Aceh,  Feature,  Indonesia,  Traveling

Nasib Nisan “Batu Aceh” yang Menyedihkan

sebuah nisan yang berbentuk balok dan terdapat ornamen cermin, sulur, dan kaligrafi arab tergelat begitu saja di atas tanah dan patah terkena akar pohon. Lokasi : Lamcot, Darul Imarah, Aceh Besar
sebuah nisan yang berbentuk balok dan terdapat ornamen cermin, sulur, dan kaligrafi arab tergelat begitu saja di atas tanah dan patah terkena akar pohon. Lokasi : Lamcot, Darul Imarah, Aceh Besar

Batu berukiran sulur, flora, dan kaligrafi arab itu tergeletak begitu saja di atas tanah. Di antaranya ada yang telah tertimbun dan menyatu dengan warna tanah. Bentuknya sudah tidak lagi utuh, terlihat beberapa bagian batu yang telah patah dan tersebar di mana-mana, ada juga yang berlumut. Batu itu adalah batu Aceh, nama lain yang disematkan untuk nisan umara dan ulama Aceh tempo dulu. Sampah-sampah plastik dan botol bekas minuman juga berserakan di sana sehingga sulit membedakan apakah tempat tersebut adalah areal pemakaman atau tempat pembuangan sampah.

***

Siang itu, saya dan suami sebenarnya hendak makan siang di sebuah warung yang terletak di Lamcot, Darul Imarah, Aceh Besar. Bang Thunis merekomendasikan tempat tersebut karena dulu beliau pernah KKN (kuliah kerja nyata) di sana. Ia ingin bernostalgia sambil mengisi perut di desa yang terletak berbaatasan dengan kota Banda Aceh.

Sebuah warung di samping meunasah Lamcot adalah tujuan kami. Bangunannya terbuat dari kayu, dindingnya hanya seperempat saja yang tertutup dengan pelepah rumbia, selebihnya dibiarkan terbuka agar udara segar dari sawah di seberang jalan masuk ke dalam warung. Atapnya juga terbuat dari daun yang sama sehingga ketika angin berhembus kencang dedaunan kering itu menimbulkan bunyi “krek-krek”.

Pengunjung warung itu tidak banyak. Maklum, warung nasi di kampung sedikit pembelinya karena masyarakat di sana lebih suka menyantap makanan di rumah sendiri. Yang sering menjadi langganan adalah tukang bangunan yang datang dari luar Aceh dan sedang menyelesaikan sebuah perkantoran yang tidak jauh dari warung.

Bagian belakang warung yang terdapat pepohonan  yang rimbun. Tempat ini juga dimanfaatkan pemilik warung tersebut sebagai tempat duduk pembeli. Tidak peduli kalau sebenarnya tempat tersebut adalah kompleks pemakaman
Bagian belakang warung yang terdapat pepohonan yang rimbun. Tempat ini juga dimanfaatkan pemilik warung tersebut sebagai tempat duduk pembeli. Tidak peduli kalau sebenarnya tempat tersebut adalah kompleks pemakaman

Setelah mengambil sepiring nasi lengkap dengan lauk, saya mengajak Bang Thunis ke meja yang terletak di belakang warung. Letaknya juga lebih tinggi sehingga angin sepoi-sepoi dari persawahan semakin terasa. Kami pun mengambil tempat di meja yang diletakkan tepat di tengah-tengah pepohonan besar nan rimbun. Meja tempat kami meletakkan nasi tidak lain adalah kulkas rusak yang telah beralih fungsi.

Selesai menyantap makanan, pandangan saya tertuju pada sebuah batu yang terletak tidak jauh dari tempat duduk. “Bang, itu nisan kuno!” seruku terkejut.

“Iya! Di sana juga ada nisan. Terus di semak-semak itu juga. Kayaknya tempat kita sekarang kuburan lah,” Bang Thunis ternyata juga baru mengetahui kalau tempat kami berada sekarang adalah kuburan kuno. Bukannya takut, saya malah penasaran dengan batu nisan yang berserakan di sekitar kami.

Batu nisan di antara sampah warung. Tergelatak begitu saja tanpa diketahui dimana tempat asalnya
Batu nisan di antara sampah warung. Tergelatak begitu saja tanpa diketahui dimana tempat asalnya

Di seluruh areal tempat kami berada terdapat nisan “batu Aceh” yang tidak lagi utuh. Ada yang tergeletak begitu saja di akar pepohonan, ada juga yang berukuran besar yang telah roboh dan tertutup tanah. Hanya beberapa batu nisan diletakkan secara terpisah. Tidak jelas alasan dipisahkannya nisan-nisan tersebut.

Batu nisan yang berbentuk balok yang terletak beberapa meter dari pepohonan tempat kami berada
Batu nisan yang berbentuk balok yang terletak beberapa meter dari pepohonan tempat kami berada

Ketika melihat ke bawah bangku tempat saya duduk, lagi-lagi ada pecahan  batu nisan di sana. Di sekitar kandang ayam yang tidak jauh dari tempat kami juga ada. Tidak salah lagi, tempat ini adalah pemakaman kuno yang terbengkalai. Parahnya lagi, pemiliki warung tersebut tidak tahu kalau tempat ia mencari rezeki adalah situs pemakaman kuno.

Sama seperti batu nisan yang pernah saya temui di Kampung Pande, Banda Aceh, terdapat berbagai jenis batu nisan dengan ukiran yang beraneka ragam terpancang di kompleks ini. Ada yang berbentuk balok, pipih bersayap dan pipih. Ornamen atau ukirannya juga beragam, antara lain adalah motif bingkai cermin, tumpal, flora, sulur-suluran, dan kaligrafi.

Melihat kenyataan di kompleks pemakaman Lamcot itu, saya sudah tidak heran lagi. Sangat banyak pemakaman kuno Aceh yang terbengkalai. Kalau pun mendapatkan perawatan, hal itu atas inisiatif pihak keluarga dan sangat sedikit campur tangan pemerintah. Contohnya saja saat saya ke Kampung Pande, beberapa waktu silam. Sangat banyak nisan kuno yang tergeletak begitu saja di tambak ikan dan perumahan warga. Tidak sedikit pula batu-batu hasil kerajinan masyarakat Aceh tempo dulu itu yang dijadikan batu asah pisau dan parang.

Padahal, nisan-nisan tersebut adalah bukti nyata sejarah tempo dulu. Bukti kalau masyarakat Aceh sangat lihai dalam mengukir batu menjadi ukiran atau ornamen yang indah. Bukti nyata bahwa seni “batu Aceh” merupakan suatu tradisi kesenian Islam yang amat berarti bagi seluruh kawasan Nusantara.

Semoga pemerintah Aceh Besar segera memugar kompleks pemakaman di Lamcot  agar tampak jelas kalau tempat tersebut adalah kompleks pemakaman. Batu nisan yang hancur dan tertanam di dalam tanah hendaknya direposisi letaknya. Mungkin untuk mengembalikan ke wujud asli sudah mustahil tetapi setidaknya yang telah tertimbun tanah tidak semakin masuk ke dalam sehingga tidak terlihat lagi. Identifikasi makam juga perlu dilakukan agar kita semua tahu tentang sejarah kebudayaan Islam yang berkembang di Lamcot.

Mungkin pepatah Aceh yang mengatakan ”Mate aneuk meupat jeurat mate adat pat ta mita” (Anak yang meninggal dapat diketahui makamnya, Adat yang hilang hendak dicari kemana) sudah tidak berlaku lagi zaman ini. Sekarang, tidak hanya adat istiadat Aceh yang mulai mati, makam pendahulu yang menjadi bukti sejarah kemegahan Aceh masa lalu kini sudah sulit ditemukan. Saya yakin, jika kita hanya diam saja melihat bukti sejarah yang kian hancur dan hilang, kelak anak cucu kita akan menganggap bahwa sejarah Aceh yang kita ceritakan pada mereka hanyalah dongeng belaka.[]

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

15 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: