Uncategorized

Mengais Rezeki di Gerbong Kapitalis

 

Lelaki tua itu terus membereskan sayur dagangannya. Sesekali ia menyeka keringat di dahi yang mengucur dengan tangannya. Kemudian ia duduk dan menunggu pembeli datang. Pagi itu, hari Minggu (18/1/09), trotoar tempat ia menjajakan dagangannya tampak sepi. Begitu juga dengan badan jalan, hanya ada satu-dua kendaraan yang berlalu lalang.

“Hari Minggu begini memang sepi. Siang pun masih tetap sepi,” ujarnya dalam Bahasa Aceh yang sangat kental sambil mengambil beberapa daun melinjo tua dan kemudian membuangnya ke dalam kantong plastik yang memang telah disediakannya.

Aku hanya mengangguk saja. Dalam diam aku melihat sayur dagangannya. Daun melinjo, melinjo, asam sunti, sirih, dan daun jeruk berjejeran di atas plastik biru berukuran setengah meter. Semuanya adalah sayuran khas Aceh.

“Abdul Wahab,” jawab lelaki itu ketika kutanyakan namanya. Sambil tersenyum ramah, ia menjelaskan asal usulnya. Delapan puluh tahun silam ia lahir di Lambaro Angan, sebuah desa di Kecamatan Darussalam, Aceh Besar. “Watee jameun Belanda, lon ikot prang chit,” paparnya dengan semangat.

Kerutan di wajah, gigi-geligi yang telah tanggal, uban yang telah tumbuh menutupi batok kepala, dan tubuh yang semakin ringkih membuktikan bahwa usianya telah senja. “Saya telah jualan sayur sejak Jepang telah angkat kaki dari Aceh. Waktu itu saya jualannya di Pasar Peunayong bersama istri sampai musibah tsunami tahun 2004 lalu,” Pak Abdul memulai kisahnya sebagai pedagang sayur, “setelah tsunami, saya pindah ke sini. Sedangkan istri tetap di Peunayong.”

Bapak dari lima orang anak itu kemudian menunjuk ke bangunan di belakangnya. Bangunan itu begitu megah dengan tulisan makanan khas Italia Pizza Hut di pamfletnya. “Dulu waktu saya mulai jualan di sini, toko pizza ini belum ada,” jelasnya, “sengaja saya pindah ke sini karena di Peunayong sudah banyak penjual sayur yang lain. Setahun yang lalu, setelah rumah kami selesai dibangun di Lambaro Angan, saya menyuruh istri saya untuk di rumah saja. Biar saya saja yang mencari rezeki. “Aneuk mit pih ka leuh meukawen mandum.”

Kehadiran Abdul Wahab yang berprofesi sebagai penjual sayur di trotoar jalan Simpang Lima memang sangat kontras dibandingkan dengan kondisi sekitar, sehingga menjadi pusat perhatian pengguna jalan. Betapa tidak, di tengah maraknya para peminta-minta yang memadati kawasan Simpang Lima dan semakin merajalelanya kapitalisme yang tampak jelas dari bangunan-bangunan yang lebih “wah” dibandingkan bangun-bangunan lain dengan menawarkan berbagai macam jenis makanan cepat saji, namun lelaki itu tetap saja mencoba bertahan.

***

Matahari semakin terik pagi itu. Jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 09.30 WIB. Itu artinya sudah dua setengah jam lebih Abdul Wahab menjajakan dagangannya. Namun, belum satu pun pembeli yang nongol. Setelah selesai shalat subuh lelaki paruh baya dengan peci hitam yang melekat di kepala itu telah beranjak dari rumahnya menuju Simpang Lima. Ia harus menghabiskan waktu selama satu jam lebih untuk untuk sampai ke tujuan dengan menggunakan labi-labi.

“Biasanya berapa banyak sayur yang terjual sehari?” aku kembali bertanya.

Lagi-lagi ia tersenyum sambil memamerkan gusinya yang tak lagi bergeligi. “Kadang-kadang hana ureung bloe, neuk!” jawabnya tetap tersenyum.

“Tapi, tiap hari pasti ada orang yang ngasih. Bahkan pernah sehari sampai seratus ribu,” jelas lelaki dengan postur tubuh agak sedikit pendek itu seolah mengetahui keherananku. ”Waktu megang, ada saja orang yang memberikan sedekah. Ada yang ngasih kain sarung, beras, gula, bahkan uang.”

Melihat dagangan yang ia jual, pastinya orang-orang lebih memilih ke pasar untuk membeli sayur-mayur yang lebih lengkap dan banyak pilihannya. Namun, semangatnya yang membara membuat orang tak segan-segan untuk memberinya puluhan ribu rupiah. “Dari pada ngasih ke pengemis,” ucap Ade, seorang mahasiswa ketika kutanyakan alasannya.

“Saya udah tua, Nak! Mau ke sawah sudah tidak sanggup lagi. Dari pada hanya diam di rumah, mending saya mencari rezeki di sini. Yang jelas saya tidak mau mengemis. Hana guna nyan, Neuk! Peumale droe mentong.” Setidaknya lelaki tua yang berjualan di trotoar itu telah berusaha untuk mencari rezeki. Bukankah tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah?

“Pergilah ke jalan yang lurus, Nak! Beu meutuah beh,” pesannya kepadaku ketika aku berpamitan.

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

18 Comments

  • jufrizal

    mantap tu feature kamu tu za!! coba aku edit dua kalimat ya!! nah hasilnya seperti di bawah ini.

    lelaki itu bergegas menjajakan sayur dagangannya. Sesekali dia menyeka peluh didahinya.

    gunakan kalimat aktif ya za, biar lebih hidup bacaannya. dan biar ada unsur sastranya, ganti kata sifat yang lazim digunakan dengan majas juga boleh tu. semakin singkat tiap kalimatnya, akan lebih

  • KOPilemon

    …..mending saya mencari rezeki di sini. Yang jelas saya tidak mau mengemis. Hana guna nyan, Neuk! Peumale droe mentong…”I Like that sentence..”

    tidak ada gunanya ber diam diri..kita harus bekerja dan berusaha, jangan bermalas diri…tuh peyakit org Aceh yg sekarang banyak terinfeksi d pikran orang aceh…peu na ubat laen…..HEEEK Deehhm 😛

    :D…go to spirit Pren..yoyoyo!!!

  • ijal

    untuk apa komentar banyak2..
    apa liza mau jadi “kapitalis komentar” yang sukanya mengakumulasi komentar..beda tipis sama “kapitalis” yang sukanya mengakumulasi modal :p

  • liza fathiariani

    @ jufrizal : makasih banyak ya jufrizal, liza mau belajar banyak lagi tentang penulisan feature. Insyaallah ntar liza kirim ke kamu.. sekali lagi makasih

    @ kopilemon : wah gimana ya rasanya kopi +lemon? nikmat ngga? iya memang, rakyat kita udah keanakan mengemis, meminta-minta belas kasihan orang, padahal tenaga mereka masih cukup kuat..

    @ ijal : makasih ya jaal, mau niru2

  • ijal

    ijal = ijal
    keenan = keenan,
    ga da tu ijal = keenan

    jangan kek gitu wak, ijal jadi ikut sedih ntar..klo tulisan ni jelek..artinya tulisan ijal jg jelek..soalnya kan ijal yg edit..

    tapi tulisan ni emang jelek..mending nulis dogeng sana gih..wakaka..

  • ijal

    wah..ga jadi jelek tulisan ni..soalnya dapat juara umum wak..eh za, jangan lupa makan2 tu..kan ada andil ijal juga tu walau sedikit :p

  • adnan

    tulisannya bagus banget, kritis dan humanis. Selamat atas kemenangannya, jangan cepat berpuas diri, teruslah menulis, jangan takut salah, karena nilai dari content sebuah karya tulis itu hakikatnya relatif, belum tentu kata pakar bahasa atau sastrawan sekalipun selalu benar, semuanya relatif, tergantung dari sudut pandang mana kita menilai karya orang. so just read&write…:)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: