Uncategorized

Ngabuburit Bersama Ayah dan Mama

Sore itu, ayah Naqiya pulang. Naqiya terlihat senang banget. Maklum, hampir enam bulan Naqiya tidak melihat wajah ayah. Selama ini Naqiya cuma mendengar suara ayah saja atau melihat wajahnya sekilas lewat video call. Yup, tanggal 24 Juni kemarin, ayah pulang dari Jerman. Rencananya mama dan Naqiya kepingin menjemput langsung ke bandara Sultan Iskandar Muda, tapi jarak dari Abdya ke Banda Aceh sangat jauh. Tujuh jam perjalanan. Lagian, kata ayah, ayah mau pulang langsung ke Abdya, enggak pake singgah ke tempat Nek Nyak dan Yah Syik lagi ke Selimuem, ayah sudah kangen berat sama Naqiya dan juga mama. Awalnya Naqiya malu-malu waktu digendong ayah, tapi tidak lama kemudian ayah langsung bisa mencuri perhatian Naqiya.

image

Berhubung ayah sudah pulang, setiap sore menjelang berbuka, kami selalu jalan-jalan. Istilah kerennya ngabuburit 🙂 Waktu ayah enggak ada, mama kesulitan membawa Naqiya jalan-jalan pake motor.  Bisa sih ajak Kak Rita juga, itu lho yang jagain Naqiya kalau mama bekerja. Jadi, mama yang bawa motor dan kak Rita yang gendong Naqiya di belakang, tapi waktu ngabuburit itu kan jalanan pasti rame, jadi mama ketakutan.

Ngabuburit pertama kami itu ke Bendungan Krueng Dikila, orang Blangpidie menyebutnya irigasi. Dulu, mama dan Naqiya pernah juga ke sana tiga kali. Pertama bareng Bunda Meri dan Oom Idel, kedua bareng kak Aisyah, dan ketiga dengan kak Vila serta bang Fariz. Tempatnya asyik. Ada sungai yang telah dibendung, pondok kecil, dan tidak jauh dari bendungan ada kebun durian yang sedang berbuah.

Jaraknya tidak jauh dari rumah kami di Meudang Ara. Hanya sekitar sepuluh menit. Belok kiri, belok kanan, sampai deh di Desa Mata Ie, tempat bendungan berada. Dan bendungan ini menjadi salah satu objek wisata di Aceh Barat Daya.

Di Ramadhan, pondok-pondok yang biasanya menjual rujak, mie, dan aneka minuman, tutup semua. Tetapi di depan pondok tersebut ada yang berjualan air tebu dan durian. Para pengunjung terlihat asyik menawar buah berduri itu kepada penjualnya. Sedangkan Naqiya, ayah dan mama lebih senang menikmati aliran sungai yang masih jernih itu.

image

Pergi-pergi enggak lengkap tanpa berfoto. Kalau anak gaul bilang, no pict is hoax. Nah, sebagai bukti kalau kami ke bendungan, foto-foto narsis tetap harus ada. Naqiya jadi bahan rebutan ayah dan mama untuk berfoto. Walhasil, mama yang narsis paling banyak fotonya bersama Naqiya. Kalau ayah, satu saja sudah cukup.

image

Setelah foto-foto, kami pun pulang ke rumah. Tapi sebelumnya tidak lupa mama membeli takjil untuk berbuka puasa nanti.

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

4 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: