisa, tidak menginap. “Kasihan anak-anak yang mengaji kalau Nyanyak tidak pulang,” begitu alasan yang kerap ia kemukakan jika saya memintanya untuk tinggal lama di rumah kontrakan kami. Namun, terkadang jika beliau sangat rindu akan cucunya, dengan berat hati, beliau mau meninggalkan murid-murid ngajinya sementara.

Ya, jarak rumah kontrakan kami tidak begitu jauh dengan rumah mertua. Saya dan suami tinggal di Kota Banda Aceh sedangkan mertua tinggal di Seulimum, Aceh Besar. Hanya butuh 30 menit dengan menggunakan mobil.

Selain sebagai guru mengaji, Nyanyak juga seorang Kepala Sekolah di SD Tanoh Abee. Sebuah sekolah dasar yang terletak di pedalaman Seulimum yang muridnya masih minim. Meski menjabat sebagai kepala sekolah, nyanyak tetap mengajar murid-muridnya. Maklum, di sekolah yang dipimpinnya itu masih kekurangan guru. Walaupun ada guru honor, tapi belum juga mencukupi.

Menurut cerita Nyanyak, sebenarnya banyak lulusan pendidikan guru SD (PGSD) yang ingin menjadi honorer di sekolahnya. Namun, nyanyak tidak bisa menerima mereka semua. “Kasihan kalau diterima, Nak. Sekarang saja, Nyanyak harus menggunakan gaji nyanyak untuk membayar honor guru yang telah ada sampai uang BOS keluar. Itupun tidak banyak, hanya 300ribu perbulan untuk tiga orang guru. Kalau kita terima lagi, jadinya jatah guru honor sebelumnya harus dikurangi. Bayangkan saja, 300 ribu bisa beli apa? Terus kalau dikurangi lagi?” Begitu cerita nyanyak suatu hari ketika kami duduk-duduk bersama, ada sebuah sms yang masuk dari guru yang ingin menjadi honorer di sekolah Nyanyak dan terpaksa ditolak.

Nyanyak adalah guru yang sangat peduli tidak hanya kepada muridnya, tetapi juga kepada semua orang. Setiap melihat orang kesusahan, rasa empatinya langsung muncul. Sebisa mungkin ia mencoba membantu. “Hidup nyanyak dulu sangat susah, Nak. Makanya, setiap melihat orang lain yang nasibnya kurang beruntung, nyanyak langsung bisa merasakan.” Nyanyak lalu menceritakan perjuangan hidupnya saat sekolah dulu. Dari mulai tinggal di rumah saudara, menjadi tukang cuci, dan bersusah payah mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk dapat bersekolah hingga menjadi guru seperti sekarang ini. Meski sudah mapan, Nyanyak dan Ayah tetap mengajarkan kesederhanaan untuk kelima anaknya.

Karena sifat Nyanyak yang ringan tangan, saya mendapatkan pengalaman lucu saat saya berlebaran di rumah mertua saya itu. Dari pagi sampai sore, tamu di rumah nyanyak tidak pernah surut. Kebanyakan mereka adalah murid-murid Nyanyak di pengajian dan di sekolahan. Bahkan, ada yang sudah bertamu di pagi hari, sore harinya datang lagi. Rumah mereka tidak dekat. Untuk sampai ke rumah Nyanyak, mereka harus berjalan kaki beberapa kilo meter. Namun, itu tidak menjadi masalah. Nyanyak pun menjamu tamu kecilnya layaknya tamu yang lain. Memberikan minum berupa syrup merah merk Kurnia yang kerap disebut sirup Cap Patung dan menghidangkan aneka kue lebaran. Ketika mereka pulang, semuanya mendapat salam tempel dari Nyanyak. Tidak jarang, dua adik ipar saya yang perempuan protes akan banyaknya tamu Nyanyak. Pasalnya, kue lebaran dan sirup di rumah cepat sekali habisnya. Belum habis hari lebaran, kuenya telah ludes duluan. Menanggapi hal itu, Nyanyak hanya tersenyum dan mengatakan, “Kue kan bisa dibuat atau dibeli lagi. Sedangkan anak-anak itu, cuma waktu lebaran saja kesini. Setahun dua kali, lebaran idul fitri dan lebaran haji.” Ah, Nyanyak, Nyanyak…

Tulisan ini ditulis untuk memeriahkan #K3BKartinian

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

11 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: