Feature,  Traveling

Melihat Mesjid Cheng Ho Dari Dekat

Salah satu keinginan saya saat berkunjung ke Palembang adalah melihat Mesjid Cheng Ho secara langsung. Yup, siapa yang tidak mengenal Laksamana yang berasal dari negeri Tiongkok ini. Di Aceh saja namanya begitu terkenal berkat lonceng Cakradonya yang ia hadiahkan kepada Kesultanan Aceh. Dan, di bumi Sriwijaya ini, kiprah Cheng Ho juga sangat membekas diingatan masyarakatnya.

Seperti yang kita ketahui, penyebaran Islam tidak hanya dilakukan oleh bangsa Arab dan India melainkan juga oleh Bangsa Tionghoa. Begitupun dengan Palembang, agama Isla disebarkan oleh pedagang dari Arab dan Cina. Salah satu bukti Islam disebarkan oleh bangsa Cina adalah  kedatangan Chengho. Ya, Kedatangan Laksamana Cheng Ho bersama armadanya ke Palembang, selain untuk membantu Kerajaan Sriwijaya dalam menumpas perompak yang sangat meresahkan warga, juga untuk menyebarkan agama Islam. Untuk mengingat jasa Cheng Ho pengurus Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Sumsel, dan serta tokoh masyarakat Tionghoa di sekitar Palembang memprakarsai pembangunan mesjid yang diberinama Mesjid Muhammad Cheng Ho ini.

Ketika bertemu dengan Kak Mita, sahabat maya asli Kota Empek-empek, yang baru bertemu setelah menjalin persahabatan selama empat tahun lebih lewat media sosial, saya langsung memintanya untuk membawa saya ke mesjid yang selama ini hanya saya tahu lewat tayangan televisi. Hari telah senja ketika motor yang dikemudikan Kak Mita melewati Jembatan Ampera dan memasuki kompleks perumahan di Jakabaring. Ya, di sanalah Mesjid itu dibangun di atas tanah seluas 5.000 meter.

Karena sudah lama tidak ke Mesjid Cheng Ho, Kak Mita mulai lupa arah. Lebih-lebih pembangunan di daerah Jakabaring sedang pesat-pesatnya dilakukan oleh pemprov setempat. Berbekal ingatan lama, akhirnya kami pu tiba di Mesjid yang arsitekturnya bangunannya merupakan perpaduan antara Cina, Arab dan Palembang.

Hari telah magrib ketika kami tiba. Sungguh suatu kebetulan, ketika. Saya dan Kak Mita melangkah ke dalam mesjid, sebuah spanduk ucapan selamat datang terpajang di pintu gerbang. Eits, spanduk itu bukan untuk menyambut kedatangan saya lho. Puluhan jamaah berpakaian putih berbondong-bondong memasuki halaman. Ternyata ada Syaikh Ali Jabeer di sana.

Memasuki halaman mesjid mengingatkan saya pada bangunan-bangunan yang ada di negeri Cina. Warnanya pun khas yaitu merah terang dan hijau giok. Arsitektur Mesjd Cheng Ho Sangat menarik di mata lebih-lebih bagi pendatang seperti saya.


Saya dan Kak Mita pun ikut melaksanakan shalat magrib di Mesjid Cheng Ho. Ketika memasuki bagian dalam mesjid, kami diarahkan untuk naik ke lantai dua. Ternyata, di lantai dasar adalah tempat jamaah pria, sedangkan wanita melaksanakan shalat di lantai dua. Beragam etnis terlihat di sana, seperti Tionghoa, Melayu, dan India. Mereka berinteraksi dengan penuh keakraban. Ternyata benar apa yang saya baca selama ini, mesjid Cheng Ho adalah saksi bisu betapa rukunnya  masyarakat Palembang yang multicultural.

Setelah menunaikan shalat magrib, kami langsung keluar dan kembali menikmati keindahan bangunan yang didirikan tahun 2003 itu. Di saat yang sama, para jamaah shalat magrib itu hanyut dalam ceramah yang disampaikan oleh Syaikh Ali. Sebenarnya kepingin juga tetap duduk di dalam mesjid dan mendengarkan ceramah, tapi hari semakin malam dan jarak Jakabaring ke tempat penginapan saya lumayan jauh.

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

18 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: